AKPY Melatih 150 Pekebun Sawit Wajo Hadapi Dampak El Nino
Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY), Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian menyelenggarakan pelatihan khusus bagi 150 pekebun sawit asal Kabupaten Wajo. Langkah ini diambil untuk menjaga produktivitas perkebunan di tengah tantangan cuaca ekstrem, seperti dilansir dari Investor Daily.
Para petani dibekali dengan berbagai strategi teknis, mulai dari pengelolaan air hingga efisiensi pemupukan. Keterampilan ini dinilai krusial agar pendapatan sektor perkebunan rakyat tetap stabil meskipun menghadapi fenomena alam yang kurang mendukung.
Direktur AKPY Sri Gunawan menjelaskan bahwa dinamika perubahan iklim menuntut para petani untuk memperbarui sistem pengelolaan kebun mereka. Langkah adaptasi sangat diperlukan demi mencegah penurunan hasil panen kelapa sawit secara drastis.
"Peningkatan produktivitas kebun sawit tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada kemampuan pekebun menerapkan teknik budi daya yang tepat, termasuk dalam menghadapi tantangan El Nino," ungkap dia.
Sri Gunawan memaparkan bahwa pemupukan harus disesuaikan secara cermat dengan iklim setempat. Proses pemupukan tidak disarankan saat curah hujan terlalu rendah ataupun terlalu tinggi agar nutrisi tidak menguap atau terbuang sia-sia.
Selain masalah pemupukan, pemantauan terhadap organisme pengganggu tanaman juga menjadi fokus utama. Petani diimbau untuk lebih aktif memeriksa kondisi lapangan secara berkala guna mengantisipasi serangan hama sejak awal.
"Jangan hanya datang ke kebun saat panen. Pengamatan rutin oleh pekebun sangat penting agar serangan hama bisa segera dikendalikan sehingga produktivitas sawit tetap stabil,” jelas dia.
Program yang bertajuk Pelatihan Teknis Budi Daya Kelapa Sawit Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 ini menitikberatkan pada keterampilan praktis. Seluruh materi diarahkan agar dapat segera dipraktikkan secara mandiri oleh peserta di kebun masing-masing.
Materi pembelajaran mencakup penyiapan lahan yang ideal, pemilihan bibit bersertifikat, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM), hingga perawatan kelapa sawit yang sudah berproduksi di tengah cuaca ekstrem.
Sri Gunawan berharap penerapan Good Agricultural Practices (GAP) melalui pelatihan ini mampu mendorong kenaikan produktivitas sekaligus memperbaiki taraf hidup ekonomi para petani.
“Kesempatan pelatihan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Harapan kami setelah kembali ke kebun, peserta dapat menerapkan seluruh materi yang diperoleh sehingga produktivitas tetap terjaga bahkan meningkat," ujar Sri Gunawan dalam keterangan yang dikutip Sabtu (18/07/2026).
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan Nurul Fitriany Alimuddin menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari peningkatan kualitas sumber daya manusia perkebunan daerah.
Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, BPDP tercatat telah memfasilitasi pelatihan serupa untuk 1.681 pekebun dan tenaga teknis di Sulawesi Selatan. Untuk wilayah Kabupaten Wajo sendiri, target kepesertaan mencapai 459 pekebun selama periode 2025-2026.
“Kami berharap materi yang diperoleh saat pelatihan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan di kebun masing-masing sehingga produksi sawit masyarakat dapat meningkat,” tandas dia.
Menurut Nurul, adopsi teknologi budi daya dan penggunaan bibit unggul bersertifikat menjadi kunci penting di lapangan. Penerapan hal tersebut akan meningkatkan rendemen serta mutu tandan buah segar (TBS) sawit, yang berdampak langsung pada nilai jual di tingkat petani.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo Andi Pamereni menambahkan, program ini menjadi instrumen strategis dalam mendongkrak daya saing kebun sawit milik rakyat.
Pemerintah Kabupaten Wajo meminta para alumni pelatihan tidak hanya menerapkan ilmu tersebut secara personal, tetapi juga mendistribusikan pengetahuan tersebut kepada sesama rekan pekebun di wilayah mereka.
Mengingat potensi pengembangan kelapa sawit di Wajo yang masih sangat terbuka luas, penguatan kompetensi para petani menjadi sebuah urgensi yang mendasar.
“Saya berharap pelatihan ini tidak hanya jadi kegiatan seremonial, tetapi mampu menghasilkan pekebun yang kompeten, menerapkan praktik budi daya yang baik, meningkatkan produktivitas, menjaga kelestarian lingkungan, dan menghasilkan usaha perkebunan yang berdaya saing,” kata dia.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow