Siasat Secret Service Evakuasi Donald Trump Tuai Perdebatan Etika

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Langkah pengamanan ekstrem yang diterapkan US Secret Service untuk melindungi Presiden AS Donald Trump memicu kontroversi etika global. Tim pengaman kedapatan memanfaatkan pesawat berisi rombongan wartawan sebagai umpan dari ancaman rudal Iran, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Donald Trump secara diam-diam dipindahkan dari pesawat utama menggunakan truk katering bandara usai menaiki Air Force One di Turki pada Juli 2026. Data intelijen Israel mendeteksi adanya potensi serangan rudal darat-ke-udara milik Iran yang mengincar penerbangan kepresidenan tersebut.

Pesawat utama tetap mengudara dari wilayah Turki yang berbatasan langsung dengan Iran. Penerbangan itu membawa puluhan wartawan serta jajaran staf Gedung Putih setelah mendampingi Donald Trump dalam KTT NATO di Ankara.

Pakar kebijakan luar negeri dari Brookings Institution Washington, Asli Aydintasbas, menilai skema rumit menggunakan truk katering tersebut menunjukkan betapa seriusnya ancaman keamanan yang dihadapi.

Mengenai insiden itu, Donald Trump memberikan tanggapan saat berada dalam penerbangan kembali menuju Washington usai menghadiri acara di Ohio.

"Saya rasa pesawat yang saya naiki lebih berbahaya, karena pesawat itulah yang kemungkinan besar akan disasar," kata Donald Trump.

Donald Trump menegaskan bahwa keputusan berpindah armada sepenuhnya mengikuti arahan resmi dari tim pengaman dan militer.

"Merekalah yang meminta saya untuk pindah ke pesawat yang berbeda dengan tingkat keamanan setara. Karena mereka yang meminta, maka saya melakukannya," kata Donald Trump.

Donald Trump juga mengakui bahwa dirinya tidak mengutak-atik detail teknis informasi intelijen terkait bahaya penembakan rudal tersebut.

"Saya hanya tahu ada ancaman di luar sana dan tidak terlalu banyak bertanya. Saya menerima banyak ancaman yang tidak diketahui publik," kata Donald Trump.

Menteri Luar Negeri Marco Rubio dilaporkan tetap berada di dalam pesawat pertama bersama awak media. Strategi ini menuai kecaman tajam dari pakar strategi Partai Demokrat, David Axelrod, yang menilai langkah tersebut membahayakan nyawa seluruh penumpang.

"Semua orang di pesawat itu pada dasarnya dijadikan umpan. Jika penerbangan itu dianggap tidak aman bagi presiden, artinya penerbangan tersebut juga tidak aman bagi orang lain di dalamnya," kata David Axelrod.

Pihak Gedung Putih tidak menampik laporan taktik pengalihan tersebut dan menyatakan bahwa pemerintah memanfaatkan seluruh sarana guna menghadapi berbagai ancaman musuh.

Mantan penasihat Departemen Luar Negeri AS era administrasi Biden, Ned Price, mengkritik tindakan penyesatan informasi kepada media dan masyarakat luas.

"Menyesatkan jurnalis pada saat kejadian, dan lebih buruk lagi, terus membohongi rakyat Amerika berminggu-minggu setelahnya adalah hal yang tidak dapat diterima," kata Ned Price.

Sisi Protokol dan Potensi Dampak Geopolitik

Mantan agen Secret Service, Robert McDonald, menerangkan bahwa prosedur penggunaan pesawat cadangan merupakan langkah standar internasional. Pihaknya meyakini armada pengalih tetap memperoleh pengawalan ketat dari angkatan udara sekutu sehingga tidak dibiarkan tanpa perlindungan.

Kunjungan kerja Donald Trump ke Ankara awalnya menggunakan pesawat Air Force One baru hibah dari Qatar. Namun, ia mendadak memilih kembali menggunakan Air Force One model lama usai KTT NATO dengan alasan kenangan masa lalu.

Laporan analisis belakangan mengonfirmasi bahwa pesawat anyar tersebut belum dilengkapi sistem proteksi keamanan sekomprehensif model lama. Kamera media sempat mengabadikan proses masuknya Donald Trump ke pesawat lama sebelum ia diselundupkan ke pesawat militer Air Force C-32A yang lebih kecil.

Di lain sisi, Asli Aydintasbas menyebut insiden ini rentan dimanfaatkan sebagai sarana propaganda oleh Garda Revolusi Iran (IRGC). Fakta bahwa militer AS harus menyusun skenario penyamaran rumit dinilai dapat memberi klaim kebanggaan tersendiri bagi Iran dalam menanamkan ketakutan pada pihak Barat.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed