Coca-Cola dan M Mart Sediakan Drop Box Botol PET di Bali

Smallest Font
Largest Font

Coca-Cola System di Indonesia bekerja sama dengan pengelola jaringan M Mart memperluas pengelolaan sampah plastik melalui penyediaan fasilitas pengumpulan botol PET pascakonsumsi pada 20 gerai di Bali, sebagaimana dilansir dari Investor Daily pada Kamis (13/8/2026).

Inisiatif bertajuk Recycle Me tersebut dihadirkan guna meningkatkan pemilahan sampah langsung dari sumbernya. Langkah ini difokuskan untuk memastikan kemasan plastik yang terkumpul dapat masuk kembali ke dalam rantai proses daur ulang secara optimal.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, Provinsi Bali mencatatkan timbulan sampah mencapai 1,25 juta ton per tahun atau sekitar 3.436 ton setiap hari. Dari total volume tersebut, sampah plastik menyumbang porsi lebih dari 17 persen.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali I Made Dwi Arbani menyatakan bahwa penanganan persoalan limbah di daerahnya membutuhkan kolaborasi lintas pihak, termasuk keterlibatan aktif sektor bisnis.

"Bali saat ini menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang cukup besar sehingga membutuhkan keterlibatan semua pihak untuk menghadirkan solusi yang berkelanjutan," ujar I Made Dwi Arbani.

Melalui program ini, masyarakat dapat menyerahkan botol PET bekas ke titik pengumpulan yang tersedia di jaringan ritel. Botol yang terkumpul akan dikelola oleh Mahija Parahita Nusantara, sebelum diolah Amandina Bumi Nusantara menjadi material rPET grade makanan.

Public Affairs, Communications, and Sustainability CCEP Indonesia Dhedy Adi Nugroho menjelaskan bahwa kemudahan akses pengumpulan menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem daur ulang yang tertutup dan efisien.

"Melalui 'Recycle Me', kami ingin membuat pengembalian kemasan menjadi lebih mudah dan praktis bagi konsumen, sekaligus memastikan botol yang terkumpul dapat memiliki kehidupan kedua melalui proses daur ulang," ujar Dhedy Adi Nugroho.

Skema pengumpulan ini mengandalkan peran peritel sebagai penghubung langsung antara masyarakat dengan sistem daur ulang kemasan. Keberadaan titik pengumpulan di area pertokoan diharapkan mampu memicu kebiasaan pemilahan sampah sejak dari tingkat konsumen.

Dhedy menambahkan bahwa penerapan ekonomi sirkular menuntut keterkaitan yang kuat mulai dari tahap perancangan kemasan hingga penggunaan kembali material daur ulang.

"Membangun ekonomi sirkular membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari desain dan produksi kemasan, pengumpulan pascakonsumsi, hingga proses daur ulang dan penggunaan kembali," kata Dhedy Adi Nugroho.

Keberhasilan program ini berpatokan pada partisipasi masyarakat, keandalan pengangkutan, serta kepastian bahwa material plastik bekas benar-benar masuk ke fasilitas pengolahan kembali tanpa berakhir di tempat pembuangan akhir.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed