— Presiden Joko Widodo Prabowo Subianto menyambut penguatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Belarus yang berlangsung lebih intens. Dalam pertemuan dengan Presiden Belarus Alexander Lukashenko, kedua negara sepakat memperluas kerja sama pada berbagai sektor strategis, termasuk ekonomi, industri, dan pertahanan.

Perjanjian yang menjadi sorotan adalah proses ratifikasi perjanjian Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA). Prabowo menyampaikan apresiasi atas selesainya proses ratifikasi oleh Belarus, sementara Indonesia masih dalam tahap ratifikasi.

Investasi Industri dan SDM Jadi Fokus Utama

Dalam pertemuan, sektor manufaktur muncul sebagai salah satu fokus utama. Prabowo menilai masih ada potensi besar yang belum tergarap antara pelaku usaha kedua negara, terutama terkait peningkatan investasi dan joint venture (JV).

“Di bidang industri, kami melihat peluang besar untuk meningkatkan investasi dan joint venture antara pelaku usaha kedua negara, khususnya pada industri manufaktur, otomotif, kendaraan berat, dan agroindustri,” kata Prabowo.

Selain aspek ekonomi, penguatan kualitas sumber daya manusia juga dibahas. Pemerintah Indonesia mendorong kerja sama melalui pertukaran budaya serta penguatan kemitraan antara institusi pendidikan dan pelatihan vokasi.

Penandatanganan Dokumen Kerja Sama

Kedua pemimpin juga bertukar pandangan mengenai isu regional dan global serta menegaskan komitmen untuk mendukung perdamaian dan stabilitas dunia. Untuk menegaskan kerja sama, delegasi kedua negara menandatangani sejumlah dokumen di berbagai bidang.

Dokumen yang ditandatangani mencakup sektor kesehatan, budaya, akreditasi nasional, pelaporan transaksi keuangan, industri, sains dan teknologi, serta jasa keuangan.

Hubungan diplomatik Indonesia dan Belarus telah terjalin sejak 1993. Selama hampir tiga dekade, kerja sama berkembang terutama di sektor ekonomi dan industri berat, di mana Belarus dikenal sebagai produsen kendaraan besar, mesin pertanian, serta komoditas kalium yang menjadi bahan baku penting bagi industri pupuk Indonesia.

Pertemuan bilateral tahun ini dianggap menandai babak baru dengan adopsi perjanjian I-EAEU FTA. Akselerasi ratifikasi perjanjian tersebut diharapkan dapat memangkas hambatan tarif dagang, membuka akses pasar lebih luas ke kawasan Eurasia, serta memperkuat ketahanan industri dan pertahanan nasional melalui transfer teknologi.