Core Indonesia Sebut Asumsi Yield SBN 2027 Realistis

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah menetapkan asumsi imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun sebesar 6,9 persen dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2027 pada Senin, 17 Agustus 2026. Angka tersebut dirancang sebagai perhitungan rata-rata tahunan biaya bunga utang, bukan target level pasar akhir tahun.

Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai patokan tersebut masih realistis meski imbal hasil Surat Utang Negara tenor 10 tahun di pasar saat ini berada di level 7,2 persen, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

"Angka itu merupakan rata-rata tahunan untuk menghitung biaya bunga utang, bukan target yield pada akhir 2027," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia.

Selisih 25 hingga 30 basis poin antara asumsi pemerintah dan kondisi pasar dinilai masih dalam rentang wajar secara historis. Namun, ruang penurunan imbal hasil SUN masih dibayangi risiko nilai tukar rupiah yang diasumsikan Rp17.500 per dolar AS dalam RAPBN 2027, sementara pasar bergerak di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS.

"Jika rupiah tetap lemah, ruang penurunan yield akan lebih terbatas karena premi risiko nilai tukar masih menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan yield SBN," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia.

Di sisi lain, inflasi domestik Juli 2026 yang tercatat 2,88 persen serta inflasi inti 2,76 persen dinilai memberikan ruang bagi penurunan imbal hasil karena imbal hasil riil SBN masih relatif tinggi.

"Ruang penurunan yield sebenarnya ada, tetapi sangat bergantung pada arah suku bunga global dan kebijakan BI," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia.

Core Indonesia memproyeksikan imbal hasil SUN tenor 10 tahun pada 2027 bergerak dalam rentang 6,7 persen hingga 7,4 persen dengan rata-rata 7,0 persen sampai 7,1 persen. Target defisit APBN 2027 sebesar 2,40 persen terhadap PDB juga berpotensi meredakan tekanan pasokan SBN di pasar.

"Angka 6,9% masih mungkin tercapai jika siklus penurunan suku bunga global benar-benar berjalan dan rupiah lebih stabil. Tanpa dua kondisi tersebut, yield kemungkinan bertahan lebih dekat ke 7%," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia.

Meski demikian, risiko tetap ada jika realisasi penerimaan pajak meleset dari target peningkatan 12,1 persen serta adanya kebutuhan refinancing surat utang jatuh tempo. Respon pasar pasca-penyampaian RAPBN 2027 juga menunjukkan investor masih berhati-hati pada tenor panjang.

"Artinya, pasar lebih cepat merespons ekspektasi penurunan suku bunga di tenor pendek, tetapi masih berhati-hati untuk masuk ke tenor panjang," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia.

Perhatian pasar dalam jangka pendek tertuju pada lelang SUN pada Selasa, 18 Agustus 2026, yang digelar sehari sebelum keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 19 Agustus 2026. Lelang tersebut diperkirakan menyerap penawaran Rp60 triliun hingga Rp75 triliun.

"Untuk benchmark 10 tahun, saya memperkirakan yield yang dimenangkan berada di sekitar 7,25%-7,35%," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia.

Untuk strategi investasi, instrumen tenor 5 hingga 10 tahun dinilai lebih menarik dibandingkan tenor sangat panjang karena menawarkan imbal hasil terukur dengan risiko durasi yang lebih terkendali.

"Tenor 5 sampai 10 tahun menawarkan carry yang masih menarik dengan sensitivitas terhadap kenaikan yield yang lebih terkendali," kata Yusuf Rendy Manilet, Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed