Aksi Jual Saham Cip Tekan Wall Street Akibat Keraguan Valuasi AI
Aksi jual saham sektor teknologi dan produsen cip menekan bursa saham Wall Street pada Jumat (17/7), dipicu oleh keraguan investor terhadap valuasi investasi kecerdasan buatan (AI) serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Indeks Nasdaq 100 memimpin penurunan dengan pelemahan 1,6%, sementara S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average masing-masing turun 0,5% dan 0,2%.
Raksasa industri seperti Alphabet Inc., Netflix, Nvidia, hingga Intel mencatatkan pelemahan saham seiring kekhawatiran tingginya belanja infrastruktur AI yang belum menjanjikan laba proporsional.
Prospek bisnis yang solid dari Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) tertutupi oleh tingginya proyeksi belanja modal perusahaan, sehingga memicu koreksi saham meskipun mencatatkan pendapatan yang melebihi ekspektasi.
"Pergerakan saham-saham chip ke depan masih menjadi isu paling penting bagi pasar saham," ujar Matt Maley, perwakilan Miller Tabak.
Empat operator AI terbesar di Amerika Serikat diperkirakan akan menggelontorkan lebih dari US$725 miliar tahun ini, yang membuat para pelaku pasar mulai mempertanyakan rasionalitas valuasi di tengah ekspektasi pertumbuhan industri semikonduktor yang sangat optimistis.
"Saham-saham tersebut mulai menunjukkan sejumlah tanda pelemahan yang cukup berarti. Karena itu, mereka perlu segera mencatatkan pemulihan yang kuat dan berkelanjutan. Jika tidak, hal itu akan memunculkan sinyal peringatan yang serius," kata Matt Maley.
Dari sisi makroekonomi, laporan terbaru menunjukkan penurunan klaim tunjangan pengangguran mingguan serta pertumbuhan moderat pada penjualan ritel Amerika Serikat bulan Juni, yang mencerminkan fondasi perekonomian masih solid di tengah suku bunga tinggi.
"Terlepas dari berbagai tantangan, konsumen masih terus berbelanja dan pasar tenaga kerja belum menunjukkan tanda-tanda pelemahan," ujar Ellen Zentner, perwakilan Morgan Stanley Wealth Management.
Kombinasi ketahanan pasar tenaga kerja dan stabilnya konsumsi memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk berhati-hati dalam memangkas suku bunga, terutama setelah Gubernur The Fed Kansas City, Jeff Schmid, memperingatkan risiko percepatan inflasi ke depan.
"Data seperti ini tidak akan mengubah arah kebijakan The Fed, tetapi menegaskan ketahanan ekonomi AS yang masih berlanjut," kata Ellen Zentner.
Perhatian investor kini beralih pada rilis laporan keuangan dari emiten besar Wall Street seperti UnitedHealth Group dan pemberi pinjaman utama lainnya untuk mengevaluasi efektivitas operasional serta margin keuntungan perusahaan di tengah tekanan biaya.
"Laporan kinerja keuangan perusahaan akan membantu memisahkan sinyal nyata dari kebisingan pasar, sekaligus menunjukkan apakah konsumen masih tangguh atau justru mulai mengurangi belanja mereka," ujar Bret Kenwell, analis eToro.
Meningkatnya ketegangan geopolitik akibat eskalasi militer di Timur Tengah turut membatasi pemulihan aset berisiko, yang berdampak langsung pada pergerakan harga minyak mentah dan memengaruhi spekulasi terkait laju inflasi masa depan.
| Instrumen Keuangan | Kinerja Terakhir |
|---|---|
| Indeks S&P 500 | Turun 0,5% |
| Nasdaq 100 | Melemah 1,6% |
| Dow Jones Industrial Average | Turun 0,2% |
| MSCI World Index | Terkoreksi 0,5% |
| Bloomberg Dollar Spot Index | Naik 0,2% |
| Euro | Melemah 0,2% menjadi US$1,1441 |
| Pound sterling | Turun 0,5% menjadi US$1,3475 |
| Yen Jepang | Melemah 0,1% menjadi 162,39 per dolar AS |
| Bitcoin | Turun 1,1% menjadi US$64.200,35 |
| Ether | Merosot 2,6% menjadi US$1.873,44 |
| Yield US Treasury 10 tahun | Naik 1 basis poin menjadi 4,56% |
| Yield Obligasi Jerman 10 tahun | Naik 1 basis poin menjadi 3,13% |
| Yield Obligasi Inggris 10 tahun | Naik 3 basis poin menjadi 4,97% |
| Minyak mentah WTI | Turun 0,7% menjadi US$79,06 per barel |
| Harga emas spot | Melemah 2,1% menjadi US$3.976,31 per troy ounce |
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow