Donald Trump Beri Isyarat Kesepakatan Damai AS dan Iran Kandas
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan kesepakatan damai dengan Iran kemungkinan besar telah kandas setelah militer AS meluncurkan serangan balasan keras ke wilayah Iran pada Rabu (8/7/2026).
Ketegangan baru di Timur Tengah ini memicu kekhawatiran global karena berpotensi mengganggu jalur perdagangan minyak dunia, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Kamis (9/7/2026).
Komando Sentral AS (Centcom) mengonfirmasi serangan udara tersebut menyasar sekitar 170 target militer untuk memangkas kemampuan Iran dalam mengganggu kapal komersial di Selat Hormuz, setelah tiga kapal dagang diserang pada Selasa (7/7/2026).
Selain tindakan militer, Departemen Keuangan AS juga bertindak tegas dengan mencabut kembali izin ekspor minyak yang sebelumnya sempat diberikan kepada pihak Iran.
"Saya katakan kita membalas mereka 20 banding satu. Setiap kali mereka menyerang kita, kita akan membalas 20 kali lipat, dan itu sudah kita lakukan kemarin malam. Mereka melakukan perlawanan kecil hari ini, tapi itu hanya efek dari serangan semalam. Ketika mereka memukul, kita membalas jauh lebih keras," ujar Trump, Presiden AS.
Trump merespons secara diplomatis saat ditanya oleh wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One mengenai potensi kembalinya perang terbuka berskala penuh.
"Saya tidak tahu," kata Trump, Presiden AS.
Ia meyakini bahwa militer AS akan meraih kemenangan secara cepat jika perang kembali pecah karena kondisi kekuatan militer lawan yang dinilai sudah melemah.
"Militer mereka hampir tidak punya apa-apa lagi yang tersisa, dan mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Mereka menelepon beberapa saat lalu. Mereka sangat butuh kesepakatan itu.
Hanya saja, saya tidak tahu apakah mereka layak atau akan menghormati perjanjian tersebut. Itulah masalahnya," tambah Trump, Presiden AS.
Pernyataan lain mengenai penolakan untuk melanjutkan komunikasi dengan Iran juga dilontarkan Trump saat menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, bersama Kepala NATO Mark Rutte.
"Saya pikir kesepakatan itu sudah berakhir. Saya tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Bagi saya, ini sudah selesai. Negosiator kami ingin damai, tapi menurut saya berurusan dengan Iran hanyalah buang-buang waktu," cetus Trump, Presiden AS.
Di sisi lain, pihak Pemerintah Iran langsung merespons tindakan pengeboman tersebut dengan melayangkan protes resmi melalui saluran diplomatik mereka.
"Kementerian Luar Negeri menegaskan tekad Republik Islam Iran untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas wilayah, serta akan menghukum para agresor," bunyi pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran.
Dampak dari eskalasi konfrontasi geopolitik ini langsung menyebabkan harga minyak mentah dunia merangkak naik pada Kamis pagi.
Minyak mentah Brent berada di atas US$ 78 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan pada level US$ 73,55 per barel akibat kekhawatiran hambatan di Selat Hormuz.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow