Pupuk Indonesia Siapkan Rp118 Triliun Peremajakan Pabrik Tua

Smallest Font
Largest Font

PT Pupuk Indonesia (Persero) mengalokasikan dana investasi hingga Rp118 triliun untuk lima tahun mendatang demi meremajakan deretan fasilitas produksi yang sudah berumur, dilansir dari Investor Daily pada Jumat (21/8/2026).

Langkah peremajaan ini diambil menyusul perubahan skema pengelolaan subsidi pupuk yang kini mengacu pada harga pasar, sehingga memberikan kelonggaran finansial bagi perusahaan untuk melakukan pembiayaan secara mandiri.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menegaskan bahwa langkah pembaruan pabrik ini sudah sangat mendesak karena mayoritas sarana produksi perseroan saat ini berada dalam kondisi tua.

"Lebih dari 70% pabrik berbasis nitrogen sudah berusia tua. Dari sekitar 30 pabrik yang kami miliki, 24 pabrik umurnya sudah di atas 20 tahun," ujar Rahmad dalam diskusi Suar Forum 2026 di BSD City, Tangerang, Jumat (21/8/2026).

Tingginya usia operasional tersebut berdampak langsung pada penurunan tingkat efisiensi dan pembengkakan biaya perawatan fasilitas. Menurut Rahmad, efisiensi operasional pabrik pupuk akan makin sulit dijaga ketika masa operasinya sudah melewati batas 20 tahun.

"Dua puluh tahun itu boleh dibilang merupakan the best performance years. Mungkin economic life sebuah pabrik sekitar 20 tahun," kata Rahmad.

Kondisi banyaknya pabrik uzur ini bermula dari sejarah industri pupuk nasional yang mayoritas dibangun pada era 1980-an menggunakan dana APBN dengan skema cost plus fee. Setelah Reformasi 1998, pemisahan keuangan BUMN dan negara membuat pembangunan fasilitas produksi baru melambat secara signifikan.

Kebutuhan modal senilai Rp10 triliun per satu pabrik baru menyebabkan perseroan hanya mampu membangun tiga pabrik baru sepanjang periode Reformasi hingga tahun 2024.

Perubahan mendasar dalam mekanisme subsidi pupuk dari penetapan imbal hasil berbasis biaya menjadi sistem harga pasar kini menjadi pendorong utama peningkatkan margin perseroan.

"Kami dibayar berdasarkan harga pasar. Dengan skema tersebut, ketika kami melakukan investasi dan mendapatkan efisiensi, perusahaan juga mendapatkan tambahan keuntungan," jelas Rahmad.

Melalui reformasi struktural tersebut, perseroan berupaya membangun industri yang mandiri serta tidak membebani APBN.

"Bagaimana industri pupuk bisa berinvestasi secara mandiri, menghasilkan keuntungan, makin efisien, dan pada saat yang sama APBN semakin hemat?," ujar Rahmad.

Alokasi dana Rp118 triliun secara bertahap dalam kurun lima tahun ditargetkan membalikkan struktur usia fasilitas produksi perusahaan secara mendasar.

"Dengan perubahan tersebut, dalam lima tahun ke depan kami akan melakukan investasi sekitar Rp118 triliun. Karena melalui investasi tersebut, pabrik-pabrik dapat diremajakan dan menjadi lebih efisien," tegas Rahmad.

Melalui rencana peremajaan skala besar ini, komposisi fasilitas produksi berumur di bawah 20 tahun ditargetkan mencapai 70 persen dalam lima tahun mendatang.

"Investasi sekarang bisa dilakukan secara mandiri dan keuntungan perusahaan juga meningkat karena kita menggunakan kebijakan yang lebih masuk akal," pungkas Rahmad.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed