Negara ASEAN Perkuat Integrasi Ekonomi Hadapi Fragmentasi Global

Smallest Font
Largest Font

Negara-negara anggota ASEAN memilih memperdalam integrasi ekonomi kawasan guna merespons persaingan geopolitik dan gelombang proteksionisme global pada konferensi bisnis di Singapura, Kamis (31/7/2026). Langkah strategis tersebut diambil di tengah ancaman fragmentasi geoekonomi yang dinilai dapat mengganggu rantai pasok serta stabilitas pertumbuhan lima ekonomi berkembang utama di kawasan tersebut. Deputi Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong menegaskan bahwa soliditas kawasan terbentuk dari pengalaman bersama saat menghadapi berbagai krisis, termasuk pandemi Covid-19 dan penerapan tarif global.

"Dunia sedang terpecah dan mengalami fragmentasi, tetapi pada saat yang sama, ASEAN justru semakin terintegrasi," kata Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong.

Fondasi utama dari kemampuan integrasi dan sentralitas kawasan ini disebut berakar pada rasa saling percaya yang terbangun antarnegara anggota. "Karena kita telah melalui banyak krisis bersama, dan dalam setiap krisis kita mampu mengatasinya serta bekerja sama, hal itu memperdalam rasa percaya di antara anggota ASEAN," kata Gan Kim Yong.

Pemerintah di kawasan kini tengah bersiap mengimplementasikan Perjanjian Ekonomi Digital (DEFA) pada 2027 untuk mempermudah operasional bisnis lintas negara. "Jangan menunggu model yang sempurna karena teknologi akan terus berkembang," kata John Kain, Pemimpin Pengembangan Bisnis dan Pasar Global Industri Jasa Keuangan Amazon Web Services.

Adopsi teknologi canggih seperti kecerdasan buatan dinilai menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi kawasan ke depan. "AI benar-benar bukan sekadar cerita teknologi. Ini adalah cerita pertumbuhan ekonomi dalam hal dampak bisnis," kata Edmund Leong, Kepala Perbankan Korporat UOB. Sektor energi juga menjadi fokus perhatian menyusul gangguan pasokan serta lonjakan harga minyak dan gas akibat konflik di Timur Tengah.

"Sekarang, lebih dari sebelumnya, adalah saatnya bagi kita untuk bertanya bagaimana kita berinvestasi untuk pertumbuhan, tetapi dengan sudut pandang ketahanan sebagai pertimbangan utama," kata Aw Kah Peng, Chairman Shell Companies di Singapura.

Kawasan Asia Tenggara saat ini mencakup 10 persen populasi dunia, namun konsumsi energinya baru mencapai 50 hingga 60 persen dari tingkat Uni Eropa. "Volatilitas ini sangat nyata. Tidak ada yang tahu kapan situasi akan stabil atau menyelesaikan dirinya sendiri. Jadi, volatilitas akan tetap ada," kata Aw Kah Peng.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed