BPS Catat Sektor Pengadaan Listrik dan Gas Tumbuh Paling Tinggi
Sektor pengadaan listrik dan gas memimpin lonjakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 sebesar 10,81 persen secara tahunan. Capaian ini menjadi bagian dari lima lapangan usaha utama yang mendominasi Produk Domestik Bruto nasional.
Badan Pusat Statistik mengumumkan total lima lapangan usaha berkontribusi sebesar 63,73 persen terhadap total PDB Indonesia. Kelima sektor mendominasi tersebut meliputi industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, serta pertambangan.
"Lapangan usaha pertama yang memberikan kontribusi besar kepada PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan. Total kelima lapangan tersebut mencakup sekitar 63,73% dari total PDB Indonesia," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud dalam konferensi pers di Kantor BPS Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Penyebab lonjakan pada sektor listrik dan gas berasal dari peningkatannya transaksi penjualan di seluruh segmen konsumen. Konsumsi utama tercatat pada sektor rumah tangga, bisnis, hingga industri.
"Peningkatan ini disebabkan peningkatan penjualan listrik semua segmen konsumen, utamanya rumah tangga, bisnis dan industri," katanya.
Selain listrik dan gas, sektor penyediaan akomodasi makan dan minum turut mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 10,60 persen. Kenaikan ini terdorong oleh meningkatnya okupansi hotel serta perluasan jangkauan jasa boga untuk penerima program MBG.
Sektor informasi dan komunikasi juga mengalami pertumbuhan sebesar 6,97 persen pada periode yang sama. Pemanfaatan jasa telekomunikasi terus meluas pada bidang kesehatan, pendidikan, hingga perdagangan.
"Informasi dan komunikasi tumbuh 6,97% ditopang oleh semakin luasnya pemanfaatan jasa telekomunikasi di berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan dan perdagangan, dan lainnya," tambahnya.
Di sisi lain, sektor pertambangan justru mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen. Penurunan signifikan terjadi pada pertambangan bijih logam yang merosot hingga 9,42 persen akibat penurunan produksi bijih bauksit, timah, dan nikel.
"Selain itu belum pulihnya operasi tambang bawah tanah di Grasberg di provinsi Papua Tengah pasca insiden longsor pada September 2025," ungkapnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow