AchmadNurHidayat.ID — Rusia melancarkan serangan udara besar ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis (2/7/2026), menewaskan sedikitnya 18 warga dan melukai puluhan lainnya. Ratusan drone dan puluhan rudal menghantam berbagai titik di kota tersebut, menurut laporan resmi Ukraina.
Ledakan hebat mengguncang pusat kota sepanjang malam, memaksa ribuan warga mencari perlindungan di tempat-tempat bawah tanah seperti stasiun metro. Kerusakan tercatat di lebih dari 20 lokasi di seluruh ibu kota.
Rincian Serangan
Angkatan Udara Ukraina menyatakan pihak lawan meluncurkan 74 rudal dan 496 drone selama serangan malam itu. Juru Bicara Angkatan Udara, Yuri Ihnat, menyebut jumlah rudal balistik yang diluncurkan “luar biasa tinggi” dan tingkat intersepsi menurun karena keterbatasan pasokan sistem pertahanan.
Departemen pertahanan Rusia mengonfirmasi melakukan “serangan massal” lewat pernyataan di Telegram, mengklaim menargetkan fasilitas militer, infrastruktur energi, dan bandara di Kyiv serta lokasi lain dengan senjata presisi jarak jauh dari udara, darat, dan laut.
Dampak dan Korban
Otoritas kota melaporkan sedikitnya 18 tewas dan lebih dari 90 orang luka-luka, termasuk anak-anak dan petugas medis. Beberapa bangunan tempat tinggal mengalami kerusakan struktural parah, sementara satu blok apartemen sembilan lantai hancur dan masih disisir petugas penyelamat pada pagi hari.
Institut Biokimia Nasional turut rusak parah; laboratorium canggihnya terbakar. Seorang ahli biologi setempat, Yurii Danylovych, menyebut kerusakan itu sebagai bencana bagi ilmu medis dan biologi Ukraina karena peralatan langka yang hangus.
Respons Pemerintah dan Internasional
Presiden Volodymyr Zelensky mempersingkat kunjungannya ke Irlandia untuk kembali ke Ukraina. Ia menegaskan kebutuhan mendesak akan pasokan pertahanan udara dan mendesak sekutu menyediakan bantuan, termasuk rudal Patriot.
“Serangan utama diarahkan ke Kyiv. Pasokan pertahanan udara untuk Ukraina adalah prioritas mutlak dan sangat kritis,”
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menetapkan Jumat (3/7/2026) sebagai hari berkabung kota. Duta Besar Uni Eropa untuk Ukraina, Katarina Mathernova, menggambarkan serangan itu sebagai pemboman hebat yang melepaskan “neraka” di Kyiv.
Akibat eskalasi, beberapa negara tetangga mengambil tindakan pencegahan: Polandia menerbangkan jet tempur dan Finlandia memberlakukan pembatasan wilayah udara sementara di bagian timur Teluk Finlandia.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan rencana mengusulkan pengetatan sanksi terhadap industri militer Rusia. “Semakin Moskow menyerang warga sipil, semakin banyak sanksi yang harus dijatuhkan,” ujarnya.
Konteks Konflik
Rusia dan Ukraina saling menuduh melancarkan serangan terhadap infrastruktur satu sama lain. Otoritas Rusia menyebut serangan itu sebagai balasan atas serangan drone Ukraina ke wilayah Rusia, sementara Ukraina menegaskan serangan baliknya pernah menyasar fasilitas energi Rusia, termasuk kilang minyak.
Sejak invasi skala penuh pada Februari 2022, serangan udara telah menewaskan ribuan warga sipil di berbagai kota Ukraina, menurut catatan resmi yang disebutkan pihak Ukraina. Pertukaran serangan di sektor energi antara kedua negara terus memicu eskalasi pasukan udara dan dampak terhadap infrastruktur sipil.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
