Konflik Teluk Oman dan Laut Merah Melonjak akibat Serangan Kapal
Eskalasi militer di Teluk Oman dan Selat Bab el-Mandeb meningkat pada Rabu (12/8/2026) setelah kelompok Houthi dan militer Amerika Serikat melancarkan serangan terpisah terhadap kapal komersial, sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Insiden ini memicu lonjakan harga minyak Brent sebesar 1,4 persen menjadi US$ 88,91 per barel.
Kementerian Perhubungan Yaman melaporkan empat anak buah kapal tewas akibat serangan kelompok Houthi terhadap kapal kargo Tihamah di Selat Bab el-Mandeb. Insiden tersebut menjadi kasus kematian pertama pada pelayaran komersial sejak konflik kawasan meluas.
Selain itu, dua petugas Penjaga Pantai Yaman dari kelompok anti-Houthi gugur dalam upaya penyelamatan. Di sisi lain, Komando Pusat AS mengonfirmasi helikopter MH-60 menembakkan dua rudal Hellfire ke kapal berbendera Panama di lepas pantai Pakistan karena melanggar blokade pelabuhan Iran.
Pemerintah Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sebelum tuntutannya dipenuhi oleh pihak Washington. Selat tersebut merupakan jalur distribusi energi vital yang melayani hampir 20 persen pasokan minyak mentah dunia.
Pejabat tinggi keamanan Iran Mohsen Rezaei menjelaskan syarat pembukaan jalur logistik tersebut mencakup pencairan aset serta penghentian konflik kawasan.
"Selama Amerika tidak mengubah perilakunya dan tidak menerima syarat-syarat Iran, Selat Hormuz tidak akan dibuka," ujar Mohsen Rezaei, Pejabat Tinggi Keamanan Iran.
Penutupan jalur pelayaran utama ini terjadi setelah serangkaian aksi saling serang antara armada militer AS dan pasukan Iran sejak akhir Februari 2026. Penasihat Komando Pengawal Revolusi Iran mengindikasikan kesiapan pasukannya untuk memperluas jangkauan operasi militer.
"Kami harus mampu memindahkan operasi ke tanah musuh kapan pun diperlukan dan diperintahkan. Ini adalah doktrin ofensif yang harus dicapai," kata Mohammad Reza Naqdi, Penasihat Komando Pengawal Revolusi Iran.
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pernyataan terkait posisi tawar pemerintahannya dalam menghadapi sikap keras Tehran di kawasan tersebut.
"Saya berada dalam posisi bernegosiasi. Mereka adalah negosiator yang sangat licik," ujar Donald Trump, Presiden AS.
Trump juga mengklaim bahwa pihak militer Amerika Serikat memegang kendali penuh atas navigasi di wilayah perairan strategis tersebut saat memberikan keterangan kepada awak media.
"Kami fully menguasai Selat Hormuz ... Tidak ada orang lain, hanya kami. Iran tidak lagi menjadi gertakan (bully) di Timur Tengah," kata Donald Trump, Presiden AS.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow