Jembatan Gantung Pongpet di Pangandaran Rusak Saat Dilewati Bupati
Jembatan Gantung Pongpet di Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, mengalami kerusakan saat dilewati Bupati Citra Pitriyami bersama sejumlah pejabat pada Minggu (30/8/2026) sore.
Peristiwa ini hampir menyebabkan jatuhnya rombongan yang melintas ketika bangunan jembatan bergoyang dan bagian strukturnya rusak.
Kepala Desa Margacinta, Enceng Anwar Solihin, yang berada dekat dengan Bupati saat kejadian, mengungkapkan bahwa jembatan mulai bergoyang ke samping dengan kuat, berbeda dari biasanya.
"Jembatan sudah goyang tidak seperti biasanya. Sudah goyang kayak gini, goyang ke samping," kata Enceng, Senin (31/8/2026) dilansir Kompas.com.
Enceng bahkan sempat bertanya kepada Bupati Citra apakah ia merasa takut mengingat kondisi jembatan yang tidak stabil.
"Terus saya bilang ke Ibu Bupati, Bu, Ibu enggak takut? 'Enggaklah, Pak Kuwu, kan rata.' Pas Ibu Bupati selesai bilang begitu, tiba-tiba jembatannya bergoyang. Mata saya sampai merem melek. Saya berusaha untuk tidak panik," ujar Enceng.
Setelah itu, bagian jembatan mengalami kerusakan dan hampir membuat orang-orang yang melintas jatuh. Namun, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Jembatan Gantung Pongpet sudah berdiri sejak 1992 dan merupakan hasil swadaya masyarakat. Pada 2022, jembatan ini sempat diperbaiki oleh Pemerintah Desa Margacinta.
Jembatan ini menjadi penghubung penting antara Kecamatan Cigugur dan Kecamatan Cijulang, digunakan warga untuk berbagai aktivitas seperti berjalan kaki, mengendarai sepeda motor, mengangkut hasil pertanian, serta akses pendidikan dan kesehatan.
"Itu penghubung kecamatan Cigugur dan Cijulang. Banyak masyarakat Cigugur yang ingin tujuan ke Cijulang itu lewat jembatan itu," kata Enceng.
Menurutnya, fungsi jembatan sangat vital karena warga tidak hanya melintas dengan tangan kosong atau motor, tetapi juga membawa beban berat seperti hasil kebun kayu jati dan palem kayu.
Kerusakan jembatan ini berpotensi mengganggu mobilitas warga karena jalur alternatif yang ada membutuhkan perjalanan lebih jauh melewati beberapa desa.
"Kalau lewat Selatan harusnya melewati 4 desa. Kalau lewat Utara melintasi 5 desa," ujar Enceng.
Enceng berharap pemerintah dapat membangun jembatan ini menjadi lebih kuat dan permanen, bukan hanya melakukan perbaikan sementara, agar dapat mendukung aktivitas masyarakat dalam jangka panjang.
"Mudah-mudahan pihak-pihak yang punya kebijakan bisa berpikir lebih jauh, membangun jembatan tersebut menjadi jembatan representatif atau jembatan permanen," kata Enceng.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow