Garuda Tambah 6 Pesawat Baru pada 2026 dan Kurangi Armada Berbadan Besar

Smallest Font
Largest Font

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) merealisasikan ekspansi operasional melalui penambahan armada baru yang dijadwalkan tiba sepanjang tahun 2026. Ekspansi maskapai BUMN ini terlaksana selepas penerimaan suntikan modal senilai Rp23,6 triliun dari Danantara Indonesia pada kuartal akhir 2025.

Seperti dilansir dari Investor Daily, perseroan mendatangkan total 6 pesawat baru untuk memperkuat jaringan penerbangan. Kedatangan unit anyar tersebut mencakup 4 unit tipe B737-800 pada kuartal II-2026 serta 2 unit B737-8 pada akhir tahun 2026.

Pada periode yang sama, manajemen melakukan penyesuaian dengan mengembalikan 1 armada A330-200 kepada pihak lessor di kuartal II-2026. Garuda juga mempensiunkan 4 pesawat A330-300 pada penghujung tahun 2026.

Pengoperasian armada baru ini secara bersih menambah 1 unit pesawat, sehingga total armada Garuda menjadi 79 unit pada akhir 2026 dari posisi 78 unit per 31 Maret 2026. Strategi tersebut mempertegas fokus perseroan pada pesawat berbadan kecil (narrow body).

Jumlah armada narrow body bertipe B737-800 meningkat dari 45 unit per 31 Maret 2026 menjadi 49 unit pada 31 Desember 2026. Sebaliknya, porsi armada berbadan besar (wide body) tipe A330-300 menyusut dari 16 unit menjadi 12 unit akhir tahun.

Hingga kuartal I-2026, jumlah pesawat Garuda yang siap beroperasi (serviceable) mencapai 60 unit. Angka ini meningkat dibanding posisi kuartal I-2025 yang mencatatkan 57 armada.

Pengamat dan Pakar Bisnis Penerbangan Gatot Rahardjo menilai penambahan pesawat berbadan kecil sangat beralasan untuk menggarap rute domestik dan regional ASEAN yang tengah tumbuh pesat.

"Jadi, pasar Garuda masih terbuka," ucap Gatot kepada Investor Daily dikutip, Selasa (11/8/2026).

Meski pasar dinilai terbuka, data materi presentasi Garuda di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat penurunan jumlah penumpang sebesar 4,89% pada kuartal I-2026 dengan passenger yield 0,99%. Faktor muatan (seat load factor/SLF) terkoreksi 1,17 persentase poin dan frekuensi penerbangan turun 1,87% menjadi 17.901 penerbangan.

Kondisi berbeda dialami anak usaha Garuda, Citilink, yang mencatatkan kenaikan jumlah penumpang 19% menjadi 2,95 juta orang pada kuartal I-2026. SLF Citilink menguat 2,66 persentase poin menjadi 79,88%, sedangkan frekuensi terbang melonjak 13,59% menjadi 20.774 penerbangan.

Walau kinerja operasional Citilink tumbuh, manajemen Garuda tidak mengalokasikan penambahan armada baru untuk anak usahanya tersebut di tahun 2026. Citilink justru mengembalikan 1 pesawat A320-200 pada semester I-2026 serta mempensiunkan 5 unit B737-300 dan 1 unit B737-500 pada akhir tahun.

Langkah pengurangan tersebut membuat total armada Citilink menyusut dari 64 pesawat per 31 Maret 2026 menjadi 57 pesawat per 31 Desember 2026. Jumlah armada Citilink yang serviceable tercatat 42 unit pada kuartal I-2026.

Gatot menjelaskan pasar Garuda dan Citilink memiliki karakter berbeda, di mana Garuda didominasi aparatur sipil negara dan segmen bisnis, sementara Citilink menggarap pasar Low Cost Carrier (LCC) yang sensitif harga.

"Jadi, pasar Garuda dan Citilink itu berbeda dan tidak saling menggantikan," tegas Gatot.

Menanggapi rencana integrasi Pelita Air ke dalam ekosistem grup, Gatot menilai persaingan di segmen LCC dan medium akan semakin ketat. Manajemen Citilink diperkirakan mengambil sikap menanti (wait and see) di tengah tingginya biaya operasional seperti harga avtur dan kurs dolar AS.

"Jadi, mungkin manajemen Citilink wait and see. Sebab, kondisi biaya operasional masih tinggi (harga avtur, kurs USD) dan memang LCC akan terdampak lantaran harga tiket lebih rendah sementara biaya operasional hampir sama dan persaingan tinggi," tutur Gatot.

Kepala Riset KISI Sekuritas Muhammad Wafi menambahkan bahwa prioritas penambahan armada pada Garuda berkaitan erat dengan skenario peleburan Pelita Air ke dalam ekosistem holding.

"Jika skenario Pelita bergabung ke holding terjadi, restrukturisasi portofolio brand mungkin butuh kejelasan strategis siapa fokus di segmen mana. Garuda menjadi prioritas bisa jadi bagian dari tahapan restrukturisasi yang lebih besar, di mana peran Citilink didefinisikan ulang setelah Pelita masuk," ujar Wafi kepada Investor Daily dikutip, Selasa (11/8/2026).

Wafi menekankan pentingnya manajemen grup untuk tetap mengamankan pangsa pasar LCC yang berkembang guna mencegah stagnansi pangsa pasar secara keseluruhan.

"Ini merupakan keputusan strategis yang berpotensi besar, tapi hanya akan berhasil kalau dieksekusi dengan tepat," tutup Wafi.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed