Mentan Amran Rebus Mafia Beras Fortifikasi Buntut Kerugian Rp71 Triliun

Smallest Font
Largest Font

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membongkar dugaan permainan mafia perberasan dalam distribusi beras fortifikasi di Indonesia pada Jumat, 31 Juli 2026. Praktik ini dinilai memicu kelangkaan beras premium dan merugikan masyarakat hingga puluhan triliun rupiah.

Kementerian Pertanian mencatat harga beras fortifikasi melonjak hingga Rp42.000 per kilogram di pasaran. Padahal, biaya penambahan kernel fortifikasi hanya sekitar Rp700 hingga Rp1.000 per kilogram, sehingga harga idealnya berada di kisaran Rp14.000-an.

Pemerintah menilai produsen beras beralih mencurangi beras fortifikasi karena penetapan Harga Eceran Tertinggi beras premium sebesar Rp14.900 per kilogram membatasi margin keuntungan mereka. Pengawasan Kementan pada Juni 2026 terhadap 15 merek beras fortifikasi menunjukkan 12 merek tidak memenuhi syarat.

Tindakan manipulasi beras fortifikasi diperkirakan menimbulkan potensi kerugian masyarakat sebesar Rp71,9 triliun dan kerugian negara pada subsidi pangan mencapai Rp56 triliun. Secara total, pemerintah mengalokasikan subsidi pangan senilai Rp144 triliun pada 2025.

Amran menegaskan jajarannya bakal mencabut izin edar produk yang terbukti melanggar aturan standar SNI dan menyerahkan penanganan pidana kepada aparat penegak hukum.

"Ini kelihatan ada yang memainkan lagi perberasan Indonesia, melakukan pergeseran dari beras premium ke fortifikasi," ujar Amran di kediamannya, Jakarta Selatan, Jumat (31/7).

Amran menyebut langkah tegas pencabutan izin edar akan langsung dieksekusi berdasarkan bukti pengujian laboratorium.

"Saya sebagai kepala, Sestama, Dirjen, cabut izinnya. Itu kewenanganku, cabut izinnya dan tidak boleh mengedarkan karena ini sudah ada lab. Kemudian pidananya kirim ke Satgas," katanya.

Terkait motif peralihan produsen dari beras premium ke beras fortifikasi, Amran memberikan penjelasan mendalam saat ditemui di Kawasan Kalibata.

“Iya (beras premium langka karena produsen beralih ke fortifikasi), itu katanya dia geser ke sana karena kalau, dugaan kami kalau dia premium kan tidak bisa main-main, kita kunci, berpindah lagi (ke beras fortifikasi),” kata Amran di Kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (31/7).

Amran menambahkan bahwa tingginya harga jual beras fortifikasi menjadi alasan utama produsen mengejar keuntungan secara tidak wajar.

“(Penyebab beralih) ya margin tipis, karena selalu mau cari untung banyak. Bayangkan kalau jual Rp 42 ribu, gila enggak untungnya,” ujar Amran.

Meskipun ditemukan dugaan penyelewengan, Kementan mencatat stok beras nasional per akhir Juli 2026 mencapai 26,87 juta ton. Total pasokan tersebut diproyeksikan aman untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional hingga 10,38 bulan ke depan.

“Artinya El Nino Godzilla yang sekarang lagi rame, Insya Allah kita bisa lolos dan tidak mempengaruhi kondisi perberasan Indonesia. Stok kita aman,” jelas Amran.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed