Harga Minyak Dunia Anjlok Lebih dari 2 Persen Meredanya Konflik AS Iran
Tren penurunan harga minyak mentah dunia terus berlanjut pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Melandainya harga komoditas energi ini terjadi seiring adanya jeda aksi militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang memunculkan harapan deeskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari Investor Daily, minyak mentah acuan internasional Brent untuk pengiriman September terkoreksi lebih dari 2% hingga menyentuh level US$ 86,52 per barel. Penurunan serupa dialami jenis West Texas Intermediate (WTI) AS pengiriman September yang merosot 2,3% ke posisi US$ 80,71 per barel.
Penghentian sementara aksi saling serang di lapangan secara faktual berlangsung, meskipun pemerintah Iran membantah kabar mengenai kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari dengan pihak AS.
Laporan mengenai penipuan persediaan persenjataan militer AS ditengarai menjadi pemicu munculnya jeda ketegangan tersebut. New York Times mengabarkan bahwa Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan masif ke Iran karena mempertimbangkan kondisi cadangan amunisi.
Pernyataan tersebut segera dibantah oleh Trump saat memberikan keterangan di atas pesawat Air Force One menuju Michigan pada Senin (27/7/2026). Ia menegaskan bahwa cadangan persenjataan militer AS saat ini berada dalam jumlah yang sangat memadai.
Analis dari Commonwealth Bank of Australia (CBA) mengutarakan bahwa pelemahan harga minyak mencerminkan berkurangnya kecemasan pasar terhadap risiko eskalasi mendadak. Kendati demikian, pihak CBA mengingatkan ancaman terhadap rantai pasokan energi global tetap tergolong tinggi.
"Jeda dalam permusuhan AS-Iran telah melemahkan ekspektasi bahwa konflik akan meluas hingga menargetkan infrastruktur sipil dan energi secara signifikan. Namun, perselisihan terkait jalur pelayaran vital di Selat Hormuz tetap berpotensi memicu kembali ketegangan militer," tulis CBA dalam catatan risetnya.
Eskalasi militer kedua negara sepanjang pertengahan tahun 2026 telah mendongkrak volatilitas harga minyak mentah. Gesekan di Selat Hormuz, jalur distribusi vital yang dilintasi seperlima pasokan minyak dunia, sempat memicu lonjakan harga akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Arah pergerakan harga komoditas energi global kini sangat bergantung pada dinamika stok persenjataan serta efektivitas jalur diplomasi internasional.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow