Indeks Wall Street Melemah, S&P 500 Catat Kenaikan Mingguan Ketiga

Smallest Font
Largest Font

Indeks-indeks Wall Street melemah pada perdagangan Jumat (14/8/2026), namun S&P 500 mencatat kenaikan mingguan ketiga berturut-turut setelah data inflasi AS yang meredakan tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga, dilansir dari Investor Daily.

Indeks S&P 500 turun 0,2% ke level 7.785,76, Nasdaq Composite melemah 0,3% menjadi 26.729,16, dan Dow Jones Industrial Average turun 107,58 poin (0,2%) ke 53.732,41.

Meski terkoreksi pada perdagangan terakhir pekan ini, S&P 500 menguat 0,4% sepanjang pekan, sedangkan Nasdaq naik 0,1%. Sebaliknya, Dow Jones turun 0,6% secara mingguan.

Pada Kamis (13/8/2026), S&P 500 menembus level 7.800 untuk pertama kalinya dan mencetak rekor intraday sepanjang masa di 7.816,70, setelah sebelumnya mencatat rekor penutupan pada Rabu (12/8/2026).

CEO Infrastructure Capital Advisors Jay Hatfield menilai pelemahan pada Jumat sebagai fase konsolidasi setelah penguatan berturut-turut pasca data inflasi AS yang relatif jinak.

"Pelemahan ini merupakan fase konsolidasi setelah penguatan berturut-turut yang terjadi menyusul data inflasi AS yang relatif jinak," ujar Hatfield.

Lebih dari 90% perusahaan S&P 500 telah melaporkan kinerja kuartal II dengan pertumbuhan laba sekitar 50% dibandingkan tahun lalu, menurut data FactSet.

Hatfield memperkirakan S&P 500 bisa mencapai 8.100 pada akhir tahun jika pertumbuhan laba bertahan, harga minyak tetap di atas US$ 80 per barel akibat penutupan Selat Hormuz, dan The Fed mempertahankan suku bunga.

Sementara itu, data penjualan ritel Juli menunjukkan penurunan tak terduga dan kepercayaan konsumen merosot pada Agustus, berbalik dari tren perbaikan sebelumnya.

Analis investasi eToro AS Bret Kenwell mengatakan satu bulan lemahnya belanja konsumen belum cukup menyimpulkan perlambatan tajam ekonomi AS.

"Satu bulan lemahnya belanja konsumen belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi AS berada di ambang perlambatan tajam," ujar Kenwell.

Namun, jika digabungkan dengan data PDB dan lapangan kerja yang mengecewakan serta inflasi sesuai ekspektasi, pelemahan ekonomi ini harusnya mengurangi tekanan The Fed menaikkan suku bunga.

"Ditambah data inflasi yang sesuai ekspektasi, pelemahan ekonomi tersebut seharusnya mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk menaikkan suku bunga," jelas Kenwell.

Kenwell mengingatkan investor untuk berhati-hati karena pelemahan ekonomi adalah konsekuensi mahal untuk menghindari kenaikan suku bunga kecil.

"Pelemahan ekonomi merupakan konsekuensi yang mahal jika hanya untuk menghindari kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin," kata Kenwell.

Meski pasar saham cenderung mengabaikan kekhawatiran tersebut, kinerja laba perusahaan masih menunjukkan ketahanan.

Menurut Kenwell, daya beli konsumen perlu dipertahankan agar ekonomi AS tetap tangguh.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed