GIK Gelar Pameran Imersif Purwacarita Borobudur Berbasis AI

Smallest Font
Largest Font

Galeri Indonesia Kaya menggelar pameran imersif Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa di Grand Indonesia, Jakarta, mulai Selasa, 1 September 2026. Eksibisi interaktif berbasis kecerdasan buatan terukur ini menyajikan delapan fitur sejarah yang dapat diakses pengunjung secara gratis, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian, menyampaikan bahwa pemanfaatan teknologi bertujuan mendekatkan rekam jejak masa lalu kepada generasi muda. Pihaknya merancang pameran tersebut hingga Desember 2026 dengan kemungkinan perpanjangan masa tayang sesuai respons publik.

"Melalui Purwacarita Borobudur, kami menghadirkan kembali kisah dan sejarah Borobudur melalui pengalaman imersif berbasis Ethical AI dan kolaborasi lintas disiplin," ujar Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.

Inisiatif ini memadukan ruang visual interaktif serta penjelajahan rute peziarah kuno agar nilai sejarah dapat dipelajari secara langsung.

"Kami ingin sejarah tidak hanya dipelajari, tetapi juga dapat dirasakan dan dieksplorasi dengan cara yang lebih dekat dengan generasi masa kini," kata Renitasari Adrian, Program Director Galeri Indonesia Kaya.

Proyek hasil kolaborasi bersama Curaweda dan Bening Digital Indonesia ini mengaitkan materi visual dengan riset akademik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada serta Museum dan Cagar Budaya. Sumber data primer merujuk pada Prasasti Karangtengah tahun 824 Masehi dan Prasasti Tri Tepusan tahun 842 Masehi.

Founder dan CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, menegaskan bahwa penerapan sistem kecerdasan buatan difungsikan murni sebagai sarana visualisasi, tanpa mengubah fakta historis yang telah divalidasi para ahli.

"Bagi kami di Curaweda, teknologi bukanlah tujuan akhir. AI kami perlakukan sebagai kuas, sementara kanvasnya tetap fakta sejarah yang telah divalidasi para ahli," kata Azhar Muhammad Fuad, Founder dan CEO Curaweda.

Dukungan akademis juga disampaikan oleh pihak kurator yang menekankan pentingnya kepatuhan teknologi terhadap metodologi sejarah.

"Setiap narasi, karakter, busana, artefak, dan elemen visual yang ditampilkan perlu ditelusuri dan divalidasi berdasarkan sumber sejarah yang relevan," ujar Dr. Sri Margana, Kurator dari Departemen Sejarah FIB UGM.

Validasi ketat diterapkan agar pemanfaatan media digital tetap berada dalam koridor disiplin ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Bagi kami, teknologi digital memiliki potensi besar untuk mendekatkan sejarah kepada publik, selama teknologi mengikuti disiplin sejarah, bukan sejarah yang mengikuti tuntutan teknologi," kata Dr. Sri Margana, Kurator dari Departemen Sejarah FIB UGM.

Pengembangan konten pameran turut melibatkan proses riset lapangan menyeluruh guna memastikan akurasi artefak dan arsitektur yang ditampilkan.

"Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa AI tidak harus berjarak dengan fakta. Dengan proses kreatif yang teliti, konsep yang matang, riset lapangan, serta validasi dari para ahli dan kurator, teknologi dapat digunakan secara bertanggung jawab untuk menghadirkan sejarah dan budaya Indonesia dalam bentuk yang lebih relevan bagi generasi masa kini," ujar Lia Marliana, President Director Bening Digital Indonesia.

Rangkaian sajian mencakup fitur Sapa Borobudur, Karmawibhangga dan Avadana, Batu Carita, Mandala, Jelajah Borobudur, Buku Carita, Harmoni Borobudur, hingga penayangan film pendek Asal Mula Borobudur di Auditorium GIK.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed