APPBI perkirakan harga barang pusat belanja naik mulai kuartal IV 2026
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia memperkirakan harga barang di pusat perbelanjaan berpotensi meningkat mulai kuartal IV 2026. APPBI menyebut kenaikan biaya produksi mulai tercermin pada stok barang baru, termasuk dampak energi, logistik, dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan pelaku usaha akan memproduksi stok baru memakai bahan baku yang harganya sudah meningkat. Ia menyebut energi, biaya logistik, serta harga bahan baku mengalami kenaikan yang kemudian ikut mendorong harga barang.
"Nah, stok-stok barang ini, dalam jumlah banyak ini akan diproduksi dari bahan baku yang harganya sudah naik. Ya, kan sekarang ini harga energi naik, biaya logistik naik, harga bahan baku naik," kata Alphonzus Widjaja, Ketua Umum APPBI.
Alphonzus menambahkan bahwa kenaikan biaya memengaruhi hampir seluruh kategori produk karena rantai pasok ikut terdampak. Kondisi tersebut berlaku baik untuk barang produksi dalam negeri maupun produk impor.
"Jadi, sebetulnya kami tetap berharap tidak ada kenaikan bahan baku, kenaikan biaya logistik, biaya energi dan sebagainya. Jadi sebetulnya kami tetap berharap pemerintah bisa segera mengatasi situasi ini sebelum triwulan IV 2026," ujar Alphonzus Widjaja, Ketua Umum APPBI.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, pelaku usaha ritel telah menyiapkan langkah antisipatif. APPBI menyebut strategi tersebut mencakup penggunaan bahan baku alternatif yang lebih efisien, menghadirkan produk dengan kemasan lebih kecil, serta memperbanyak program promosi dan diskon.
Di sisi lain, APPBI mendorong pemerintah memprioritaskan penguatan ekonomi domestik. Alphonzus menyatakan konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 57% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional perlu dijaga melalui iklim usaha yang kondusif dan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
"Saya kira mungkin yang perlu dilakukan adalah bagaimana pemerintah lebih fokus lagi. Khususnya untuk bisa mengatasi berbagai masalah tekanan di dalam negeri. Karena saya kira prioritas tetap harus diberikan kepada dalam negeri," imbuh Alphonzus Widjaja, Ketua Umum APPBI.
Perkiraan APPBI merujuk pada penyesuaian biaya produksi yang mulai terlihat pada stok barang baru, sementara pemerintah diminta mengendalikan faktor pendorong agar tekanan harga jual dapat diminimalkan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow