Gokuniku Hadirkan Menu Sukiyaki Pedas Tomat di Senopati Jakarta

Smallest Font
Largest Font

Restoran kuliner Jepang Gokuniku menghadirkan hidangan Spicy Tomato Sukiyaki sebagai menu andalan utama untuk menggaet pasar konsumen lokal di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, pada Jumat (28/8/2026).

Seperti dilansir dari Investor Daily, menu tersebut menawarkan perpaduan rasa manis dan gurih khas sukiyaki yang dikombinasikan dengan sentuhan rasa asam segar serta rasa pedas cabai rawit.

Chief Executive Officer Gokuniku, Michael, menempatkan Spicy Tomato Sukiyaki sebagai produk dengan identitas paling menonjol yang membedakan tokonya dari restoran shabu-shabu lain.

"Sebenarnya yang bikin beda itu spicy tomato sukiyaki-nya kita. Itu signature product-nya kita," kata Michael, CEO Gokuniku.

Ia memaparkan bahwa racikan hidangan sukiyaki pada umumnya identik dengan cita rasa manis dan gurih semata.

"Kalau tomato spicy ini, dia ada essence asam, asam segarnya. Ada cabai rawitnya juga. Nah, itu yang bikin beda sebenarnya," tutur Michael.

Formulasi rasa tersebut dikembangkan agar lebih selaras dengan selera masyarakat Indonesia tanpa melupakan cita rasa asli kuliner Jepang.

Ide pembuatan hidangan lahir usai Michael mencicipi menu serupa di Singapura, salah satunya restoran Kuroya yang menjadi referensi awal.

"Saya coba di Singapura. Dia menurut saya pelopor," kata Michael.

Meski mendapatkan referensi dari luar negeri, ia menegaskan bahwa pengolahan varian hidangan ini diracik secara mandiri.

"Karena di Jepang sendiri pun enggak ada. Ada tapi dikit lah, enggak favorit," kata Michael.

Selain sajian sukiyaki tomat, restoran juga menyediakan variasi pilihan potongan daging segar seperti Togarashi, Kata Rosu, hingga Ribeye. Potongan Togarashi direkomendasikan bagi pengunjung yang membatasi konsumsi kadar lemak.

"Togarashi itu bukan nama yang sembarang kasih ya. Itu bahasa Jepangnya Togarashi tuh ada, namanya tenderloin," jelas Michael.

Untuk varian Ribeye kelas premium, Gokuniku mendatangkan pasokan daging impor langsung dari wilayah Miyazaki, Kagoshima, dan Hida di Jepang.

"Kalau itu yang fat-nya, yang sudah marbling-nya mungkin sudah tahu lah ya, yang cantik banget," kata Michael.

Di samping pilihan bahan impor premium, pihak pengelola juga meluncurkan opsi paket makan siang yang menggunakan bahan daging Australia Black Angus.

"Harga lunch package kita mulai dari Rp188 ribu, sudah dapat set seperti tadi," ujar Michael.

Pengelola menetapkan kisaran harga set menu biasa mulai dari Rp368 ribu hingga Rp388 ribu per porsi.

Satu porsi set makanan berisi potongan daging seberat 120 gram yang disajikan lengkap bersama porsi sayuran, nasi, dan hidangan pendamping.

"Daging itu enggak banyak kok, 120 gram. Cukup buat satu orang makan lah, sama sayur sama nasi," kata Michael.

Restoran juga menyediakan deretan pilihan menu daging premium yang dibanderol mencapai harga sekitar Rp1 juta per paket set.

Dalam menentukan arah penetapan lokasi bisnis, Michael memilih kawasan Jakarta Selatan karena dinilai memiliki profil pasar paling potensial.

"Kalau menurut saya lokasi cuma bisa di daerah Senopati atau di Menteng. Itu maka untuk outlet pertama saya pilih di Senopati," ujar Michael.

Pengelola juga melengkapi area interior bangunan dengan fasilitas ruangan privat VIP serta sarana karaoke modern.

"Kita punya konsep lebih ingin VIP banyak, bisa karaoke. Terus kita di lantai empat juga ada ruangan besar untuk corporate meeting segala macam," ujar Michael.

Fasilitas ruang tertutup tersebut disediakan untuk merespons tren gaya hidup konsumen domestik saat ini.

"Karena sekarang orang-orang Indonesia suka banget sama private-private ruangan ini," kata Michael.

Bangunan restoran mengusung gaya arsitektur modern Japanese dengan fasilitas sembilan ruangan VIP serta satu area aula besar di lantai empat bernapas menampung 30 orang.

Setiap penggunaan fasilitas VIP diberlakukan batas minimum transaksi, mulai dari Rp2 juta hingga Rp10 juta untuk ruangan rapat besar.

Target pemasaran operasional Gokuniku sebagian besar ditujukan untuk menjaring segmentasi konsumen domestik lokal.

Data manajemen mencatat komposisi pengunjung terdiri atas 80 persen konsumen lokal, 10 persen warga Jepang, dan 10 persen wisatawan asing.

"Lokalnya 80 persen, Jepang 10 persen, turisnya 10 persen," ujar Michael.

Tingginya komposisi pelanggan lokal menjadi alasan utama penyelarasan cita rasa hidangan agar pas dengan lidah masyarakat Indonesia.

"Kalau turis kayaknya kalau ke makan, ke Indonesia enggak makan Jepang ya," kata Michael sambil tertawa.

Sebagai pelengkap menu hidangan utama, restoran juga menyediakan sajian minuman koktail racikan khusus bernuansa Jepang.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed