Aplikasi AI di Sektor Publik Terancam Bahaya Shadow AI

Smallest Font
Largest Font
Table of Contents
[ Show ]

Integrasi teknologi kecerdasan buatan dalam ranah pelayanan publik terus meluas, mencakup lembaga pemerintahan hingga sektor pendidikan. Pemanfaatannya mencakup tugas-tugas vital, seperti pemindaian fraud hingga validasi penerima bantuan sosial. Di balik percepatan adopsi tersebut, muncul ancaman serius terkait kesiapan tata kelola dan sistem IT.

Masalah ini memicu hadirnya fenomena shadow AI, sebagaimana dilansir dari Detik iNET. Laporan survei tahunan Enterprise Cloud Index edisi kedelapan dari Nutanix menyoroti hambatan besar pada sektor publik. Hambatan utama ini berakar dari minimnya pengawasan serta ketidaksiapan infrastruktur dasar.

Penggunaan sistem AI tanpa izin resmi dari departemen IT memicu celah keamanan yang berisiko. Pemimpin IT sektor publik kini menghadapi dilema antara percepatan efisiensi layanan dan perlindungan data sensitif.

Data riset Nutanix mencatat dua poin kritis terkait kondisi tersebut:

  • Sebanyak 91 persen pimpinan IT di lembaga pemerintah dan pendidikan menilai AI tak terverifikasi dapat mengancam misi serta keamanan organisasi.
  • Terdapat 73 persen infrastruktur IT sektor publik yang dianggap belum sanggup mengoperasikan beban kerja AI kompleks, terutama pada sistem lokal.

Ketimpangan fondasi IT menjadi pemicu utama timbulnya kendala ini. Banyak instansi terpaksa mengelola sistem legacy usang, private cloud, serta migrasi cloud modern secara simultan tanpa kontrol terpadu.

Pentingnya Penguatan Fondasi Tata Kelola

Kondisi operasional AI yang belum terverifikasi telah memunculkan tantangan tata kelola yang mendesak. Pembahasan di tingkat regional kini bergeser ke arah kesiapan eksekusi operasional. "Semakin meluasnya penggunaan AI yang belum terverifikasi, atau shadow AI, telah menjadi tantangan utama dalam aspek tata kelola di sektor publik. Di kawasan Asia-Pasifik dan Jepang, pembahasan kini telah bergeser dari sekadar ambisi mengadopsi AI menuju kesiapan operasional," kata Chief Technology Officer and VP of Solution Engineering APJ Nutanix, Daryush Ashjari.

Keberhasilan adopsi teknologi memerlukan fokus pada penguatan arsitektur dasar. Instansi diimbau untuk tidak sekadar mengejar pembaruan fitur semata. "Lebih lanjut, Daryush menegaskan bahwa organisasi yang sukses adalah mereka yang berhenti sekadar mengejar tren fitur AI baru, melainkan berfokus memperkuat fondasi infrastrukturnya terlebih dahulu.

Dengan memprioritaskan arsitektur yang aman dan berbasis kontainer, instansi dapat memanfaatkan AI dengan lebih percaya diri sekaligus menjaga kedaulatan data masyarakat," lanjutnya. Studi global Nutanix ECI ini melibatkan 1.600 eksekutif cloud, IT, dan engineering dari 14 negara pada November 2025. Hasil riset menegaskan bahwa modernisasi infrastruktur hybrid menjadi syarat mendesak bagi keberlanjutan sistem.

Follow achmadnurhidayat.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed