Netanyahu Serang Pangkalan Udara di Suriah, Tuduh Turki Ancaman Israel
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan serangan udara ke Pangkalan Udara Abu al-Duhur di Suriah, menuding Turki berencana menempatkan pasukan militer di lokasi tersebut yang dianggap ancaman bagi keamanan Israel. Serangan ini terjadi menjelang pemilu Israel Oktober 2026.
Israel mengklaim intelijen miliknya menunjukkan Ankara akan mengerahkan personel, drone, dan sistem pertahanan udara di pangkalan tersebut, yang dapat menghambat kebebasan bergerak Israel di wilayah udara Suriah, demikian dilaporkan CNN Indonesia dan Suara.com.
Pesawat Israel melancarkan delapan serangan pada landasan pacu Pangkalan Udara Abu al-Duhur, menyebabkan kerusakan infrastruktur. Namun, Turki membantah keras klaim penempatan pasukan militer di lokasi tersebut dan menyebut serangan Israel sebagai tindakan ceroboh yang mengancam stabilitas kawasan, menurut CNBC Indonesia dan Detik.com.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan, "Israel tidak akan mengizinkan pihak mana pun yang mengancam keamanan kami," sementara pemerintah Turki menegaskan akan terus mendukung upaya Suriah untuk mewujudkan perdamaian dan stabilitas.
Netanyahu juga memasang baliho bergambar empat pemimpin yang dianggap musuh Israel, termasuk Presiden Turki Erdogan dan Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei, sebagai bagian dari kampanye pemilihan umum yang akan berlangsung Oktober, menurut CNN Indonesia.
Utusan AS untuk Suriah dan Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barrack, memperingatkan bahwa serangan Israel dapat memicu konfrontasi militer langsung antara Israel dan Turki, tetapi menegaskan Turki tidak berniat menyerang Israel, seperti diberitakan CNBC Indonesia.
Media Israel Haaretz mengkritik Netanyahu atas langkahnya yang dinilai membuka front baru konflik di Suriah di tengah upaya stabilisasi internasional, dan menilai serangan Israel berisiko menyeret negara itu ke perang dengan anggota NATO seperti Turki.
Suriah menyampaikan keberatan melalui PBB, menyatakan serangan Israel menghambat proses stabilisasi dan meningkatkan ketegangan di kawasan, menurut CNBC Indonesia.
Pengamat keamanan Amos Harel menilai Netanyahu menggabungkan strategi keamanan agresif dengan kepentingan politik domestik menjelang pemilu. "Netanyahu dikenal percaya bahwa keadaan darurat keamanan adalah pilihan terakhir yang bisa mengubah keadaan dan meningkatkan peluangnya untuk bertahan dalam pemilihan ini," ujar Harel seperti dikutip Suara.com.
Rivalitas antara Netanyahu dan Erdogan semakin memanas, dengan Netanyahu menyebut Erdogan "tiran anti-semit" dan Erdogan menuduh Israel melakukan genosida di Gaza, memperburuk hubungan kedua negara.
Tokoh oposisi Israel mengkritik keras serangan militer ini sebagai provokatif dan sarat agenda politik. Mantan Perdana Menteri Ehud Barak menuding Netanyahu sengaja menciptakan krisis untuk menakut-nakuti pemilih, sementara Yair Lapid menyatakan, "Di Timur Tengah, menyerang saat diperlukan itu penting. Namun jika Anda sudah menyerang, tetaplah diam."
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow