— Sebuah gelombang protes menggulung Shelter Island setelah keluarga miliarder George Soros disebut membeli sedikitnya 18 kavling tanah di pulau tersebut. Aksi pembelian skala besar itu memicu kemarahan warga setempat yang menyatakan kepemilikan itu mengubah karakter komunitas dan lanskap alam.

Dokumen publik yang ditelaah menunjukkan transaksi-transaksi bernilai jutaan dolar itu dilakukan melalui jaringan perusahaan cangkang (LLC) untuk menyembunyikan identitas pembeli. Pelacakan dokumen mengaitkan rangkaian transaksi tersebut pada keluarga besar taipan finansial itu.

Protes Warga

Warga lokal mengeluhkan lonjakan harga tanah dan rumah setelah masuknya modal besar ke Shelter Island, kawasan yang selama ini dikenal sebagai area tenang dengan komunitas yang erat. Banyak penduduk asli, terutama generasi muda, kini merasa kesulitan membeli rumah di wilayah kelahiran mereka.

“Mereka datang dengan uang yang tidak terbatas, membeli apa saja yang bisa dibeli, dan membangun benteng-benteng beton raksasa. Mereka benar-benar merusak keindahan alami pulau ini dan menjepit ruang hidup kami,” kata seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Dampak Terhadap Identitas dan Lingkungan

Keluhan warga bukan hanya soal ekonomi. Beberapa kavling yang sebelumnya berupa ruang terbuka hijau atau rumah tradisional kini telah atau direncanakan untuk dikembangkan menjadi properti mewah, menurut laporan investigasi terbaru.

Aktivis lingkungan dan komunitas lokal menuduh langkah ini mengorbankan kelestarian ekosistem serta karakter historis pulau. Mereka menyatakan rasa khawatir atas perubahan permanen yang terjadi pada lanskap dan fungsi ruang publik.

Respon dan Kontroversi Lebih Luas

Hingga saat ini, perwakilan keluarga tersebut maupun Open Society Foundations belum memberikan komentar resmi terkait pembelian lahan skala besar di Shelter Island. Bagi warga setempat, perlawanan terhadap apa yang mereka sebut sebagai gentrifikasi ekstrem baru saja dimulai.

Kasus ini merupakan bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai pembelian properti oleh individu dan keluarga sangat kaya di kawasan elit seperti Hamptons, yang dianggap mendorong kenaikan harga properti dan perubahan sosial-ekonomi di komunitas lokal.