Bambang Soesatyo Tegaskan Industri Properti Pilar Ketahanan Ekonomi Nasional
Bambang Soesatyo, Komisaris Independen PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), menegaskan industri properti harus menjadi pilar utama ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang meningkat, dengan pengaruh dari geopolitik, perang dagang, dan perubahan iklim.
Sektor properti memiliki efek pengganda besar karena menggerakkan lebih dari 180 subsektor industri, termasuk semen, baja, kaca, dan usaha mikro hingga menengah. Ketika sektor ini tumbuh sehat, ekonomi nasional bergerak, lapangan kerja tercipta, dan investasi berkembang.
"Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Indonesia memerlukan sektor ekonomi yang memiliki daya tahan kuat sekaligus mampu menggerakkan banyak sektor lainnya. Industri properti memenuhi karakter tersebut. Karena itu, penguatan sektor properti harus menjadi bagian dari strategi nasional menjaga pertumbuhan ekonomi, meningkatkan investasi, sekaligus memperluas kesempatan kerja," ujar Bambang Soesatyo pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Penegasan itu disampaikan usai Board of Commissioners Meeting PT Lippo Karawaci Tbk di Menara Matahari Lippo Village Central Karawaci Tangerang, Banten. Pertemuan dipimpin Komisaris Utama Prof Dr Ginandjar Kartasasmita dan dihadiri jajaran komisaris serta direksi, termasuk CEO John Riady dan Presiden Direktur Indra Yuwana.
Bambang Soesatyo menjelaskan transformasi industri properti yang kini fokus pada pengembangan ekosistem perkotaan terpadu, menggabungkan real estat, layanan kesehatan, pendidikan, dan gaya hidup dalam satu kawasan untuk efisiensi dan daya saing kota.
"PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) merupakan salah satu perusahaan yang mengembangkan konsep kota mandiri (integrated township) di Indonesia melalui berbagai proyek township, jaringan Lippo Malls, Hotel Aryaduta, serta Siloam Hospitals yang kini telah berkembang menjadi salah satu jaringan rumah sakit swasta terbesar di Indonesia," kata Bambang Soesatyo.
Meski pendapatan LPKR menurun sebesar 12% menjadi Rp 3,60 triliun pada semester I 2026 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, laba bersih perusahaan naik 179% menjadi Rp 385 miliar, menunjukkan ketahanan di tengah tantangan ekonomi, menurut laporan keuangan yang dilansir dari Detik Finance.
Pra penjualan mencapai Rp 3,70 triliun dengan EBITDA Rp 754 miliar, naik 20% dari Rp 627 miliar pada semester I 2025. Posisi kas tercatat Rp 1,41 triliun hingga Juni 2026.
"Ke depan, daya saing pengembang tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak rumah yang dijual. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan membangun kawasan yang produktif, sehat, nyaman, terintegrasi, serta mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kota mandiri merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia," ungkap Bambang Soesatyo.
Ia mengingatkan tantangan industri properti semakin kompleks dengan digitalisasi, kecerdasan buatan, pembangunan rendah emisi karbon, efisiensi energi, dan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) menjadi standar baru. Perusahaan harus mempercepat transformasi menuju smart city yang memanfaatkan teknologi digital untuk pengelolaan energi, keamanan, transportasi, dan lingkungan.
"Saya optimistis industri properti akan terus menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat perlu membangun kolaborasi yang semakin kuat agar investasi terus tumbuh, kawasan-kawasan ekonomi baru berkembang, serta manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat luas. Ketahanan ekonomi nasional akan semakin kokoh apabila ditopang sektor properti yang sehat, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan," pungkas Bambang Soesatyo.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow