Empat Emiten Bersiap Galang Modal di Semester II 2026
Sebanyak empat emiten tercatat siap menghimpun dana segar melalui aksi korporasi penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu maupun rights issue pada semester kedua tahun 2026. Empat emiten yang berencana melakukan penggalangan dana tersebut meliputi PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP), PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX), PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). Aksi korporasi pertama datang dari PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) di sektor properti yang berencana merilis maksimal 502,86 juta saham seri B bernilai nominal Rp100 per saham lewat mekanisme private placement.
Jumlah penawaran BIPP tersebut setara dengan maksimal 10 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh, di mana agenda ini bakal dimintakan persetujuan dalam RUPSLB pada 25 September 2026.
"Bilamana PMTHMETD ini dilaksanakan maka pemegang saham Perseroan akan terkena dilusi kepemilikannya sebanyak-banyaknya 9,09%," tulis manajemen BIPP dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Manajemen BIPP mengalokasikan seluruh dana perolehan aksi modal ini untuk kebutuhan pengembangan usaha serta penambahan modal kerja perseroan.
Langkah penambahan modal berskala besar juga diambil oleh emiten teknologi PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX) melalui penerbitan maksimal 12,39 miliar saham baru bernilai nominal Rp15 per saham lewat rights issue. Aksi rights issue IRSX ini turut dibarengi dengan penerbitan sebanyak-banyaknya 1,85 miliar waran seri II dengan rasio 100 saham baru berhak atas 15 waran seri II.
Pemegang saham IRSX yang memilih tidak mengeksekusi haknya dalam aksi korporasi penambahan modal ini berpotensi menghadapi risiko dilusi kepemilikan saham hingga setinggi-tingginya 66,67 persen. Pihak perseroan memproyeksikan seluruh perolehan dana rights issue untuk membiayai belanja modal maupun operasional, sementara penerimaan dari waran seri II dialokasikan penuh sebagai modal kerja. "Sedangkan dana hasil pelaksanaan waran seri II akan digunakan perseroan untuk pengembangan usaha dalam bentuk modal kerja (opex)," tulis manajemen IRSX.
Di sektor perbankan, PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) menyiapkan rencana rights issue sebanyak-banyaknya 2,87 miliar saham baru bernilai nominal Rp100 per saham, atau setara 15,88 persen modal disetor.
Pelaksanaan PMHMETD IV BMAS ini berpotensi mendilusi kepemilikan pemegang saham yang tidak mengoperasikan haknya maksimal 13,71 persen, di mana persetujuan RUPSLB bakal digelar pada 27 Agustus 2026. Sementara itu, emiten PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) menjadwalkan RUPSLB pada 8 September 2026 untuk memohon persetujuan private placement maksimal 271,5 juta saham baru dengan tenggat eksekusi dua tahun. Dana perolehan RATU ditujukan bagi modal kerja grup, biaya operasional, hingga ekspansi usaha, dengan penetapan harga pelaksanaan mengacu pada Peraturan BEI Nomor I-A dan potensi dilusi kepemilikan saham eksisting sebesar 9,09 persen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow