Memanasnya Konflik Teluk Memicu Lonjakan Harga Energi dan Kekhawatiran Stagflasi Global

Smallest Font
Largest Font

Penulis : Prisma Ardianto 24 Jul 2026 | 21:04 WIB

Foto ilustrasi. Perahu bermesin (klotok) mengangkut kendaraan roda dua saat menyeberangi Sungai Kapuas rute Desa Sungai Ringin ke Desa Seberangan Kapuas di Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi)

JAKARTA, investor.id – Memanasnya kembali konflik di kawasan Teluk memicu lonjakan harga energi dan menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap stagflasi global. Harga minyak mentah Brent kembali menembus level US$ 100 per barel, sementara inflasi diperkirakan meningkat di tengah prospek perlambatan pertumbuhan ekonomi, sehingga mempersulit langkah bank sentral di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di kawasan Teluk memudarkan harapan tercapainya kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi itu memicu lonjakan harga energi dan kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stagflasi, yakni kondisi ketika inflasi tinggi terjadi bersamaan dengan lemahnya pertumbuhan ekonomi.

Harga minyak mentah Brent kembali menyentuh US$ 100 per barel, sementara harga gas alam di Eropa diperkirakan mencatat lonjakan bulanan terbesar sejak Maret. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir seiring meningkatnya ekspektasi inflasi.

Situasi semakin diperburuk oleh meningkatnya ketidakpastian perdagangan global. Pada Jumat (24/7/2026), Amerika Serikat memberlakukan tarif baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap barang dari 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, Uni Eropa, dan China.

“Risiko stagflasi telah sangat nyata bagi setiap perekonomian sejak Maret, dengan cara yang berbeda-beda,” kata Head of Global Macroeconomics, Amundi Investment Institute, Alessia Berardi, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (24/7/2026).

Ia menilai eskalasi konflik terbaru semakin meningkatkan risiko tersebut. “Perluasan konflik baru-baru ini tentu saja akan meningkatkan risiko stagflasi,” ujarnya.

Harga energi kembali menjadi faktor utama yang mendorong ekspektasi inflasi jangka pendek. Minyak mentah Brent yang sempat turun hingga sekitar US$ 70 per barel pada awal Juli akibat optimisme tercapainya gencatan senjata, kini kembali menyentuh US$ 100 per barel setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah.

Serangan tersebut memperluas gangguan terhadap jalur pelayaran energi global, tidak hanya di Selat Hormuz tetapi juga di Laut Merah. Sepanjang Juli, harga minyak tercatat melonjak hampir 40%, sehingga berpotensi membukukan kenaikan bulanan terbesar sejak Maret.

Kemudian, meski inflasi Amerika Serikat pada Juni tercatat lebih rendah dari perkiraan, lonjakan harga energi kembali mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah di AS, Jepang, dan Jerman.

Citi's Head of FX Quant Investor Solutions, Kristjan Kasikov, mengatakan pasar selama ini cenderung meremehkan dampak jangka panjang dari kenaikan harga komoditas. “Para pelaku pasar memperkirakan kenaikan harga komoditas ini bersifat sementara, namun hal ini patut diperhatikan,” katanya.

Indonesia Berpotensi Ikut Terdampak

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Harga Minyak Anjlok, Harapan Damai AS-Iran Bangkit

Harga Minyak Naik, Purbaya Rem Tambahan Anggaran K/L dan Daerah

2 Faktor yang Bikin IHSG Ambles Hari Ini

Harga Minyak Tembus US$ 100, Konflik Timur Tengah Kian Memanas

Wall Street Ambruk, Dihantam Lonjakan Harga Minyak dan Saham AI

National 8 menit yang lalu Anggarkan Rp 48,1 Miliar, Pemprov Siap Bangun SDN 09 Kebayoran Lama yang Mangkrak Gubernur Jakarta Pramono Anung menargetkan pembangunan kembali SDN 09 Kebayoran Lama dimulai paling lambat September 2026.

Market 10 menit yang lalu Dividen Bank Central Asia (BBCA) Investor menanti-nanti laporan keuangan Bank Central Asia (BBCA) untuk semester I-2026.

Market 28 menit yang lalu Bukit Asam (PTBA) Menyala Kinerja emiten batu baru pelat merah, PT Bukit Asam Tbk (PTBA), berpotensi menyala di sepanjang periode 2026. Apa saja sentimen positifnya?

Market 30 menit yang lalu Harga Emas Antam (ANTM), UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian, Sabtu 25 Juli 2026 Harga emas Antam (ANTM), UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian hari ini, Sabtu (25/7/2025). Cek update lengkapnya

Market 53 menit yang lalu Pakar Bilang Harga Emas Bisa Melonjak Segini Pakar memprediksi harga emas berpeluang melonjak ke level ini seiring lonjakan utang AS dan menguatnya pembelian bank-bank sentral global.

Market 1 jam yang lalu Taipan di Balik Rights Issue Puluhan Triliun Fortune Indonesia (FORU) memperoleh restu rights issue jumbo.

Tag Terpopuler

Terpopuler

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 24 Juli 2026: Ambrol Laporan Keuangan Bumi Resources (BUMI) Disorot Prediksi Harga Emas Antam (ANTM) Jumat 24 Juli 2026

Penulis : Prisma Ardianto 24 Jul 2026 | 21:04 WIB

Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi tahunan meningkat menjadi 3,34% pada Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan 3,08% pada bulan sebelumnya. Angka tersebut masih berada dalam kisaran target pemerintah sebesar 2,5% ± 1%, namun menunjukkan tekanan harga mulai meningkat.

Perusahaan analitik Kpler memperkirakan sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di jalur tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga pangan global, terutama bagi negara berkembang yang bergantung pada impor energi dan bahan baku. Indonesia tentu masuk dalam kriteria ini, mengingat ketergantungannya terhadap impor BBM, minyak olahan, kedelai, dan lainnya.

Tekanan inflasi juga berpotensi diperburuk oleh fenomena El Niño yang diperkirakan memengaruhi produksi pangan tahun ini.

Meningkatnya risiko inflasi membuat pelaku pasar kembali memperkirakan bank sentral akan melanjutkan kebijakan moneter ketat. Pasar memperkirakan Bank Sentral Eropa (ECB) masih akan menaikkan suku bunga sekitar dua kali masing-masing 25 basis poin hingga akhir tahun, meski pada pertemuan terakhir mempertahankan suku bunga acuan.

Di Amerika Serikat, ekspektasi kenaikan suku bunga juga kembali meningkat setelah sebelumnya mereda menyusul rilis data inflasi Juni. Pasar kini memperkirakan Federal Reserve masih berpotensi menaikkan suku bunga dua kali hingga Januari mendatang.

Di Indonesia, kekhawatiran terhadap inflasi dan pelemahan nilai tukar rupiah telah mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% pada Mei dan Juni. Meski demikian, pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Juli, pada Rabu, memberikan sinyal yang cenderung netral terkait langkah selanjutnya, dengan menekankan bahwa pemberian insentif lebih mujarab dibandingkan menaikkan suku bunga.

Beberapa ekonom melihat BI memang perlu menahan lebih dulu BI-Rate, sembari memantau perkembangan inflasi. Tapi pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini membuat pilihan bank sentral lebih terbatas. Salah satu ekonom bahkan menyebut BI perlu lebih agresif terkait suku bunga, dengan proyeksi BI-Rate dapat naik hingga 100 bps menjadi 6,75% di akhir tahun ini.

Tantangan terbesar bagi pembuat kebijakan, terutama di negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia dan kawasan euro, adalah kenaikan suku bunga memang dapat meredam inflasi, tetapi juga berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Terlebih, risiko perlambatan ekonomi global juga semakin meningkat. Pekan lalu, Kepala Ekonom Bank Dunia memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi global hingga hanya 1,3%, turun dari 2,9% pada tahun sebelumnya. Bank Indonesia sendiri telah memangkas proyeksi ekonomi global menjadi sebesar 3,0%.

Negara-negara Eropa diperkirakan menjadi kawasan yang paling rentan. Namun, negara-negara Asia, terutama di Asia Selatan dan Asia Tenggara, juga diperkirakan menghadapi tekanan besar karena sebagian besar kebutuhan minyaknya dipasok dari kawasan Teluk.

Jepang, misalnya, masih mampu memenuhi kebutuhan energi, tetapi pelemahan yen ke level terendah dalam empat dekade terhadap dolar AS membuat biaya impor melonjak ke rekor tertinggi dan semakin mendorong inflasi domestik. Kondisi tersebut memiliki kemiripan dengan Indonesia yang hingga kini masih berstatus sebagai importir bersih minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) olahan.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed