IHSG Anjlok Ke Level 6.405 Imbas Sentimen Domestik dan Global

Smallest Font
Largest Font

Indeks Harga Saham Gabungan ditutup anjlok 1,48 persen atau 95,98 poin ke posisi 6.405,69 pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Penurunan ini dipicu oleh sikap hati-hati para pelaku pasar terhadap rencana aksi unjuk rasa di dalam negeri serta kekhawatiran terkait data inflasi Amerika Serikat.

Laju IHSG bergerak di teritori negatif sepanjang hari setelah dibuka pada level 6.507,14 dan sempat menyentuh posisi tertinggi di 6.532,17. Sebanyak 599 saham melemah, 136 saham menguat, dan 228 saham stagnan dengan total nilai transaksi mencapai Rp18,06 triliun dari 2,49 juta kali transaksi.

Seluruh sektor saham berakhir di zona merah dengan penurunan terdalam dicatat oleh sektor transportasi dan logistik yang merosot 4,04 persen. Sektor utilitas turun 2,98 persen, sektor energi terkoreksi 2,40 persen, dan sektor properti melemah 2,35 persen.

Tekanan utama terhadap indeks berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI). Meskipun demikian, investor asing tetap mencatatkan beli bersih sebesar Rp1,37 triliun di seluruh pasar.

Sikap waspada investor domestik dipengaruhi oleh agenda unjuk rasa di depan gedung DPR/MPR RI terkait tuntutan pengesahan RUU Perampasan Aset, serta proses uji kelayakan calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memberikan pandangannya terkait fokus perhatian para pelaku pasar saat ini.

"Perhatian pasar tertuju pada stabilitas keamanan nasional serta faktor fundamental ekonomi makro. Pelaku pasar berharap aksi demonstrasi berjalan damai, sehingga stabilitas keamanan dalam negeri terjaga," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.

Nico juga menyoroti pentingnya agenda uji kelayakan calon kepemimpinan BI bagi iklim investasi nasional.

"Pelaku pasar menanti pandangan nakhoda baru Gubernur BI terkait arah kebijakan moneter, pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta strategi menjaga arus modal asing," ujar Nico.

Pasar keuangan global turut memengaruhi pergerakan domestik setelah rilis data indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat menunjukkan inflasi yang masih tinggi. Situasi ini memicu pelemahan pada bursa saham Wall Street seperti indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq Composite.

Namun, tekanan inflasi global sedikit teredam oleh penurunan harga minyak dunia jenis Brent dan WTI. Hal ini terjadi setelah munculnya wacana pembentukan koridor transit sementara di Selat Hormuz antara Iran dan Oman untuk menjaga kelancaran pasokan energi dunia.

Di pasar valuta asing domestik, nilai tukar rupiah berhasil menguat tipis 0,06 persen ke level Rp17.695 per dolar AS. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah (SBN) tenor 10 tahun naik 3,7 basis poin menjadi 7,078 persen yang mengindikasikan adanya aksi jual oleh investor.

Untuk perdagangan Kamis (27/8/2026), pergerakan IHSG diperkirakan masih diwarnai hasil uji kelayakan pimpinan BI serta pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada simposium tahunan di Jackson Hole.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed