Rupiah Berpotensi Melemah hingga Rp18.300 per Dolar AS Pekan Ini
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi kembali melemah hingga menyentuh level Rp18.200 sampai Rp18.300 per dolar AS pada pekan ini akibat ketegangan konflik di Timur Tengah. Tren depresiasi mata uang Garuda ini dipengaruhi oleh tingginya beban utang serta ketergantungan impor yang terus menekan posisi rupiah, sebagaimana dilansir dari Detik Finance pada Selasa (14/7/2026).
Analis Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa secara historis rupiah sulit untuk kembali menguat secara signifikan ke level tahun-tahun sebelumnya setelah mengalami pelemahan. Kondisi tersebut diperparah oleh permintaan dolar AS yang konsisten melonjak demi membayar bunga cicilan utang asing serta kebutuhan impor bahan bakar dan bahan baku produksi dalam negeri.
"Rupiah ini melemah di atas Rp 18.200 kemungkinan besar akan terjadi. Karena saya sendiri memberikan target di minggu ini itu kemungkinan Rp 18.300-an," kata analis Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi.
Ibrahim juga menyoroti keterkaitan antara akumulasi utang pemerintah dan pelemahan nilai tukar yang terjadi secara terus-menerus selama lebih dari satu dekade terakhir. Apabila Indonesia tidak menekan volume utang dan impor, masyarakat harus menerima kondisi nilai tukar dolar AS yang semakin tinggi meskipun otoritas moneter tetap melakukan intervensi.
"Kita harus lihat sejarah, dari tahun 2014 sampai tahun 2026 tidak pernah rupiah itu menguat, rupiah selalu melemah. Semakin tahun hutang pemerintah semakin besar, itulah yang membuat rupiah melemah," ujar Ibrahim.
Ia memproyeksikan bahwa level Rp17.800 merupakan batas penguatan paling rendah yang mungkin dicapai untuk saat ini. Pola pergerakan historis ini dinilai akan terus berlanjut dan membatasi peluang penguatan rupiah secara signifikan pada tahun-tahun mendatang.
"Kalau seandainya turun pun juga kemungkinan besar di Rp 17.800 itu sudah paling rendah. Artinya apa? Turun mencapai di level tahun 2025 sangat sulit.
Nanti pun juga tahun 2027 turun di bawah harga di tahun 2026 sangat sulit. Karena memang benang merahnya itu dari 2014 sampai saat ini terus mengalami pelemahan," tegas Ibrahim.
Pandangan senada disampaikan oleh Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad yang menilai ruang penguatan rupiah ke posisi semula kini sangat terbatas. Angka target yang telah ditetapkan dalam APBN 2026 pun menjadi tantangan berat untuk direalisasikan di tengah situasi pasar saat ini.
"Kita lihat selama beberapa tahun terakhir memang sulit untuk rupiah kembali ke titik semula ya. Katakanlah 16.500 seperti yang di APBN 2026 targetnya begitu," terang Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad.
Faktor kerentanan rupiah juga dipicu oleh tingginya sensitivitas terhadap sentimen global karena sektor energi dan produksi nasional masih mengandalkan pasokan luar negeri. Hal ini membuat instrumen domestik tidak cukup kuat untuk membendung tekanan eksternal secara mandiri.
"Jadi kita sudah sangat sensitif dengan isu geopolitik di tingkat global gitu ya. Jadi ini yang kemudian nggak bisa kekuatan domestik saja bisa mengantisipasi situasi itu," ujar Tauhid.
Untuk mengembalikan kekuatan rupiah, pemerintah dan Bank Indonesia dihadapkan pada pilihan sulit seperti menaikkan BI-Rate yang berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional. Kenaikan suku bunga acuan tersebut dinilai dilematis karena akan memicu pembengkakan biaya modal dan beban utang.
"Nah itu juga agak sulit sehingga dari titik keseimbangannya ya adalah rupiah tidak terlalu melemah tapi ekonomi masih bisa jalan begitu. Nah titik kesimbangan itu yang kemudian sulit karena tadi bisa saja di bawah Rp 18.000 tapi BI rate-nya harus naik lebih tinggi," ucap Tauhid.
Hingga saat ini, biaya dana yang tinggi dan mahalnya penyaluran kredit domestik menjadi konsekuensi utama yang harus diantisipasi apabila otoritas mengambil kebijakan pengetatan moneter demi menahan laju dolar AS.
"Konsekuensinya kredit mahal, cost of fund naik, kemudian kita harus bayar bunga utang lebih mahal dan sebagainya. Nah itu yang relatif kenapa agak berat untuk mendorong dolar di bawah18.000 untuk saat ini," sambung Tauhid.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow