Yordania dan Mesir Hadapi Dampak Berbeda dari Perang Iran-AS

Smallest Font
Largest Font

Yordania dan Mesir menghadapi dampak berbeda dari perang yang meletus antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Yordania menjadi sasaran langsung serangan, sementara Mesir lebih menjaga jarak namun kehilangan pengaruh politik di regional.

Yordania yang dekat dengan AS menerima bantuan besar dan menempatkan ribuan tentara AS di pangkalan udara Muwaffaq Salti. Namun, negara ini menjadi target serangan Iran yang menembakkan setidaknya 262 rudal dan drone hanya dalam bulan pertama perang, menurut CNBC Indonesia.

Serangan tersebut memicu dampak ekonomi serius, seperti pembatalan penerbangan dan penurunan wisatawan hingga hampir 10% pada awal 2026. Selain itu, gangguan pasokan gas dari Israel memaksa Yordania menggunakan bahan bakar fosil mahal, meningkatkan biaya energi hingga 36% tahun ini, kata IMF.

Mesir, di sisi lain, masih mempertahankan pertumbuhan ekonomi 4,6% tahun ini dengan dukungan IMF dan meningkatnya pendapatan dari Terusan Suez serta remitansi warga negaranya. Namun, Mesir menghadapi risiko berkurangnya pendapatan dari Terusan Suez akibat serangan kelompok yang didukung Iran di Laut Merah, serta kenaikan tarif listrik hingga 12%, menurut CNBC Indonesia.

Mesir juga kehilangan peran sebagai mediator utama konflik Timur Tengah. Setelah serangan Hamas pada 2023, Mesir sempat menjadi pusat diplomasi, tapi kini posisinya tergeser oleh Pakistan, Turki, dan negara Teluk, yang lebih aktif dalam negosiasi gencatan senjata.

Anwar Gargash, penasihat diplomatik Presiden Uni Emirat Arab, mengkritik sikap diam Mesir saat serangan Iran terjadi, mengindikasikan ketidaknyamanan sekutu Arab besar terhadap posisi Mesir, lapor CNBC Indonesia.

Iran mengklaim berhasil menghancurkan pangkalan militer AS di Timur Tengah dan menewaskan sekitar 500 tentara AS selama perang 17 hari pada Juli 2026, termasuk serangan drone yang menargetkan pangkalan di Kuwait, sebagaimana dilaporkan oleh CNN Indonesia dan Serambi News.

Komando Pusat AS mencatat empat tentara tewas dan 417 lainnya luka-luka dalam konflik ini, dengan sebagian besar mengalami cedera otak traumatis (TBI), kata Liputan6. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran jangka panjang bagi veteran perang AS, termasuk gangguan memori dan masalah kesehatan lainnya.

Menurut para ahli, gelombang ledakan yang dialami tentara berbeda dari cedera fisik biasa dan dapat menyebabkan efek seluler yang rumit. Serangan drone Iran yang dekat dengan tentara juga memperburuk risiko cedera otak, lapor Liputan6.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed