Profesor Jason Arday Mundur dari University of Cambridge Setelah Tuduhan Plagiarisme

Smallest Font
Largest Font

Profesor Jason Arday, sosok akademisi sosiologi termuda berkulit hitam di University of Cambridge, Inggris, mengundurkan diri setelah muncul tuduhan plagiarisme terhadap karya akademiknya pada tahun 2026, dilansir dari Detikcom.

Tuduhan plagiarisme itu bermula dari laporan The Telegraph pada Juli 2026 yang menyebut lebih dari 100 bagian dalam disertasi doktoral Arday mirip dengan tesis Paula Zwozdiak-Myers dari Brunel University London yang diterbitkan enam tahun sebelumnya.

Jason Arday dikenal luas dan pernah menjadi pembicara dalam peringatan 75 tahun British Sociological Association di University of Manchester pada April 2026, menunjukkan reputasinya di dunia akademik Inggris.

Nathan Cofnas, akademisi lama Cambridge, menggunakan perangkat lunak pendeteksi plagiarisme dan menemukan sejumlah bagian disertasi Arday yang diduga disalin dengan perubahan minimal, termasuk kesalahan penyuntingan yang ada di sumber asli.

Selain Cofnas, Dr David Harris dari Universitas Plymouth Marjon juga mengkritik dua artikel ilmiah Arday yang diterbitkan pada 2018 dan 2020.

University of Cambridge membela Arday dan menyebut tuduhan tersebut sebagai "kampanye fitnah keji" yang merusak kredibilitasnya. Mereka telah meneruskan laporan tersebut ke Liverpool John Moores, universitas tempat Arday menyelesaikan PhD, yang menyatakan tidak ada plagiarisme.

"Kami menanggapi tuduhan pelanggaran etika akademik dengan sangat serius," kata juru bicara Cambridge. "Investigasi dilakukan oleh institusi tempat penelitian dilakukan agar adil dan menyeluruh."

Arday mengatakan kepada The Guardian bahwa dia mendukung proses investigasi yang adil dan beberapa institusi telah meninjau tuduhan tersebut tanpa menemukan pelanggaran.

Keputusan mundur Arday muncul setelah adanya "informasi baru" terkait kualifikasi akademik dan jabatan kehormatan yang disandangnya. Ia mengakui beberapa kesalahan dalam karya akademiknya, namun membantah sengaja berbohong dan mengaku mengalami tekanan publik serta serangan personal, seperti dikutip dari BBC.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan Good Law Project pada 5 Agustus 2026, Arday menyebut pengangkatannya sebagai profesor Cambridge pada usia 37 tahun pada 2023 sebagai "kehormatan profesional terbesar" dalam hidupnya.

Arday mengungkapkan bahwa menjadi profesor Cambridge adalah pencapaian yang luar biasa, terutama karena ia tumbuh dengan diagnosis autisme dan baru bisa bicara pada usia 11 tahun. Ia juga menyatakan pengangkatannya dianggap simbol keberhasilan menghadapi hambatan.

Ia sangat menikmati perannya sebagai pengajar dan merasa terhormat belajar bersama mahasiswa serta menyaksikan ambisi mereka.

Namun, tahun-tahun setelah pengangkatannya diwarnai pengawasan publik dan serangan personal yang menurutnya "tak kunjung berhenti". Ia menilai kritik akademik wajar, tetapi situasi yang dihadapinya lebih dari sekadar perbedaan pendapat ilmiah.

"Tuduhan, spekulasi, dan komentar publik yang terus-menerus memberikan tekanan berat kepada saya dan orang-orang yang saya cintai," tulis Arday.

Dia menyadari tekanan tersebut mencapai titik yang terlalu besar bagi kehidupan pribadinya dan menegaskan bahwa pengunduran dirinya bukan berarti kehilangan kepercayaan pada dunia akademik.

Arday menolak agar keputusan mundurnya dianggap sebagai pengakuan terhadap tuduhan yang diarahkan kepadanya dan menutup pernyataannya dengan keyakinan akan kembali ke dunia akademik suatu saat nanti.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    1
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed