Rupiah Berpotensi Melemah Menjelang Perdagangan Pekan Depan

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diproyeksikan mengalami fluktuasi dan ditutup melemah pada Senin, 13 Juli 2026, setelah sempat menguat di akhir pekan. Penurunan ini dipicu oleh sentimen eksternal yang membayangi pergerakan mata uang domestik tersebut.

Pergerakan mata uang garuda ini dilansir dari Investor Daily, di mana pada perdagangan Jumat sore, 10 Juli 2026, rupiah sebenarnya ditutup menguat 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp 18.065 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp 18.128 per dolar AS.

Proyeksi pergerakan mata uang tersebut disampaikan secara tertulis oleh pihak analis pasar berjangka yang memantau dinamika ekonomi global saat ini.

"Sedangkan untuk perdagangan senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 18.060 - Rp 18.110," ungkap Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis yang diperoleh pada Jumat (10/7/2026).

Ia menambahkan proyeksi mengenai rentang pergerakan nilai tukar mata uang nasional dalam jangka waktu yang lebih panjang sepanjang pekan depan.

"Untuk perdagangan sepekan ke depan, rupiah (diperkirakan bergerak) di antara level Rp 17.870 -Rp 18.300 per dolar AS," bebernya.

Sebelumnya, penguatan rupiah didorong oleh sentimen positif pasar terhadap proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyebut ekonomi Indonesia tumbuh 5,0 persen pada 2026 dan 5,1 persen pada 2027, di atas rata-rata negara berkembang Asia. Namun, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran terkait pasokan minyak mentah dunia.

"Konflik tersebut telah menunda pembukaan kembali sepenuhnya Selat Hormuz, jalur air utama yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas global setiap hari sebelum perang. Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran tentang inflasi yang didorong oleh energi, yang pada gilirannya dapat memicu sikap yang lebih agresif dari Federal Reserve," Ibrahim menyoroti.

Kondisi di Timur Tengah tersebut turut memicu para pelaku pasar untuk meningkatkan ekspektasi mereka terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Amerika Serikat sepanjang tahun 2026.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed