KAI Bangun 3.784 Unit Rusun MBR di Manggarai untuk Gaji Maksimal Rp14 Juta
PT Kereta Api Indonesia (Persero) membangun rumah susun masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebanyak 3.784 unit yang terbagi dalam delapan tower di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta Selatan.
Proyek hunian vertikal ini menempel langsung dengan area stasiun dan memiliki empat tipe unit, yaitu tipe studio satu kamar, tipe 36 dua kamar, tipe 45 tiga kamar, serta tipe 52. Setiap tower dirancang setinggi 24 lantai yang terbagi menjadi Blok F dan Blok G.
Berdasarkan Peraturan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Nomor 5 Tahun 2025, wilayah Jabodetabek masuk dalam Zona 4. Ketentuan ini menetapkan batas gaji maksimal calon pembeli MBR sebesar Rp12 juta untuk masyarakat belum menikah dan Rp14 juta bagi yang sudah menikah maupun peserta Tapera. Batasan tersebut merujuk pada kajian Badan Pusat Statistik mengenai kondisi ekonomi masyarakat.
Salah satu bagian dari proyek ini adalah Maraya Residences di Blok G yang mencakup 1.276 unit di tiga tower. Rinciannya terdiri dari Tower A sebanyak 352 unit, Tower B 418 unit, dan Tower C 506 unit. Komposisi tipe unit mencakup 770 unit tipe studio, 198 unit tipe 36, dan 308 unit tipe 45.
KAI Properti memasarkan unit Maraya Residences mulai dari harga Rp294 juta dengan skema cicilan mulai Rp1 jutaan per bulan. Hunian ini dilengkapi fasilitas pendukung dan sistem keamanan 24 jam.
Manager Corporate Communication KAI Properti Bramantya Candrika menyatakan bahwa kawasan ini dirancang untuk mendukung kemudahan mobilitas masyarakat.
"Maraya Residences hadir sebagai pilihan hunian yang mengutamakan kenyamanan sekaligus kemudahan mobilitas. Dengan lokasi yang strategis di kawasan Manggarai, penghuni dapat memiliki akses yang lebih mudah menuju berbagai aktivitas dengan dukungan transportasi publik," jelas Manager Corporate Communication KAI Properti Bramantya Candrika.
Penjualan unit rusun MBR ini juga mendapat perhatian khusus agar tepat sasaran kepada masyarakat yang belum memiliki hunian tetap.
Ketua Satgas Perumahan Hashim Djojohadikusumo menegaskan pentingnya pembatasan kuota pembelian guna mencegah pemborongan unit oleh pihak tertentu.
"Dari 3.000 (unit), nanti orang tertentu beli 300, Bapak 500, nanti titip siapa. Titip sopirnya ya atas nama sopirnya, atas nama office boy-nya, atas nama..." jelas Hashim.
Langkah pencegahan pemborongan tersebut diterapkan untuk menjaga keadilan distribusi hunian bagi seluruh calon peminat.
"Jadi, itu kita harus adil, satu pelanggan satu peminat satu tempat hunian," tambahnya.
Pertumbuhan nilai investasi kawasan Manggarai diprediksi akan meningkat seiring posisinya sebagai simpul transportasi utama di Jakarta.
"Lokasi dan mutu bagus nanti nilai tanah dan apartemen akan meningkat tajam. Nah orang-orang kan tidak bodoh," ujar Hashim.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow