Mendikdasmen Jelaskan Sistem Seleksi Sekolah Nasional Terintegrasi
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti memaparkan mekanisme penerimaan siswa Sekolah Nasional Terintegrasi di Bogor, Jawa Barat, pada Senin (10/8/2026). Lulusan jenjang SMP SNT dipastikan otomatis dapat melanjutkan ke jenjang SMA di sekolah yang sama tanpa seleksi ulang.
Sistem terintegrasi ini dirancang untuk memastikan keberlanjutan pendidikan para siswa secara optimal, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Penerimaan angkatan pertama tahun ajaran 2026/2027 mencatat 1.360 siswa lulus dari 2.068 pendaftar di 17 lokasi SNT di Indonesia.
Pemerintah membatasi kuota setiap angkatan SNT sebanyak 80 siswa yang terbagi atas 40 siswa SMP dan 40 siswa SMA guna menjaga kualitas pembelajaran. Penyeleksian guru dan kepala sekolah juga dilakukan secara ketat dengan menyaring 204 guru dari 60.000 pendaftar PPG Prajabatan serta 17 kepala sekolah dari 1.800 pendaftar.
Mu'ti menyampaikan harapan terkait keberlanjutan jenjang pendidikan para lulusan sekolah tersebut.
"Tapi untuk yang SMP, lulusan SMP SNT karena terintegrasi, dia otomatis bisa diterima di SMA (SNT tersebut). Jadi tidak pakai seleksi lagi, makanya kita sebut terintegrasi," kata Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Pemerintah menargetkan para alumni SNT dapat melanjutkan studi ke tingkatan perguruan tinggi dengan mutu yang lebih baik.
"Lulusannya nanti harapannya tentu kalau mereka sudah selesai dari Sekolah Nasional Terintegrasi ini dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi lebih baik," kata Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Keketatan kuota penerimaan peserta didik baru ini diterapkan demi menjaga standar mutu pendidikan di setiap sekolah.
"Kemudian muridnya, kita memang batasi karena menjaga mutu. Maka untuk angkatan pertama ini, jenjang SMP itu kita hanya menerima 40 murid. Kemudian untuk SMA juga kita hanya menerima 40 murid. Jadi jumlahnya hanya 80 murid di masing-masing SNT," kata Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Proses penyaringan siswa difokuskan pada calon peserta didik yang memiliki potensi kognitif dan akademik unggul.
"Jadi tes yang kita pakai adalah tes skolastik yang itu menjadi satu kesatuan dalam seleksi murid di Sekolah Nasional Terintegrasi ini. Jadi fokusnya memang untuk murid yang punya kemampuan di atas rata-rata, baik secara akademik maupun non-akademik," kata Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Skema pembatasan dan seleksi ini juga membedakan SNT dengan program pendidikan unggulan lainnya.
"Kemudian jenjangnya juga sesuai arahan beliau yang terakhir itu hanya untuk SMP dan SMA. Mereka tidak berasrama. Sehingga yang diharapkan kenapa satu kota? Supaya mereka tidak jauh tinggalnya dan supaya setiap satu daerah atau kota ada sekolah yang unggul," kata Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikdasmen Gogot Suharwoto memberikan rincian data penerimaan siswa untuk angkatan perdana.
"Dari yang mendaftar 2.068, telah lulus 1.360 untuk anak-anak kita di 17 lokasi ini. Terdiri dari 680 murid SMP dan 680 murid SMA. Adik-adik ini adalah angkatan pertama SNT tahun 2026-2027," kata Gogot Suharwoto, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen.
Pihaknya juga memastikan bahwa kepemimpinan di setiap SNT diisi oleh figur kepala sekolah terbaik hasil seleksi nasional.
"Kami telah menyeleksi 17 Kepala Sekolah dari 1.800 pendaftar di seluruh Indonesia. Jadi kepala sekolah yang terpilih di SNT Bogor adalah kepala sekolah pilihan," kata Gogot Suharwoto, Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow