Komedian Temon Meninggal Dunia Akibat Serangan Jantung di Jakarta
Komedian Temon dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami serangan jantung pada Minggu (12/7/2026) pagi di Jakarta setelah sempat mengeluhkan nyeri pada bagian dada secara mendadak.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi oleh sang istri, Keenam Mae, yang menyatakan bahwa suaminya tidak menunjukkan tanda-tanda sakit atau keluhan kesehatan sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Detik Hot.
Sebelum beristirahat pada Sabtu (11/7) malam, almarhum masih sempat berbincang santai dengan istrinya yang baru saja pulang dari beraktivitas olahraga bulu tangkis.
"Memang kalau saya belum pulang dia biasanya belum tidur. Pas udah selesai, udah tuh dia tidur. 'Besok ada bola nih', dia bilang gitu," ujar Mae di GPIB Effatha, Jakarta Selatan, Minggu (12/7/2026).
Keesokan harinya, Temon terbangun sekitar pukul 06.00 WIB meskipun pertandingan sepak bola yang ingin disaksikannya sudah dimulai sejak pukul 04.00 WIB karena sang istri sengaja membiarkannya beristirahat.
"Tadi pagi dia bangun jam 6, padahal pertandingannya mulai jam 4. Tapi jam 4 itu dia nggak bangun dan saya sengaja memang nggak bangunin karena saya pengin dia istirahat karena jam 10 harusnya dia ada acara hari Minggu," kata Mae.
Setelah bangun tidur, almarhum sempat menanyakan hasil pertandingan sepak bola tersebut dan menonton televisi dengan ditemani oleh anaknya sewaktu sang istri membuka warung.
"Jam 6 dia bangun, 'Ini baru 1-1 nih', dia bilang gitu. Saya bilang, 'Udah habis kali, orang ini udah jam 6, mulainya jam 4'. Ya udah saya setelin TV-nya.
Saya tinggal karena saya buka warung di depan. Dia nonton ditemenin sama anak saya. Ya udah gitu aja,enggak ada omongan sakit, nggak ada omongan apa-apa.
Pas kita mau sarapan, dia baru ngeluh sakit," tutur Mae.
Kondisi kesehatan Temon menurun sesaat sebelum menyantap sarapan pagi, di mana almarhum hanya sempat meminum teh hangat lalu mengeluhkan nyeri dada yang hebat.
"Belum, baru minum teh hangat doang. Minta roti juga belum sempat saya bikinin. Pas dia keluar, udah langsung ngeluh sakit di dadanya.
Minum teh sedikit, saya tanya, 'Udah mendingan nggak? Kita ke rumah sakit'. Kalau udah ngeluh, berarti dia emang udah nggak bisa nahan sakitnya," ujar Mae.
Saat hendak dibawa menuju ke rumah sakit menggunakan mobil, Temon diketahui masih mampu berjalan sendiri dengan bersandar pada sang istri.
"Almarhum jalan sendiri, cuma pegangan sama saya. Masuk ke mobil pun nggak ada yang sulit, biasa aja. Ngomong pun biasa, cuma ya memang nahan sakit di dada sama di kepala.
Saya pijitin, saya bawain minyak angin. Nggak ada ngeluh gimana-gimana, cuma kasih tahu suruh hubungin ini dan itu, ada satu orang yang dia udah ada janji. Saya bilang, 'Nggak usah mikirin kayak gitu, fokus Abangnya sembuh aja, acara masih lama'," kenang Mae.
Di mata keluarga, mendiang Temon dikenal sebagai sosok suami sekaligus ayah yang senantiasa menghadirkan suasana penuh tawa di dalam rumah tangga mereka.
"Buat saya sama anak saya, mungkin orang tahunya Mas Temon itu gimana, tapi kalau buat saya dia selalu bisa bikin saya ketawa. Sekesel apa pun saya, dengan omongan dia sedikit pun pasti udah bikin saya ketawa," ucap Mae.
Pertemuan Mae dengan Temon terjadi sejak dirinya berusia 18 tahun saat almarhum masih berprofesi sebagai seorang penyiar radio.
"Dia suami yang hebat. Walaupun di mata orang lain pendapatnya banyak, tapi buat saya dia selalu ada. Buat dia, sebuah kebahagiaan kalau melihat saya bisa ketawa. Sama anaknya juga dia ngajarin komedi... mudah-mudahan dia tenang," tutup Mae.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow