Jaringan Telekomunikasi Indonesia di Bawah Tekanan Besar AI Agentik Bisa Menjadi Titik Balik
Jaringan Telekomunikasi Indonesia di Bawah Tekanan Besar AI Agentik Bisa Menjadi Titik Balik
Penulis : *) Piyush Jain dan Aditya Shankar 16 Jul 2026 | 20:49 WIB
Piyush Jain, Technology, Media & Telecommunications Industry Leader, Strategy, Risk & Transactions, Deloitte Southeast Asia.
Di tengah ekonomi digital Indonesia yang tumbuh pesat, pertanyaannya bukan lagi apakah operator telekomunikasi akan mengadopsi AI, melainkan apakah mereka mampu menerapkannya dengan disiplin yang dapat meredakan tekanan pada jaringan mereka. Setiap hari di Indonesia, ratusan juta koneksi seluler berkontribusi dalam menggerakkan segala hal di lebih dari 17.000 pulau, mulai dari transaksi bisnis hingga komunikasi pribadi. Jumlah pelanggan paket seluler di Indonesia telah melampaui 347 juta. Akibatnya, jaringan telekomunikasi harus menangani volume panggilan, pertanyaan, dan interaksi layanan dalam skala yang sangat besar.
Pada saat yang sama, Indonesia tengah memasuki fase penting dalam perjalanan transformasi digitalnya. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) saat ini sedang menyiapkan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan AI Nasional (AI Roadmap), yang diperkirakan akan ditetapkan pada 2026 beserta pedoman etika dan keamanan yang menyertainya.
Regulasi ini akan menjadi kerangka formal yang mengatur bagaimana perusahaan menerapkan dan mengelola teknologi AI. Bagi operator telekomunikasi yang saat ini telah menghadapi tekanan untuk menghadirkan layanan yang lebih baik dengan biaya yang lebih efisien, perkembangan ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan yang semakin mendesak untuk direspons.
Di seluruh Indonesia, peluang pemanfaatan agentic AI untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan efisiensi bisnis semakin nyata. Gangguan jaringan dapat merembet ke berbagai provinsi dan mempengaruhi jutaan pengguna. Kesalahan penagihan dapat membuat pusat layanan pelanggan kewalahan menghadapi banyaknya keluhan.
Sementara itu, pelanggan kerap dioper dari satu departemen ke departemen lain, mengulang persoalan yang sama berkali-kali. Tekanan untuk meningkatkan kualitas layanan kini juga semakin didorong oleh faktor komersial. Laporan Deloitte 2026 Technology, Media & Telecommunications Predictions menemukan bahwa hingga 77 persen konsumen global merasa tidak memiliki loyalitas yang kuat terhadap penyedia layanan mereka. Hanya 47 persen yang bertahan dengan operator yang sama selama lebih dari lima tahun, sementara tingkat perpindahan pelanggan (churn rate) tahunan di industri ini mencapai sekitar 22 persen.
Di sisi lain, 86 persen konsumen menyatakan bersedia membayar lebih untuk pengalaman yang lebih baik. Agentic AI muncul sebagai jawaban yang kini dilirik para operator. Berbeda dengan perangkat AI konvensional yang mendukung tugas-tugas individual, sistem agentic dapat mengoordinasikan tindakan, menjalankan alur kerja, dan menyelesaikan persoalan lintas fungsi secara menyeluruh. Hal ini menggeser AI dari sekadar kapabilitas pendukung di balik layar menjadi mesin operasional inti yang mampu secara mendasar mengubah cara organisasi telekomunikasi bekerja.
Taruhannya sangat besar. Estimasi industri menunjukkan pasar global untuk agen AI otonom (autonomous AI agents) dapat mencapai US$8,5 miliar pada 2026 dan meningkat menjadi US$35 miliar pada 2030. Deloitte bahkan memproyeksikan nilainya dapat menembus US$45 miliar bagi organisasi yang mampu mengorkestrasi agen-agen AI tersebut dengan efektif. Nilai sesungguhnya tidak akan dinikmati oleh organisasi yang paling banyak melakukan eksperimen, melainkan oleh mereka yang paling cepat mengubah hasil eksperimen menjadi produksi.
Secara global, banyak operator telekomunikasi terjebak dalam “pilot purgatory” — menjalankan berbagai inisiatif AI yang berpotensi secara individual, tetapi gagal berlanjut ke skala yang lebih luas atau memberikan hasil bisnis yang berarti. Persoalannya bukan terletak pada kurangnya inovasi, melainkan pada disiplin eksekusi: pendanaan terfragmentasi, kepemilikan program tidak jelas, dan proyek percontohan yang menjanjikan tak kunjung mencapai tahap produksi.
Namun, ada sebagian operator yang berhasil melangkah maju dengan menempuh pendekatan berbeda. Mereka memperlakukan AI sebagai kapabilitas bisnis, bukan sekadar eksperimen teknologi. Mereka menetapkan kepemilikan yang jelas, menyelaraskan inisiatif dengan hasil yang terukur, dan mengambil keputusan secara disiplin mengenai kasus penggunaan (use case) mana yang akan diperbesar skalanya dan mana yang dihentikan. Di Indonesia, sejumlah operator sudah mulai bergerak. Salah satunya telah menerapkan lebih dari 100 kasus penggunaan berbasis AI di bidang operasi jaringan dan layanan pelanggan, membantu menekan downtime dan meningkatkan daya tanggap sekaligus menurunkan biaya.
Operator lain tengah membangun menuju model “AI-native”, dengan mengintegrasikan AI ke seluruh infrastruktur dan layanannya untuk menopang operasional di seluruh Nusantara. Dorongan Indonesia untuk memformalkan tata kelola AI akan menuntut akuntabilitas yang lebih kuat, kontrol yang lebih jelas, serta pendekatan penerapan yang lebih terstruktur di berbagai industri. Pada saat yang sama, investasi pada infrastruktur digital dan teknologi generasi mendatang terus berakselerasi, sehingga meningkatkan ekspektasi terhadap apa yang harus dihadirkan oleh operator telekomunikasi.
Untuk mencapai standar tersebut, diperlukan tiga hal utama: ekosistem mitra yang tepat, bukan sekadar tools yang berdiri sendiri; inisiatif yang dirancang untuk produksi sejak hari pertama, bukan sekedar eksperimen tanpa arah yang jelas; serta tim yang diberdayakan untuk berinovasi dalam kerangka tata kelola yang terukur, dengan batasan yang terkait biaya, risiko, dan kepatuhan.
Jendela waktu untuk bertindak relatif singkat. Dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, operator yang berhasil mengintegrasikan kapabilitas ini akan membangun keunggulan yang sulit ditiru oleh pesaing. Sebaliknya, mereka yang menunda berisiko tertinggal — bukan karena tidak memiliki akses terhadap teknologi, melainkan karena kurangnya disiplin organisasi untuk memanfaatkannya secara efektif.
*) Piyush Jain adalah Technology, Media & Telecommunications Industry Leader untuk lini bisnis Strategy, Risk & Transactions Deloitte Asia Tenggara. Ia juga memimpin praktik Monitor Deloitte di Asia Tenggara dan merupakan penasihat berpengalaman bagi jajaran CxO di kawasan ini. Piyush memiliki pengalaman global yang luas, baik di sektor konsumen maupun korporasi. Bidang keahliannya meliputi transformasi berbasis digital dan AI, penciptaan nilai pascatransaksi (post-deal value creation), serta infrastruktur digital (pusat data, serat optik, dan menara telekomunikasi).
*) Aditya Shankar adalah Director pada praktik Monitor Deloitte di Asia Tenggara, yang memberikan nasihat kepada bank dan operator telekomunikasi terkemuka di kawasan Asia Pasifik mengenai strategi AI, realisasi nilai, dan penerapan yang bertanggung jawab. Dengan pengalaman lebih dari 16 tahun yang mencakup perusahaan konsultan global, platform AI enterprise — di mana ia pernah memimpin customer success dan layanan profesional untuk kawasan Asia Pasifik — serta dunia akademik, ia memadukan kedalaman strategis, teknis, dan institusional yang mendalam. Sebagai mantan staf pengajar tetap dan kini Adjunct Faculty di National University of Singapore, ia adalah pendukung setia bagi adopsi AI yang berkelanjutan dan etis di seluruh Asia Tenggara.
Editor: Euis Rita Hartati
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Rimini Street: Modernisasi ERP Membuka Ruang Investasi AI dan Talenta Digital
IWG: AI Jadi Indikator Terpenting dalam Revolusi Teknologi Modern
RI Bidik AI Jadi Peluncur Pertumbuhan Ekonomi Baru
AI Dinilai Jadi Kunci Perluas Inklusi Keuangan Masyarakat Akar Rumput
Macroeconomy 2 jam yang lalu Pemerintah Akan Bangkitkan Koperasi, Jadi Kekuatan Ekonomi RI Presiden menyerukan kebangkitan total gerakan koperasi sebagai kekuatan ekonomi raksasa yang kokoh dan mandiri.
Business 3 jam yang lalu Rimini Street: Modernisasi ERP Membuka Ruang Investasi AI dan Talenta Digital Di tengah tekanan efisiensi dan ketidakpastian ekonomi global, perusahaan semakin dituntut untuk tetap berinovasi tanpa meningkatkan belanja teknologi secara signifikan. Rimini Street melihat tantangan terbesar organisasi saat ini bukan sekadar mengadopsi artificial intelligence (AI), melainkan bagaimana mendanai inovasi tersebut melalui pengelolaan investasi TI yang lebih cerdas.
Finance 3 jam yang lalu Pendapatan Investasi Topang Pertumbuhan Kinerja TUGU Terdapat dua faktor utama yang akan menopang pertumbuhan kinerja TUGU dalam beberapa tahun ke depan.
National 3 jam yang lalu TNI AD: Satu Prajurit Tewas akibat Gudang Amunisi Madiun Meledak epala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Donny Pramono mengatakan sebanyak satu prajurit tewas akibat peristiwa meledaknya gudang amunisi di Gudang Pusat Amunisi (Gupusmu) TNI yang terletak di Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Kamis, Pagi.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow