Harga Emas Dunia Tembus US$ 4.400 Per Troy Ounce
Lonjakan harga emas dunia berhasil menembus level US$ 4.400 per troy ounce pada Selasa (11/8/2026). Komoditas logam mulia ini mencatatkan kenaikan sebesar 0,24 persen hingga menyentuh angka US$ 4.400,71 per troy ounce, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.
Penguatan harga ini didorong oleh menguatnya ekspektasi penurunan kenaikan suku bunga serta maraknya aksi pemborongan emas oleh sejumlah bank sentral global. Di samping itu, tren positif ini melanjutkan penguatan mingguan terbaik komoditas tersebut sejak awal tahun.
Analis dari Heraeus memberikan tanggapan terkait performa signifikan pasar logam mulia pada pekan sebelumnya yang berhasil memecahkan rekor pergerakan harga.
"Harga emas naik lebih dari 7% pekan lalu, menembus kisaran harga yang bertahan sejak pertengahan Juni dan menutup perdagangan di atas level US$ 4.300 per troy ounce," kata para analis di Heraeus.
Peningkatan tersebut dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap pergerakan harga komoditas energi global dan proyeksi kebijakan moneter.
"Kenaikan ini terjadi di tengah sinyal bahwa kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz tampaknya akan segera diumumkan (kembali). Hal ini memicu lonjakan harga logam mulia secara menyeluruh, seiring dengan penurunan harga minyak dan ekspektasi suku bunga riil," papar para analis di Heraeus.
Penurunan harga minyak mentah Brent di bawah US$ 85 per barel pekan lalu, setelah sempat menyentuh US$ 100 per barel pada 23 Juli 2026, turut mengurangi probabilitas pengetatan suku bunga oleh The Fed menjelang pertemuan FOMC pada 19 September mendatang.
"Meskipun masih ada ekspektasi setidaknya satu kali kenaikan suku bunga tahun ini, jika Selat Hormuz segera dibuka dan harga minyak terus turun, tingkat harga konsumen yang lebih rendah dapat mengurangi urgensi pengetatan kebijakan moneter," kata para analis di Heraeus.
Pihak Heraeus juga menyoroti peningkatan volume pembelian emas oleh sektor resmi pada bulan Juni, di mana Polandia menambah 19 ton, China 15 ton, Uzbekistan 9 ton, serta Singapura dan Kazakhstan masing-masing membeli 7 ton.
"Polandia dan China tetap menjadi pembeli emas terbesar, masing-masing menambah cadangan sebesar 19 ton dan 15 ton. Uzbekistan menambah 9 ton, sementara Kazakhstan dan Singapura masing-masing membeli 7 ton emas. Yordania dan Republik Ceko juga meningkatkan kepemilikan emas," ujar para analis di Heraeus.
Berbeda dari tren pembelian tersebut, Rusia dan Turki melepas kepemilikan emas mereka masing-masing sebanyak 9 ton dan 2 ton pada periode yang sama sebagai bagian dari langkah diversifikasi cadangan.
"Pembelian bersih yang tercatat mencapai 102 ton pada semester pertama 2026 meskipun terdapat penjualan gabungan sebesar 127 ton oleh Turki dan Rusia, yang menunjukkan bahwa permintaan dari sektor resmi tetap menjadi sumber dukungan penting bagi harga emas," pangkas para analis di Heraeus.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow