John Ternus Resmi Gantikan Tim Cook Sebagai CEO Apple

Smallest Font
Largest Font

John Ternus resmi menggantikan Tim Cook sebagai Chief Executive Officer (CEO) Apple, yang menandai berakhirnya era kepemimpinan Cook di perusahaan teknologi asal Cupertino tersebut, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Pergantian tampuk kepemimpinan ini menghadirkan respons campur aduk dari komunitas penggemar Apple. Sebagian pihak merasa kehilangan sosok Cook yang sangat identik dengan ekspansi bisnis perusahaan, sementara lainnya mengharapkan keberanian baru dari kepemimpinan Ternus.

Pengamat dan Apple enthusiast Bagus Hernawan menilai perluasan basis pengguna serta pertumbuhan bisnis yang pesat menjadi salah satu keberhasilan terbesar selama kepemimpinan Cook.

"Menurut saya Tim Cook sukses di sisi meningkatkan kalangan pengguna Apple menjadi jauh lebih besar daripada di era sebelumnya," kata Bagus.

Selain perluasan basis pengguna, era Cook juga ditandai dengan penguatan lini bisnis layanan seperti Apple Music, Apple TV, Apple Arcade, Fitness+, hingga AppleCare+.

Dari sisi inovasi perangkat keras, Cook memperkenalkan lini AirPods, Apple Watch, serta merancang transisi dari prosesor Intel ke chip Apple Silicon M Series.

"Agak sedih tetapi juga penasaran. Sedih karena sudah nggak ada 'Good morning' yang ikonik dari Tim Cook di setiap WWDC atau Apple Event," kata Bagus.

Mengenai prospek di bawah kepemimpinan baru, Bagus memprediksi Ternus akan mempercepat inovasi produk dengan memfokuskan kekuatan integrasi pada perangkat keras, perangkat lunak, dan layanan.

"Inovasi produk baru juga mungkin akan lebih banyak dan cepat di era John Ternus," ujar Bagus.

Namun, Ternus dinilai akan menghadapi sejumlah kendala eksternal, mulai dari persaingan kecerdasan buatan (AI), dinamika geopolitik, hingga krisis pasokan komponen.

"AI yaitu pengembangan Siri AI di masa depan, bersaing dengan beragam tools AI lain sementara Apple tetap ingin menjaga privasi pengguna," jelas Bagus.

Ia menambahkan bahwa regulasi di berbagai kawasan seperti ketentuan TKDN di Indonesia serta aturan privasi di Eropa dan China turut menjadi tantangan nyata.

"Produk inovatif terbaru dari Apple yang akan menjadi debut pertama John Ternus sebagai CEO adalah iPhone lipat. Bisa dibilang ini sebagai ujian pertama John Ternus, apakah akan menjadi produk yang sukses atau gagal," ujarnya.

Bagus berharap strategi pengembangan produk di era baru ini tetap mengutamakan pengalaman pengguna dibanding sekadar mengikuti tren.

"Harapan saya Apple akan lebih fokus pada user experience dan teknologi AI yang benar-benar bisa dipakai, tidak sekadar gimmick atau terbatas di negara tertentu saja," katanya.

Ia juga mendorong pembuat kebijakan di Apple agar memperluas ketersediaan layanan digital untuk pasar regional.

"Harapan lainnya adalah pengguna Apple di Indonesia dapat semakin banyak menggunakan fitur dari Apple yang selama ini belum dibuka di sini. Seperti Apple Pay, Apple Maps yang mendukung traffic, dan lain-lain," ujarnya.

Bagus mengutarakan keinginannya agar Apple meluncurkan kategori produk yang benar-benar mendobrak industri.

"Saya juga berharap Apple bisa menciptakan produk yang benar-benar baru, sesuatu yang tidak terpikirkan bisa diciptakan, semakin memudahkan hidup di era digital dan membuat kita semua ingin segera menggunakan setelah resmi dirilis," kata Bagus.

Sementara itu, kreator konten iTechlife Indra Surya menyoroti peran strategis Cook dalam membangun efisiensi rantai pasok dan ekosistem bisnis Apple.

"Kalau Steve Jobs lebih dikenal sebagai bapak visioner, Tim Cook jadi operatornya," ujar Indra.

Indra juga memberikan penekanan khusus pada keberanian perusahaan dalam melepaskan ketergantungan komponen dari pihak ketiga.

"Menurut saya, satu hal warisan yang sangat penting adalah Apple Silicon. Transisi dari Intel ke chip buatan sendiri menunjukkan bahwa Apple di era Tim Cook sudah semakin berani mengontrol teknologi inti yang mereka gunakan," jelas Indra.

Kendati berhasil memperkuat struktur finansial perusahaan, Indra melihat adanya pergeseran pendekatan inovasi yang cenderung lebih konservatif.

"Kalau sebagai bisnis, Apple jelas jauh lebih kuat. Tetapi sebagai pengguna yang sudah cukup lama mengikuti Apple, saya kadang kangen dengan kejutan-kejutan yang terjadi dari era Steve Jobs, ketika kita benar-benar tidak tahu Apple akan melakukan apa berikutnya," ungkap Indra.

Ia menilai karakter inovasi era modern lebih terfokus pada integrasi sistem, fotografi komputasional, serta fitur privasi pengguna.

"Apakah Apple masih memberikan wow factor sebanyak era Steve Jobs? Menurut saya masih jauh," katanya.

Terkait masa transisi ini, Indra menyikapi pergantian CEO sebagai langkah alami untuk mendorong pembaruan strategi perusahaan.

"Saya justru penasaran, apakah setelah Tim Cook pergi, kita akan melihat Apple memasuki fase baru yang lebih berani," ujar Indra.

Keahlian Ternus di bidang rekayasa teknik diharapkan memberi warna baru pada proses pengambilan keputusan tertinggi perusahaan.

"Yang paling menarik buat saya adalah apakah dia akan membawa perspektif seorang engineer ke level pengambilan keputusan paling tinggi di Apple," katanya.

Menanggapi kabar pengembangan perangkat layar lipat, Indra menantikan terobosan yang berbeda dari produk yang sudah beredar di pasar saat ini.

"Bukan hanya karena produknya bisa dilipat, tetapi karena saya ingin melihat bagaimana Apple mendefinisikan ulang kategori tersebut dengan cara mereka sendiri," katanya.

Indra menyampaikan pesan singkat terkait ekspektasinya terhadap masa depan kepemimpinan perusahaan.

"Om John, jangan takut membuat Apple kembali terasa unpredictable," kata Indra.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed