LPEM FEB UI Ungkap Tren Overeducation Lulusan S1 di Indonesia
Laporan dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) mengungkap fenomena overeducation yang dialami oleh lulusan sarjana di Indonesia.
Fenomena ini terjadi ketika lulusan perguruan tinggi bekerja pada posisi yang tidak memerlukan tingkat pendidikan setinggi yang mereka miliki. Hal ini menjadi penting untuk dibahas terutama di tengah perluasan akses pendidikan tinggi dengan bertambahnya universitas baru.
Analisis yang diterbitkan dalam Labor Market Brief Volume 7, Nomor 7 Juli 2026 ini menggunakan data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 dan mengacu pada pedoman International Labour Organization (ILO).
Overeducation diklasifikasikan berdasarkan hubungan antara tingkat pendidikan menurut International Standard Classification of Education (ISCED) dan jenis pekerjaan menurut International Standard Classification of Occupations (ISCO), yang dipadankan dengan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI).
Dalam konteks Indonesia, lulusan minimal S1 dianggap sesuai jika bekerja di posisi manajer atau tenaga profesional (KBJI 1 dan 2). Sebaliknya, lulusan S1 yang bekerja pada KBJI 3 sampai 9 dikategorikan mengalami overeducation, karena pekerjaan tersebut dianggap di bawah kompetensi pendidikan mereka.
Data Overeducation Lulusan S1
Menurut laporan, sekitar 8,01 juta lulusan sarjana di Indonesia bekerja pada posisi KBJI 3 hingga 9. Posisi terbesar ditempati oleh tenaga tata usaha dan tenaga usaha jasa serta penjualan.
Distribusi lulusan yang bekerja di bawah tingkat pendidikannya adalah sebagai berikut:
- Tenaga tata usaha (KBJI 4): 31,0%
- Tenaga usaha jasa dan tenaga penjualan (KBJI 5): 29,6%
- Teknisi dan asisten profesional (KBJI 3): 17,7%
- Pekerja terampil pertanian, kehutanan, dan perikanan (KBJI 6): 6,5%
- Pekerja pengolahan, kerajinan, dan yang berhubungan (KBJI 7): 6,1%
- Pekerja kasar (KBJI 9): 5,0%
- Operator dan perakit mesin (KBJI 8): 4,1%
Analisis Tren dan Implikasi
Konsentrasi lulusan S1 di sektor tata usaha dan tenaga usaha jasa menunjukkan adanya kemungkinan inflasi kualifikasi, di mana gelar sarjana menjadi syarat seleksi meskipun isi pekerjaan tidak banyak berubah.
Sementara itu, hampir 3 dari 10 sarjana bekerja di bidang usaha jasa dan penjualan, yang menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja lebih banyak di sektor pelayanan dibandingkan pekerjaan profesional yang membutuhkan pendidikan tinggi.
Selain itu, lebih dari setengah juta lulusan S1 tercatat bekerja sebagai pekerja terampil di bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan. Jika mereka bekerja dalam fungsi produksi, maka termasuk dalam kategori overeducation karena seharusnya lulusan sarjana berperan sebagai ahli, peneliti, atau pengelola usaha.
Perluasan Pendidikan Tinggi dan Kesiapan Pasar Kerja
Laporan ini menekankan bahwa keberhasilan perluasan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah perguruan tinggi atau lulusan, tetapi juga dari kemampuan pasar kerja menyediakan pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi lulusan.
Pertumbuhan lapangan kerja yang memerlukan keterampilan pendidikan tinggi tidak selalu sejalan dengan peningkatan jumlah lulusan. Kesenjangan ini dapat menyebabkan masa tunggu kerja lebih lama dan persaingan yang makin ketat di pasar kerja.
Laporan menyatakan bahwa penambahan kapasitas pendidikan tinggi tanpa perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan ekonomi dapat memperbesar jumlah lulusan tanpa meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan yang sesuai.
LPEM FEB UI menyampaikan bahwa keputusan memperluas pendidikan tinggi harus mempertimbangkan apa yang terjadi setelah lulusan masuk ke dunia kerja. Keberhasilan pendidikan tinggi juga diukur dari kemampuan lulusan untuk bekerja secara produktif dan memanfaatkan kompetensi yang diperoleh selama studi.
Analisis ini dikutip dari Detikcom.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow