Masa Depan Saham Nikel di Tengah Tren Pelemahan Harga Global
Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah 16 Jul 2026 | 19:18 WIB
JAKARTA, investor.id - Ketika harga nikel global belum juga keluar dari tren pelemahan, sebagian investor mulai mempertanyakan apakah era keemasan saham-saham nikel telah berakhir. Namun, pandangan itu justru berlawanan dengan penilaian sejumlah analis.
Di tengah tekanan harga komoditas dan pergerakan yang cenderung datar, sektor nikel dinilai memasuki fase konsolidasi yang dapat menjadi fondasi bagi siklus pertumbuhan berikutnya.
Dalam riset terbarunya, Kamis (16/7/2026), Indo Premier Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor logam dalam riset terbarunya per 15 Juli 2026.
Bahkan, perusahaan efek tersebut tetap menempatkan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebagai pilihan utama di sektor pertambangan logam.
Optimisme tersebut muncul di tengah berbagai sentimen yang belum sepenuhnya kondusif. Harga bijih nikel saprolit kadar 1,6% kini telah turun di bawah US$ 70 per wet metric ton (wmt), jauh lebih rendah dibandingkan kisaran US$ 80/wmt beberapa bulan sebelumnya.
Pelemahan ini mengikuti turunnya harga nikel di London Metal Exchange (LME), meningkatnya pasokan bijih setelah musim hujan berakhir, serta keterbatasan kemampuan smelter Nickel Pig Iron (NPI) menyerap kenaikan harga bahan baku sebelumnya.
Indo Premier memperkirakan tekanan terhadap harga jual rata-rata (average selling price/ASP) bijih nikel masih berlanjut pada kuartal III-2026.
Kombinasi penguatan indeks dolar Amerika Serikat (DXY), ketidakpastian tambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), serta bertambahnya pasokan bijih diperkirakan masih akan membatasi ruang kenaikan harga. Namun, di balik tekanan jangka pendek tersebut, terdapat sejumlah katalis yang justru membuat prospek sektor ini tetap menarik.
Berbeda dengan dua tahun terakhir ketika industri diwarnai lonjakan harga maupun kekhawatiran kelebihan pasokan, kondisi saat ini dinilai lebih mencerminkan proses normalisasi.
Pemerintah juga masih berhati-hati dalam memberikan tambahan kuota RKAB. Berdasarkan sinyal dari Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, tambahan kuota hanya akan disesuaikan dengan kebutuhan riil smelter sehingga risiko oversupply tetap terkendali.
Dengan posisi RKAB nasional sekitar 260–270 juta wmt, Indo Premier memperkirakan tambahan kuota yang kemungkinan disetujui hanya sekitar 30–40 juta wmt.
Di antara emiten yang dicakup dalam riset, Vale Indonesia (INCO) mengajukan tambahan kuota sekitar 12 juta wmt, sedangkan Merdeka Battery Materials (MBMA) mengusulkan tambahan sekitar 7 juta wmt.
Tambahan produksi tersebut terutama akan diarahkan untuk memasok proyek hilirisasi baru, yakni Pomalaa HPAL milik INCO dan proyek SLNC milik MBMA. Artinya, tambahan produksi bukan semata-mata untuk dijual sebagai bijih mentah, melainkan menjadi bagian dari pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Revisi Harga Acuan Jadi Angin Segar
Katalis lain yang dinantikan pelaku industri adalah revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) untuk bijih limonit.
Saat ini pelaku industri menilai formula HPM belum sepenuhnya mencerminkan harga transaksi aktual yang berada di kisaran US$ 25–30 per wmt, lebih rendah dibandingkan kisaran transaksi sebelumnya sekitar US$ 40–45 per wmt.
Apabila pemerintah merevisi formula tersebut, beban royalti maupun pajak penghasilan badan (corporate income tax/CIT) atas penjualan bijih limonit diperkirakan akan menurun.
Kondisi tersebut akan menjadi katalis positif terutama bagi perusahaan yang memiliki operasi limonit terintegrasi seperti INCO, MBMA, dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) yang kini semakin agresif membangun portofolio bisnis nikel.
Menariknya, ketika harga komoditas masih berada dalam tekanan, sejumlah emiten justru mulai menunjukkan perbaikan fundamental. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat salah satu kinerja paling impresif pada kuartal I-2026. Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$ 455,1 juta, meningkat 24% dibandingkan periode sama tahun lalu.
EBITDA melonjak hingga 361% menjadi US$ 143 juta, sementara laba bersih konsolidasian mencapai US$82 juta, berbalik signifikan dibandingkan hanya US$ 6 juta pada kuartal I-2025. Peningkatan tersebut ditopang oleh naiknya volume bijih nikel, harga jual yang lebih baik, serta membaiknya margin Nickel Pig Iron (NPI).
Sementara itu, Harum Energy (HRUM) juga mulai menikmati kontribusi yang semakin besar dari bisnis nikel. Pada kuartal I-2026, HRUM membukukan pendapatan sebesar Rp5,83 triliun, naik 17,5% secara tahunan. Laba bersih meningkat menjadi Rp150,6 miliar, dibandingkan Rp92,4 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Perbaikan tersebut menunjukkan diversifikasi bisnis dari batu bara menuju mineral mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan.
Di sisi lain, perhatian investor kini juga tertuju kepada Vale Indonesia (INCO) yang sedang memasuki fase transformasi besar melalui pembangunan proyek HPAL Pomalaa bersama para mitra strategis.
Meskipun proyek tersebut masih membutuhkan investasi besar dalam jangka pendek, pasar menilai potensi peningkatan volume produksi limonit dan produk baterai akan menjadi sumber pertumbuhan laba baru dalam beberapa tahun mendatang. Prospek tersebut dinilai semakin menarik apabila revisi formula HPM benar-benar direalisasikan pemerintah.
Hilirisasi Masih Menjadi Cerita Utama
Editor: Erta Darwati
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Jumat, 17 Juli 2026
IHSG Rawan Koreksi, tapi 6 Saham Punya Potensi Cuan
MDKA Ada Penggerak, Muncul Target Harga
MDKA Jadi Sorotan: Prospek Terangkat, Target Harga Melonjak
Asing Mendadak Bergeliat di Saham MBMA
Market 3 menit yang lalu Saat Harga Nikel Lesu, Saham Ini Justru Masih Layak Diburu Indo Premier Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor logam dalam riset terbarunya per 15 Juli 2026.
National 4 menit yang lalu Bahlil Pastikan Pembebasan Lahan Blok Masela Gunakan Skema Ganti Untung Bahlil menjamin pembebasan lahan Blok Masela memakai skema ganti untung dan tetap melindungi hak-hak masyarakat adat.
Lifestyle 14 menit yang lalu Messi: Spanyol Tim Hebat, tetapi Argentina Punya Kesabaran dan Mental Juara Messi memuji kualitas Spanyol, tetapi yakin kesabaran dan mental juara Argentina menjadi modal mempertahankan gelar Piala Dunia.
Market 21 menit yang lalu Prediksi IHSG dan Rekomendasi Saham Jumat, 17 Juli 2026 Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan, Jumat (17/7/2026).
Macroeconomy 38 menit yang lalu Proyek LNG Abadi Masela Berpotensi Sumbang Pendapatan Negara US$ 37,85 Miliar Proyek LNG Abadi Masela diproyeksikan menghasilkan pendapatan negara US$ 37,85 miliar hingga 2055 dan memperkuat ekonomi nasional.
Market 39 menit yang lalu Emas Antam (ANTM) Lebih Tangguh daripada Emas Dunia, Ini Penjelasan Pakar Harga emas Antam lebih tangguh daripada emas dunia. Pakar ungkap pelemahan rupiah jadi penopang dan peluang akumulasi
Tag Terpopuler
Terpopuler
Inggris vs Argentina: Kabar Tim, Prediksi Skor dan Susunan Pemain
Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah 16 Jul 2026 | 19:18 WIB
Jika beberapa tahun lalu investor membeli saham nikel semata karena berharap harga komoditas naik, kini cerita investasinya mulai berubah.
Fokus industri telah bergeser menuju hilirisasi. Pemerintah terus mendorong pembangunan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL), smelter, hingga rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Dengan demikian, nilai tambah tidak lagi hanya berasal dari penjualan bijih mentah, melainkan dari produk antara seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nikel matte, hingga material baterai.
Transformasi inilah yang membuat analis tetap mempertahankan pandangan positif terhadap sektor, meski siklus harga komoditas sedang melemah. Indo Premier menilai tekanan harga nikel saat ini lebih bersifat siklikal daripada struktural.
Di sisi lain, risiko regulasi mulai mereda, sementara inflasi Amerika Serikat diperkirakan hanya bersifat sementara sehingga prospek harga komoditas dalam jangka menengah hingga panjang masih cukup menjanjikan.
Atas dasar itu, perusahaan efek tersebut kembali menegaskan rekomendasi overweight untuk sektor logam.
MDKA dinilai memiliki potensi pemulihan profitabilitas, sedangkan INCO dipandang berpeluang mencatat pertumbuhan laba per saham (EPS) sekaligus memperoleh re-rating valuasi apabila revisi formula HPM direalisasikan dan perseroan mulai memasok bijih limonit ke proyek Pomalaa HPAL.
Bagi investor, kondisi saat ini mungkin bukan fase yang menawarkan lonjakan harga nikel dalam waktu singkat. Namun justru ketika harga komoditas bergerak datar dan sentimen pasar melemah, sektor ini mulai memperlihatkan fondasi yang lebih kuat.
Kinerja operasional sejumlah emiten membaik, proyek hilirisasi terus berjalan, dan dukungan regulasi masih terjaga.
Dalam perspektif jangka menengah, kombinasi faktor-faktor tersebut menjadi alasan mengapa saham-saham nikel masih layak dipandang overweight, meski perjalanan menuju siklus kenaikan berikutnya kemungkinan tidak berlangsung secepat yang diharapkan pasar.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow