Negara NATO Terancam Eskalasi Rusia Usai Inggris Bagi Teknologi Rudal

Smallest Font
Largest Font

Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan potensi peningkatan eskalasi militer Rusia terhadap negara-negara NATO di Eropa untuk menghentikan bantuan militer bagi Ukraina. Peringatan tersebut disampaikan Macron saat menghadiri pertemuan Coalition of the Willing di Kyiv pada Senin, 24 Agustus 2026.

Peringatan itu mengemuka di tengah langkah Pemerintah Inggris menyetujui akses informasi teknis rahasia perakitan rudal jelajah jarak jauh Storm Shadow kepada Ukraina. Di sisi lain, intelijen Ukraina memprediksi mobilisasi ratusan ribu tentara tambahan oleh Moskow di wilayah timur.

Macron menegaskan bahwa negara-negara sekutu harus segera memperkuat kesiapan militer guna menghadapi potensi aksi provokatif dari pihak Rusia.

"Rusia akan mencoba meningkatkan eskalasi terhadap negara-negara Eropa untuk mencegah mereka membantu Ukraina," kata Macron, Presiden Prancis.

Untuk mengantisipasi dampak serangan tersebut, Prancis mendorong percepatan pengiriman serta peningkatan produksi alutsista pencegat pertahanan udara langsung di wilayah Ukraina.

"Jelas bahwa negara-negara NATO akan menjadi sasaran dan provokasi akan semakin meningkat," ujarnya, seraya menyerukan agar negara-negara sekutu Eropa menerapkan "postur yang kuat."

Langkah sekutu Barat memicu respons keras dari Kremlin setelah Perdana Menteri Inggris Andy Burnham mengonfirmasi izin bagi produsen pertahanan MBDA untuk mendistribusikan data rahasia komponen rudal Storm Shadow atau SCALP.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa alih teknologi rudal berjangkauan lebih dari 250 kilometer tersebut membuktikan keterlibatan langsung pihak London dalam mengeskalasi konflik di kawasan.

"Inggris merupakan negara pertama yang memberikan senjata jarak jauh kepada Ukraina pada 2023," katanya, merujuk pada pengiriman rudal Storm Shadow/SCALP.

Pemerintah Inggris menyatakan transfer pengetahuan teknik produksi ini dilakukan atas permintaan resmi dari otoritas militer di Kyiv.

"Saya dengan senang hati mengonfirmasi hari ini bahwa saya telah menyetujui permintaan Kyiv untuk berbagi teknologi produksi rudal tersebut," imbuh Burnham.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memproyeksikan Rusia bakal memobilisasi 300.000 personel tentara baru setelah pemilu parlemen bulan depan. Penambahan pasukan itu diperkirakan bakal dikonsentrasikan untuk merebut seluruh wilayah Donetsk pada akhir tahun.

Zelensky mengklaim pihak Rusia telah kehilangan 267.000 personel sejak awal tahun, termasuk 155.000 korban tewas, yang dinilai sejalan dengan kalkulasi pejabat intelijen Barat.

"Rusia telah kehilangan 267.000 personel sejak awal tahun, termasuk sekitar 155.000 orang yang tewas hingga saat ini," klaim Zelensky, dilansir CNN.

Ukraina meyakini perekrutan prajurit massal tidak akan menyasar kawasan perkotaan utama Rusia guna menghindari potensi gejolak politik domestik.

"Kami yakin bahwa setelah pemilihan umum, mereka akan melakukan mobilisasi. Kami meyakini hal ini tidak akan terjadi di kota-kota besar," ujar Zelensky.

Pihak militer Ukraina menyatakan telah menyusun strategi pertahanan untuk mematahkan penyerangan dari pasukan tambahan yang dikirimkan oleh Kremlin tersebut.

"Mereka akan kehilangan seluruh 300.000 tentara Rusia yang baru dimobilisasi itu di sana; kami akan melenyapkan mereka," tegas Zelensky.

Bersamaan dengan eskalasi politik di Kyiv, media resmi militer Rusia Zvezda TV memamerkan turunan sistem senjata laser Kurier yang dirancang untuk platform kendaraan darat tanpa awak berantai guna memproses pelumpuhan bom target dari jarak 100 meter.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed