Ketua The Fed Kevin Warsh Sinyalikan Potensi Kenaikan Suku Bunga AS
Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa bank sentral Amerika Serikat berpotensi menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi yang masih dianggap sebagai risiko serius, seperti dilaporkan pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Menurut data CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan September kini mencapai sekitar 58%, naik dari 35% pada dua hari sebelumnya.
Pernyataan Warsh langsung mendorong imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS, terutama tenor jangka pendek, serta menekan pasar saham, meski penurunan pada indeks saham utama AS terbilang moderat.
Ketua The Fed ini menyatakan bahwa bank sentral mungkin masih perlu "berusaha lebih keras" untuk menekan inflasi ke target yang diinginkan.
"Kita harus yakin bahwa inflasi dasar bergerak menuju target kita, secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Jika tidak, kita masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Itulah tugas kita mandat kita, dan tanggung jawab yang harus kita emban," ujar Kevin Warsh, dikutip dari Liputan6.com.
Respons pasar saham cukup terbatas dengan Dow Jones turun kurang dari 0,1%, S&P 500 melemah 0,2%, dan Nasdaq terkoreksi 0,5%. Namun, pasar obligasi mengalami gejolak lebih signifikan.
George Catrambone, Kepala Divisi Pendapatan Tetap Amerika di DWS, menilai pernyataan Warsh menempatkan The Fed dalam posisi sulit karena pasar akan menekan kenaikan suku bunga meskipun kondisi ekonomi belum jelas membutuhkannya.
"Pada dasarnya Anda telah memberi sinyal kepada pasar bahwa The Fed kurang lebih akan menaikkan suku bunga. Saya hanya tidak yakin bahwa ketika data masuk, hal itu akan terjadi," kata George Catrambone.
Dia memperingatkan bahwa kenaikan bunga dapat menekan perekonomian saat konsumen mulai melemah, sementara jika tidak ada kenaikan, pasar obligasi jangka panjang dapat kembali mengalami aksi jual karena keraguan terhadap kredibilitas pengendalian inflasi The Fed.
Langkah pemerintah AS menggandakan pembelian obligasi pemerintah jangka panjang melalui program buyback juga menjadi upaya menekan yield obligasi yang melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Menteri Keuangan Scott Bessent menyatakan program buyback ini bertujuan untuk menstabilkan pasar obligasi yang tidak mencerminkan fundamental ekonomi AS.
Pasar saham juga menunjukkan tekanan pada saham-saham yang sensitif terhadap kondisi ekonomi seperti indeks Russell 2000 yang turun 1,4% dan sektor industri S&P 500 yang melemah 1%.
Tony Parish, Kepala Investasi Alphastar Capital Management, menilai pernyataan Warsh masih meninggalkan ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed.
"Warsh meninggalkan banyak hal dalam ketidakpastian. Jika ada perubahan dalam kepastian, itu mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga yang tidak disukai pasar," ujar Tony Parish.
Sementara itu, pasar kripto juga terdampak oleh sinyal ketatnya kebijakan suku bunga The Fed, dengan harga Bitcoin turun di bawah USD 80.000 pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Jasper De Maere, pedagang OTC Wintermute, menyatakan bahwa meskipun ada kecenderungan agresif dari Warsh, pasar kripto masih mencerna situasi tersebut dengan relatif baik.
"Meskipun ada sedikit kecenderungan agresif dari Warsh, pasar mencerna semua ini dengan relatif baik sejauh ini. Bagi saya, pidato tersebut sesuai dengan ekspektasi," ujar Jasper De Maere.
Namun, harga Bitcoin mengalami penurunan sekitar 4 persen menjadi USD 76.871 setelah sempat mencapai level lebih tinggi di awal bulan ini.
Mostafa Al-Mashita, salah satu pendiri Secure Digital Markets, mengingatkan pentingnya rata-rata pergerakan 50 minggu sebagai indikator kesehatan pasar kripto dalam jangka panjang.
"Dari sini semuanya bergantung pada rata-rata pergerakan 50 minggu, rata-rata tersebut perlu bertahan pada penutupan mingguan agar struktur bullish tetap utuh, dan altcoin adalah ekspresi beta yang lebih tinggi dari pengujian yang sama," ujar Mostafa Al-Mashita.
Dalam konteks pasar saham AS, investor menantikan data ekonomi dan hasil pertemuan The Fed berikutnya yang dijadwalkan pada 16 September 2026 untuk menentukan arah kebijakan suku bunga lebih lanjut.
Kristian Kerr, Kepala Strategi Makro LPL Financial, mengatakan pernyataan Warsh belum memberikan kepastian yang jelas.
"Masih ada unsur mencoba memahami (Warsh). Itu akan berlanjut untuk sementara waktu," ujar Kristian Kerr.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow