AchmadNurHidayat.ID — Ketua Harian III DPP Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Andi Muhammad Syakir menyatakan akses informasi dan teknologi menjadi faktor krusial untuk memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok.
Menurut Syakir, petani perlu mendapat data pasar, harga komoditas, inovasi teknologi, serta teknik budidaya yang meningkatkan efisiensi. “Petani membutuhkan informasi mengenai perkembangan pasar, harga komoditas, inovasi teknologi, hingga teknik budidaya yang semakin efisien,” kata Syakir di Jakarta, Jumat (3/7/2026).
Dorongan Hilirisasi dan Nilai Tambah
Andi menekankan pentingnya pengembangan hilirisasi agar Indonesia tidak hanya bergantung pada ekspor bahan baku mentah. Ia menyebut sejumlah komoditas perkebunan memiliki potensi nilai tambah yang besar jika diproses lebih lanjut.
“Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang sangat besar pada berbagai komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, kelapa, lada, pala, cengkih, dan tembakau,” ujarnya.
Suara Petani Tembakau
Kelompok petani menyoroti bahwa keberlanjutan sektor tembakau bergantung bukan hanya pada produktivitas di lapangan, tetapi juga arah kebijakan pemerintah.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Mahmudi mengatakan minat petani menanam tembakau pada musim tanam tahun ini tetap tinggi. Faktor cuaca kemarau dipandang mendukung kualitas panen, sementara pendapatan dari tembakau dinilai menjanjikan dan serapan industrinya konsisten.
Mahmudi mengeluhkan keterlibatan petani dalam perumusan kebijakan. “Selama ini, petani sering merasa hanya menjadi objek kebijakan tanpa dilibatkan secara langsung dalam proses penyusunannya. Padahal, merekalah yang akan merasakan dampak paling besar dari setiap perubahan regulasi,” katanya.
Ia meminta agar kebijakan pertembakauan seimbang antara tujuan perlindungan kesehatan masyarakat dan keberlanjutan mata pencaharian petani. Kekhawatiran muncul karena dorongan regulasi dari Kementerian Kesehatan dinilai berpotensi bertolak belakang dengan upaya pemerintah meningkatkan kesejahteraan petani.
Mahmudi juga menilai karakteristik tembakau lokal perlu dipertahankan sebagai kekuatan industri nasional, mengingat mayoritas bahan baku diserap dari dalam negeri.
Data yang dikutip mencatat produk hasil hilirisasi tembakau memberikan kontribusi ekspor. Pada 2024, nilai ekspor produk hasil tembakau tercatat mencapai US$1,7 miliar atau meningkat 21,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pemerintah dan Upaya Kebangkitan Perkebunan
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Ali Jamil mengatakan pemerintah memberi perhatian pada upaya mengembalikan kejayaan sektor perkebunan nasional melalui peningkatan produksi dan kualitas komoditas.
Dalam forum Focus Group Discussion bertema Kondisi Sosial Ekonomi Perkebunan dan Hilirisasi Perkebunan Rakyat, Ali menyatakan pemerintah siap memberikan pendampingan mulai dari peningkatan kualitas produk, pelatihan ekspor, hingga market intelligence serta fasilitasi pertemuan dengan pembeli luar negeri.
Ali mengakui masih ada tantangan, termasuk penolakan ekspor akibat masalah pascapanen dan kontaminasi zat tertentu. Karena itu, perbaikan tata kelola rantai pasok disebutnya penting untuk meningkatkan daya saing produk perkebunan di pasar global.
“Kita memiliki potensi yang sangat besar, baik dari sisi sumber daya alam maupun sumber daya manusia,” kata Ali, seraya menegaskan perlunya komitmen pemangku kepentingan untuk membenahi sistem penyimpanan, pengemasan, dan distribusi komoditas secara terintegrasi.
Dalam kerangka tersebut, tembakau disebut memiliki posisi strategis sebagai sumber penghidupan di daerah sentra produksi dan bagian dari ekosistem ekonomi yang melibatkan tenaga kerja serta industri hilir berorientasi ekspor.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
