Pertamina Naikkan Harga Dexlite dan Pertamina Dex Mulai 1 September 2026

Smallest Font
Largest Font

PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Turbo mulai 1 September 2026. Penyesuaian harga ini mengacu pada formula resmi pemerintah dengan mempertimbangkan tren harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.

Harga Dexlite melonjak menjadi Rp23.700 per liter dari sebelumnya Rp19.700 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex mengalami penyesuaian dari Rp21.150 per liter menjadi Rp25.200 per liter, dan Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.600 per liter dari sebelumnya Rp18.300 per liter.

"Penyesuaian harga dilakukan dengan mengacu pada formula yang ditetapkan pemerintah," ujar VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora dalam keterangan resminya yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta, Senin (31/8/2026).

Pertamina Patra Niaga mencatat penyesuaian ini dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia, kurs rupiah, perpajakan, serta daya beli masyarakat. Meski terdapat penyesuaian pada lini produk diesel dan varian bensin tinggi, produk BBM nonsubsidi lainnya tidak mengalami perubahan.

"Penyesuaian harga dilakukan hanya sebagian produk BBM Nonsubsidi yaitu pertamax turbo, pertamina dex, dan dexlite," ujar Kitty.

Di sisi lain, harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax RON 92 dan Pertamax Green 95 diputuskan tetap bertahan masing-masing di angka Rp15.950 per liter dan Rp16.600 per liter. Langkah penahanan harga ini dipilah khusus guna mempertimbangkan kondisi ekonomi konsumen domestik.

"Sedangkan, produk BBM nonsubsidi lainnya, seperti pertamax 92 dan pertamax green 95 tidak mengalami penyesuaian harga. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan keekonomian, daya beli, dan kondisi sosial masyarakat," ujar Kitty.

Pertamina Patra Niaga mengonfirmasi bahwa operasional dan pasokan bahan bakar tetap berjalan optimal bagi seluruh masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

Pergerakan harga minyak mentah di pasar global acuan Brent dan WTI mencatatkan kenaikan rata-rata di kisaran 4% hingga 8% sepanjang periode acuan. Di saat yang sama, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di kisaran Rp17.752 hingga Rp17.887 per dolar AS menjadi faktor penahan agar lonjakan biaya pengadaan BBM tidak melonjak lebih tinggi.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Muhammad Ishak Razak menilai dinamika penyesuaian ini terjadi karena biaya pengadaan BBM berbasis mata uang domestik masih berpotensi naik 4% hingga 7%.

"Ruang penurunan harga BBM pada September 2026 masih ada, tetapi terbatas dan hanya berlaku untuk produk non subsidi," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (31/8/2026).

Ishak memaparkan bahwa variabel pembentuk harga jual pada periode Agustus tidak menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan. Menurutnya, rata-rata harga minyak pada Agustus justru lebih tinggi dibanding Juli, sementara penguatan rupiah relatif terbatas.

"Masalahnya, rata-rata harga minyak pada Agustus justru lebih tinggi dibanding Juli, sementara penguatan rupiah relatif terbatas. Secara keseluruhan, biaya pengadaan BBM dalam rupiah masih berpotensi naik sekitar 4%–7% dibanding bulan sebelumnya," jelasnya.

Ishak menambahkan bahwa harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar dipastikan tidak berfluktuasi hingga akhir tahun 2026 guna menjaga stabilitas beban fiskal APBN dan tingkat inflasi nasional.

"Karena itu, skenario yang paling realistis adalah harga BBM non subsidi cenderung tetap ataupun jika turun penurunannya sangat tipis, sekitar Rp 0–Rp 300 per liter. Sementara itu, Pertalite dan Biosolar akan cenderung tetap karena harga subsidi telah ditetapkan hingga akhir 2026," kata Ishak.

Penguasa kebijakan energi dan fiskal terus memantau dinamika inflasi nasional yang saat ini masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia.

"Menurunkan Pertalite dan Solar saat ini justru berisiko memperbesar beban subsidi dan kompensasi yang sudah tinggi serta kurang tepat sasaran. Di sisi lain, inflasi masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia, sehingga belum ada urgensi untuk melakukan intervensi harga secara agresif," imbuhnya.

Pemerintah dan badan usaha terus mengevaluasi pergerakan harga minyak mentah global serta pergerakan kurs rupiah untuk periode penyesuaian berikutnya.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed