Morgan Stanley Sebut Emas Berada Dalam Tren Bull Market 25 Tahun

Smallest Font
Largest Font

Bank investasi Morgan Stanley menilai emas berada dalam tren pasar bergairah atau bull market selama 25 tahun dan kian relevan sebagai aset defensif saat saham serta obligasi tidak lagi memberikan perlindungan optimal, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Chief US Equity Strategist sekaligus Chief Investment Officer Morgan Stanley, Mike Wilson, menyampaikan pergeseran karakteristik portofolio tradisional menjadi tantangan nyata bagi para investor pascapenurunan pasar pada 2022.

Penurunan bersamaan pada saham dan obligasi sepanjang 2022 menyebabkan portofolio tradisional 60/40 kehilangan fungsi diversifikasinya. Oleh karena itu, para pelaku pasar membutuhkan instrumen pelindung nilai baru.

"Emas telah menjadi bull market selama 25 tahun," kata Mike Wilson, Chief US Equity Strategist Morgan Stanley.

Wilson mengimbau investor jangka panjang untuk menghindari keputusan emosional seperti membeli saham di puncak harga atau menjualnya saat titik terendah. Ia tetap menyarankan metode dollar-cost averaging serta diversifikasi portofolio secara konsisten.

Di tengah peningkatan korelasi antar-aset yang mengurangi manfaat diversifikasi alami, Wilson menyarankan investor mempertimbangkan emas dan Bitcoin guna mengantisipasi risiko inflasi. Ia juga merekomendasikan pengurangan durasi instrumen pendapatan tetap untuk menekan risiko suku bunga.

"Kami sangat mendukung emas, bukan sebagai instrumen yang menghasilkan imbal hasil, tetapi sebagai aset defensif," ujar Wilson.

Selain itu, Wilson mencermati adanya rotasi besar ke sektor komoditas pada 2026 yang didorong oleh kebijakan likuiditas bank sentral. Rotasi tersebut bergerak dari saham emas dan perak menuju logam tanah jarang, energi, hingga semikonduktor.

"Semua itu memiliki satu kesamaan. Mereka adalah komoditas," kata Wilson.

Strategis komoditas Morgan Stanley, Amy Gower dan Martijn Rats, mengungkapkan bahwa pembelian emas oleh bank sentral berpotensi menguat kembali. Namun, arus dana pada exchange-traded fund (ETF) masih sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga, imbal hasil riil, dan pergerakan dolar AS.

Morgan Stanley memproyeksikan target harga emas berada pada kisaran US$ 5.200 per ons troi pada paruh kedua 2026, meskipun pergerakannya dibayangi potensi penundaan pemangkasan suku bunga oleh The Fed serta dinamika konflik geopolitik.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed