Janda Korban SQ321 Gugat Singapore Airlines di Pengadilan Tinggi
Gugatan hukum resmi dilayangkan oleh Linda Kitchen against Singapore Airlines di Pengadilan Tinggi Inggris setelah insiden turbulensi parah pada penerbangan SQ321 menyebabkan suaminya tewas dan dirinya mengalami patah tulang belakang.
Peristiwa yang terjadi pada Mei 2024 di atas wilayah udara Myanmar tersebut merenggut nyawa Geoff Kitchen akibat serangan jantung dan gagal jantung. Pesawat Boeing 777-300ER rute London-Singapura itu mendadak anjlok puluhan meter hingga memicu pendaratan darurat di Bangkok, Thailand.
Gugatan diajukan untuk memperoleh ganti rugi guna membiayai perawatan medis spesialis tulang belakang yang dibutuhkan Linda. Berdasarkan dokumen pengadilan, pihak keluarga mengajukan dua klaim terpisah, yakni untuk cedera pribadi Linda serta tuntutan atas nama mendiang suaminya.
Dokumen Pengadilan Tinggi menunjukkan sejumlah penumpang lain turut melayangkan tindakan hukum serupa terhadap pihak maskapai. Nama-nama tersebut meliputi Bradley Richards, Jack Jenkins, Hannah Fullerton, Andrew Dawood, Bryan Matthews, serta pasangan Pauline dan Michael Rainey.
Linda mengungkapkan kondisi mencekam saat turbulensi hebat menerpa kabin di mana sejumlah barang dan dokumen melayang jatuh.
"Ada beberapa turbulensi di atas Eropa, dan agak berguncang di atas air, tetapi sekitar 10 jam setelah penerbangan kami menghadapi turbulensi utama," kata Linda, korban penerbangan SQ321.
Guncangan mendadak tersebut membuat suaminya terlempar dan menindih Linda ke arah sandaran tangan kursi hingga pingsan.
"Sangat parah; rasanya seperti pesawat jatuh. Saya melihat Kindle saya dan ponsel Geoff jatuh ke lantai, dan saya pikir pesawat akan jatuh," ujar Linda, mengingat detik-detik guncangan.
Guncangan yang begitu cepat membuat Linda tertahan di kursi dalam kondisi cedera parah sebelum penumpang lain memberikan bantuan.
"Anjloknya ketinggian sepertinya terjadi secara tiba-tiba. Saya jatuh ke belakang dan ke samping lalu merasakan sakit luar biasa menjalar ke seluruh tubuh," kata Linda, menjelaskan rasa sakit saat kejadian.
Upaya pertolongan pertama langsung dilakukan oleh penumpang lain serta dokter di dalam pesawat sebelum mendarat.
"Geoff jatuh menimpa saya dan menjepit saya ke sandaran tangan dan saya tidak bisa menggesernya. Saya berteriak dan entah bagaimana dua penumpang berhasil datang dan membantunya," ujar Linda, menceritakan proses evakuasi suaminya.
Dokter yang berada di dalam kabin kemudian bergegas melakukan tindakan medis darurat.
"Merek memindahkan Geoff ke dekat pintu darurat dan seorang dokter dipanggil untuk melakukan CPR padanya," kata Linda, menambahkan detail penanganan di pesawat.
Setelah pesawat mendarat di Bangkok, Linda dilarikan ke rumah sakit dan baru diberi tahu mengenai kematian suaminya dua hari kemudian.
"Saya pikir Geoff dan saya adalah satu-satunya yang terluka sampai saya melihat ambulans lain menunggu di dekat pesawat," ujar Linda, mengenang suasana di landasan.
Kabar duka tersebut baru diterima Linda saat menjalani perawatan intensif di rumah sakit Thailand.
"Ketika di rumah sakit saya terus menanyakan tentang Geoff, tetapi baru dua hari kemudian saya diberi tahu bahwa dia telah meninggal dunia," kata Linda, mengungkapkan penantian penanganan suaminya.
Pemberitahuan tersebut memberikan guncangan emosional yang amat mendalam bagi dirinya.
"Ketika saya terpisah dari Geoff, saya tahu dia dalam kondisi buruk, tetapi tidak ada yang mempersiapkan saya untuk mendengar dia telah meninggal. Itu benar-benar menghancurkan," ujar Linda, membagikan kesedihannya.
Linda menjalani perawatan selama 10 hari di Bangkok sebelum dipindahkan menggunakan penerbangan medis ke kampung halamannya.
"Saya menghabiskan 10 hari di rumah sakit sebelum diterbangkan kembali ke Bristol. Saya mengalami sakit luar biasa sehingga perjalanan itu terasa samar. Setelah kembali ke Inggris, saya tetap berada di rumah sakit selama sekitar satu minggu dan, setelah diperbolehkan pulang, membutuhkan bantuan signifikan di rumah," kata Linda, menerangkan proses pemulihannya.
Rasa sakit fisik yang berkepanjangan menyulitkan masa pemulihan dan penyesuaian diri pascamusibah tersebut.
"Saya mengalami rasa sakit yang begitu parah sehingga perjalanan itu terasa samar. Setelah kembali ke Inggris, saya tetap berada di rumah sakit selama sekitar satu minggu dan, setelah discharged, membutuhkan bantuan signifikan di rumah," ujar Linda, menegaskan kondisi fisiknya.
Proses duka terasa berat karena keluarga harus kehilangan sosok kepala keluarga yang sangat dicintai.
"Apa yang menyusul adalah masa-masa emosional dan menyedihkan saat saya mencoba menerima kematian Geoff dan kenyataan bahwa saya tidak akan pernah melihatnya lagi, sambil juga mengatasi rasa sakit luar biasa dari cedera saya sendiri," kata Linda, meratapi kepergian suaminya.
Masa dua tahun pascakejadian masih menyisakan duka mendalam bagi anak dan cucu mendiang.
"Dua tahun terakhir terasa sangat sulit. Kehilangan Geoff merupakan pukulan telak bagi seluruh keluarga karena kami semua berpikir dia akan ada untuk melihat cucu-cucunya tumbuh besar. Kami memiliki pernikahan yang bahagia dan terpenuhi dan sekarang saya telah kehilangan belatan jiwa saya," ujar Linda, menyampaikan dampak emosional pada keluarga.
Sosok mendiang suami juga dikenal luas oleh masyarakat lokal melalui berbagai aktivitas komunitas seni.
"Dia juga populer di masyarakat, terutama melalui karyanya dengan Thornbury Musical Theatre Group, dan banyak orang lain terus merasakan dampak dari kematiannya," kata Linda, mengenang peran suaminya di masyarakat.
Langkah hukum diambil demi mendapat kejelasan lengkap mengenai faktor penyebab kecelakaan mematikan tersebut.
"Saya tahu tidak ada yang bisa mengembalikan Geoff, tetapi saya merasa bertanggung jawab padanya untuk setidaknya mendapatkan beberapa jawaban," ujar Linda, menegaskan alasannya menggugat.
Ia berharap proses pengadilan dapat membuka fakta di balik musibah penerbangan SQ321.
"Saya merasa bertanggung jawab padanya untuk setidaknya mendapatkan beberapa jawaban dan memahami keadaan di balik kematiannya," kata Linda, menutup alasannya melangkah ke jalur hukum.
Pengacara spesialis penerbangan Anthe Korelidou yang mewakili keluarga menegaskan pentingnya proses penyelidikan yang transparan.
"Apa yang dialami Linda dan puluhan penumpang lainnya dalam penerbangan itu pasti sangat traumatik," kata Anthe Korelidou, pengacara spesialis hukum penerbangan.
Tingkat keparahan trauma fisik maupun mental dirasakan langsung oleh para korban dalam penerbangan tersebut.
"Bahwa Geoff terluka fatal dan Linda menderita cedera parah, secara jelas menyoroti tingkat keparahan dari apa yang terjadi," ujar Anthe Korelidou, menekankan dampak kecelakaan.
Keluarga korban hingga kini masih menunggu kepastian terkait langkah pencegahan yang seharusnya dilakukan maskapai.
"Meskipun sudah lebih dari dua tahun sejak kematian Geoff, Linda dan seluruh keluarganya terus memiliki sejumlah pertanyaan dan kekhawatiran tentang apa yang terjadi dan apakah ada hal lebih yang bisa dilakukan untuk mencegah cedera mereka," kata Anthe Korelidou, menjelaskan dorongan gugatan.
Pengajuan kasus ke High Court dinilai sebagai langkah krusial untuk menemukan kebenaran.
"Yang diinginkan Linda hanyalah agar penyelidikan paling menyeluruh dilakukan. Penerbitan proses Pengadilan Tinggi adalah pilar utama dalam memberikan jawaban yang layak didapatkan oleh orang-orang yang dicintai Geoff," ujar Anthe Korelidou, menandaskan tujuan proses hukum.
Menanggapi gugatan yang masuk ke Pengadilan Tinggi Inggris, pihak maskapai penerbangan memberikan tanggapan resmi.
"Kami tidak dapat berkomentar mengenai hal-hal yang sedang dalam proses pengadilan," kata juru bicara Singapore Airlines.
Maskapai tersebut sebelumnya menyampaikan permohonan maaf terbuka atas peristiwa traumatis yang dialami seluruh penumpang.
"Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh penumpang dan awak kapal di Penerbangan SQ321 atas pengalaman traumatis mereka. Keselamatan dan kesejahteraan penumpang serta staf SIA adalah prioritas utama kami," ujar juru bicara Singapore Airlines.
Laporan Biro Penyelidikan Keselamatan Transportasi (TSIB) Singapura menyebutkan turbulensi terjadi akibat awan badai yang gagal terdeteksi radar cuaca pesawat. Pihak maskapai telah menawarkan kompensasi awal sebesar US$25.000 bagi korban cedera berat dan pengembalian penuh tiket seluruh penumpang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow