Industri Petrokimia Nasional Perlu Perkuat Kapasitas Produksi untuk Kurangi Ketergantungan Impor
Industri petrokimia di Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait ketergantungan pada bahan baku impor. Kondisi ini membuat industri nasional rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Peneliti Center of Industry, Trade and Investment (CITI) Indef, Ahmad Heri Firdaus, menyatakan bahwa pengurangan ketergantungan tersebut belum dapat dilakukan dalam waktu dekat karena beberapa bahan baku, seperti nafta, masih harus diimpor sambil menyiapkan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.
"Sebenarnya sudah ada roadmap pengembangan nafta, tetapi perlu investasi dan kenaikan kapasitas produksi yang lebih besar," ujar Ahmad Heri pada Kamis (27/8/2026).
Menurut Ahmad Heri, pengembangan industri petrokimia tidak hanya soal membangun fasilitas baru, tetapi juga harus memperhatikan pola distribusi yang sudah berjalan agar peralihan dari bahan baku impor ke domestik tidak menimbulkan biaya tambahan atau menurunkan efisiensi rantai pasok.
"Strategi substitusi impor harus berjalan mulus tanpa mengganggu rantai pasok yang efisien. Industri pengguna tentu tidak ingin efisiensi produksinya menurun, sehingga dibutuhkan investasi besar terlebih dahulu," tambahnya.
Peluang investasi sektor petrokimia cukup menjanjikan karena pasar domestik yang luas. Produk petrokimia digunakan oleh berbagai sektor manufaktur, menjadikan permintaan bahan baku plastik sangat besar di dalam negeri.
Namun, investasi saja tidak cukup menyelesaikan masalah. Dukungan dari sisi hulu, seperti ketersediaan bahan mentah, energi, dan infrastruktur juga harus diperkuat agar kapasitas produksi dapat berjalan optimal.
Ahmad Heri menegaskan bahwa pengembangan industri petrokimia tidak bisa hanya fokus pada pembangunan pabrik, tetapi juga harus memastikan ketersediaan minyak dan gas sebagai bahan dasar.
Dari sisi kebijakan, pemberian insentif fiskal bukan satu-satunya solusi. Pemerintah perlu membangun ekosistem industri yang memungkinkan produksi dalam negeri mencapai skala ekonomi dan mampu bersaing dengan produk impor.
"Jika ketergantungan impor bahan baku tidak berkurang, industri nasional akan terus terpengaruh oleh gejolak kondisi global. Misalnya, industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku plastik akan mengalami kenaikan biaya produksi," kata Ahmad Heri.
Penjelasan tersebut dikutip dari Investor Daily, menggambarkan pentingnya penguatan kapasitas produksi petrokimia nasional sebagai langkah strategis menghadapi tantangan bahan baku impor.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow