Trimegah Sekuritas Sarankan Pengelolaan Keuangan Negara Semester II-2026 Fokus Belanja Berkualitas
Penulis : Arnoldus Kristianus 9 Jul 2026 | 15:25 WIB
JAKARTA, investor.id - Trimegah Sekuritas Indonesia menyarankan agar pada semester II-2026 pengelolaan keuangan negara bukan lagi berfokus pada meningkatkan realisasi belanja tetapi untuk menghasilkan belanja berkualitas dan dampaknya terhadap perekonomian.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan realisasi belanja negara mencapai Rp 1.656 triliun pada semester I-2026. Tingkat penyerapan belanja sudah mencapai 43,1% dari target yang sebesar Rp 3.842,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, belanja negara tumbuh 17,8% secara tahunan.
Realisasi belanja negara sebesar Rp 1.656 triliun terbagi dalam belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.298,6 triliun dan transfer ke daerah sebesar Rp 357,4 triliun.
"Saya melihat semester II adalah fase konsolidasi. Dalam hal ini, konsolidasi bukan berarti mengurangi dukungan terhadap perekonomian, tetapi memastikan setiap tambahan belanja benar-benar memberikan manfaat ekonomi yang terukur,” ucap Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian pada Kamis (9/7/2026).
Dia mengatakan, indikator keberhasilan belanja tidak hanya dilihat berdasarkan nilai yang dibelanjakan tetapi bagaimana dampak belanja terhadap investasi baru, meningkatkan produktivitas, membuka lapangan kerja, dan menghasilkan multiplier effect yang nyata bagi perekonomian.
“Kualitas belanja jauh lebih penting dibandingkan besarnya belanja. Penciptaan lapangan kerja dan deregulasi untuk kemudahan sektor swasta harus diutamakan," terang Fakhrul.
Pemerintah memperkirakan defisit negara akan mencapai Rp 734,3 triliun pada akhir tahun 2026. Di mana penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp 3.208,1 triliun dan belanja negara sebesar Rp 3.942,4 triliun.
Fakhrul menilai target defisit tersebut masih realistis dicapai tetapi emester II-2026 akan menjadi periode yang membutuhkan disiplin fiskal yang jauh lebih tinggi dibandingkan semester I-2026. Ruang fiskal memang mulai membaik, terutama dengan prospek harga minyak yang lebih rendah dan penerimaan negara yang lebih kuat.
“Namun justru karena ruang itu mulai terbuka, pemerintah harus semakin disiplin dalam menentukan prioritas belanja," tutur Fakhrul.
Lebih lanjut iia menuturkan bahwa selama ini perhatian publik terlalu terfokus pada besarnya defisit APBN. Padahal, tantangan yang lebih penting justru terletak pada kualitas implementasi kebijakan fiskal. Risiko terbesar Semester II bukan lagi pada kemampuan pemerintah membiayai APBN, melainkan bagaimana memastikan setiap program berjalan sesuai desain awal.
Pentingnya APBN yang Efisien
Editor: Natasha Khairunisa
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Ahli Ingatkan Risiko Perlambatan Ekonomi RI di 2026
Wamenkeu Klaim Tiga Indikator Krisis Belum Terlihat di Perekonomian Nasional
Kritik Arah Perekonomian, Prabowo: Ekonomi Tumbuh Tapi Kelas Menengah Anjlok
Lifestyle 20 menit yang lalu Facundo Tello, Wasit Prancis vs Maroko yang Ramai Dikritik, Siapa Dia? Facundo Tello ditunjuk memimpin Prancis vs Maroko di tengah kritik. Dikenal tegas, pernah keluarkan 10 kartu merah dalam satu pertandingan.
National 28 menit yang lalu Marak Gelombang PHK, DPR Usulkan Pemerintah Beri Insentif Komisi IX DPR mengusulkan agar pemerintah memberikan insentif kepada para pengusaha di tengah maraknya PHK.
Business 29 menit yang lalu Solusi Ini Bantu UKM Dongkrak Kinerja Bisnis Kedua solusi ini membantu pelaku UKM di Indonesia mengurangi waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan administratif.
Lifestyle 51 menit yang lalu Norwegia Dapat Dua Masalah Jelang Lawan Inggris Norwegia pindah hotel akibat kebisingan jelang menghadapi Inggris. Skuad juga sempat terganggu wabah penyakit di internal tim.
Business 59 menit yang lalu AM Mortar Indonesia Luncurkan Dua Inovasi Terbaru di IndoBuildTech 2026 AM Mortar Indonesia turut berpartisipasi dalam pameran konstruksi dan material bangunan, IndoBuildTech 2026, yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City pada 8-12 Juni 2026. Kehadiran AM Mortar Indonesia dalam ajang ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk terus menghadirkan solusi material bangunan berkualitas bagi para profesional konstruksi maupun masyarakat umum.
International 1 jam yang lalu Trump Sebut Iran Mengemis Kesepakatan Usai Digempur AS Donald Trump sebut Iran mengemis damai usai AS gempur 170 target militer di Selat Hormuz. Gencatan senjata terancam bubar.
Tag Terpopuler
Terpopuler
Penulis : Arnoldus Kristianus 9 Jul 2026 | 15:25 WIB
“Banyak program pemerintah memiliki tujuan yang baik, tetapi implementasinya membutuhkan perencanaan yang matang, koordinasi lintas kementerian, serta indikator keberhasilan yang jelas," tutur Fakhrul.
Menurutnya, saat ruang fiskal mulai membaik, pemerintah justru harus lebih selektif dalam menggunakan anggaran. Semester II-2026 ini menjadi periode untuk meningkatkan kualitas belanja negara.
“Kita perlu bergeser dari sekadar mengejar serapan anggaran menjadi mengejar outcome. Pasar akan jauh lebih menghargai APBN yang efisien, terukur, dan konsisten dibandingkan APBN yang hanya ekspansif tetapi sulit dievaluasi dampaknya," terang dia.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan outlook realisasi Belanja Negara sampai dengan akhir semester II tahun 2026 diperkirakan sebesar Rp 3.942,4 triliun.
“Outlook belanja negara hingga akhir semester II tahun 2026 akan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu antara lain dinamika perekonomian global dan pelaksanaan program prioritas,“ tutur Purbaya.
Jika dilihat dari sisi belanja pemerintah pusat, pemerintah akan terus menjaga kinerja belanja tersebut dalam merespons berbagai dinamika perekonomian melalui rangkaian kebijakan yang suportif dan antisipatif antara lain dengan melanjutkan berbagai program prioritas pemerintah seperti revitalisasi sekolah, pembangunan sekolah unggulan, pembangunan dan pelaksanaan sekolah rakyat, penguatan program jaminan sosial, serta melanjutkan pemberian bantuan dan penyaluran subsidi dan kompensasi.
“Berdasarkan hal tersebut maka outlook realisasi anggaran belanja pemerintah pusat sampai dengan semester II tahun 2026 diperkirakan sebesar Rp 3.245,5 triliun,“ tutur Purbaya.
Sementara itu, outlook realisasi transfer ke daerah sampai dengan akhir tahun 2026 sebesar Rp 696,9 triliun dipengaruhi oleh kinerja pemerintah daerah dalam melakukan penyerapan anggaran dan merealisasikan target output.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow