Dedi Mulyadi Cek Kerusakan Gempa NTT dan Salurkan Bantuan Rp20 Juta
Dedi Mulyadi turun langsung mengecek rumah warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat 21/8/2026. Peninjauan dilakukan hingga malam untuk memastikan data penerima bantuan sesuai kondisi kerusakan.
Pemeriksaan mencakup rumah dengan dinding retak parah hingga tiang penyangga yang terlepas. Dedi menegaskan bantuan diberikan setelah tingkat kerusakan dipastikan.
“Kalau rusaknya berat, kita bantu Rp 20 juta,” ujar Dedi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (22/8/2026).
Di Kelurahan Bangka Leleng, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Dedi menyebut 23 rumah rusak berat menerima bantuan Rp 20 juta per rumah dan 83 rumah rusak ringan mendapat Rp 5 juta per rumah.
“Kita pastikan data rumah yang rusak berat, retak-retak, hingga yang roboh terdata dengan benar. Penyaluran bantuan dilakukan secara transparan dan tunai agar warga bisa langsung memperbaiki tempat tinggalnya,” kata Dedi.
Di Kelurahan Nggalakleleng, Kecamatan Pocoranaka, bantuan diberikan untuk 20 rumah rusak berat masing-masing Rp 20 juta dan 18 rumah rusak ringan masing-masing Rp 5 juta.
Adi Komar mengatakan jumlah penerima bantuan bertambah setelah tim melakukan pengecekan ulang di lokasi, dan penyaluran diarahkan agar warga tidak menunggu lama untuk memperbaiki rumah.
“Penyaluran bantuan dilakukan bersama Tim Aju BPBD Jabar, BPBD setempat, pemerintah daerah, dan sejumlah pihak terkait,” ucap Adi Komar.
Kompas melaporkan total bantuan untuk warga terdampak gempa NTT dari sejumlah pihak di Jawa Barat mencapai Rp 4,5 miliar, dengan rincian Baznas Jawa Barat Rp 1 miliar, Bank BJB melalui program BJB Peduli Rp 1 miliar, serta kontribusi lain termasuk bantuan pribadi Dedi Mulyadi Rp 600 juta dan Wali Kota Depok Supian Suri Rp 500 juta.
Di wilayah Wae Pesi, Kabupaten Manggarai, warga menghentikan kendaraan rombongan anggota Polri yang melintas menuju Posko Reo pada Sabtu 22/8/2026 karena belum menerima bantuan pascagempa.
“Kami memahami kekecewaan masyarakat. Dalam situasi bencana seperti ini, warga tentu ingin segera mendapatkan bantuan,” kata AKP Ngurah Saba Nugraha, Kasi Humas Polres Manggarai.
Ngurah mengatakan kedatangannya untuk mendengarkan kebutuhan masyarakat dan menjelaskan kondisi pendistribusian bantuan agar dapat dipahami bersama.
“Kami datang untuk mendengarkan apa yang menjadi kebutuhan mereka dan menjelaskan kondisi pendistribusian bantuan agar semuanya bisa dipahami bersama,” ujarnya.
Setelah penjelasan, warga membuka kembali akses jalan dan rombongan Polri melanjutkan perjalanan ke Posko Reo.
Di Kampung Logo Atas, Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, sejumlah anak di lokasi pengungsian sempat makan nasi putih yang dicampur kopi karena kebutuhan pangan belum diterima merata sejak Jumat 21/8/2026.
“Anak-anak makan nasi putih campur kopi karena kemarin belum dapat sumbangan makanan,” kata Aidah.
Aidah menyebut di posko tersebut terdapat sekitar 20 kepala keluarga dengan bantuan berupa 5 kilogram beras, tiga bungkus mi instan, dan satu rak telur, sehingga masih dinilai kurang.
Mikael Amir mengatakan bantuan makanan yang diterima belum merata dan posko yang dikelola mandiri jarang mendapat bantuan.
“Bantuan makanan yang kami terima tidak merata dan menjangkau semua. Apalagi kami yang bangun posko mandiri hanya dapat bantuan sedikit,” kata Mikael.
Mikael juga meminta pemerintah daerah datang langsung untuk dukungan psikologis, terutama bagi anak-anak yang mengalami trauma akibat gempa.
“Kami merasa kurang diperhatikan karena sampai saat ini belum ada kunjungan dari pemerintah untuk menguatkan psikologi kami dan anak-anak,” ungkap Mikael.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow