AchmadNurHidayat.ID — Menjalankan usaha kuliner selama hampir lima dekade menuntut keseimbangan antara menjaga cita rasa warisan keluarga dan beradaptasi dengan perubahan ekonomi serta kebiasaan pelanggan.
Mumun, pemilik Warung Betawi H. Muhayar yang berdiri sejak 1976, mengungkapkan pengalaman itu saat ditemui di rumah makannya di Jakarta Selatan. Di tengah kenaikan biaya bahan baku dan pergeseran ke transaksi digital, ia mulai merapikan pengelolaan keuangan usahanya.
Pertahankan Kualitas di Tengah Kenaikan Harga
Menurut Mumun, tantangan utama bukan sekadar mempertahankan pelanggan, melainkan menjaga kualitas makanan saat biaya produksi meningkat.
“Kalau harga bahan naik, kami tidak langsung menaikkan harga jual. Biasanya margin keuntungan yang kami kurangi dulu. Yang penting usaha tetap berjalan dan pelanggan tetap datang,” kata Mumun.
Warung Betawi H. Muhayar terkenal dengan menu pecak gurame dan pecak ikan mas. Dalam sehari rumah makan itu mampu mengolah sekitar 30 kilogram ikan gurame untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Ia menegaskan bahwa resep dan bumbu warisan tetap dipertahankan. “Bumbu dari dulu sampai sekarang harus tetap sama. Itu pesan orang tua yang kami pegang sampai sekarang,” ujarnya.
Pemisahan Keuangan Usaha dan Pribadi
Sebelumnya Mumun mencampur keuangan usaha dan pribadi, sehingga pencatatan arus kas kurang tertata. Perubahannya datang saat ia mulai menggunakan layanan Saku Bisnis Bank Raya.
Dengan fitur itu, dana operasional, pembayaran pemasok, dan anggaran pengembangan usaha dipisah sehingga arus kas lebih mudah dipantau secara real time. Mumun menyatakan, “Dulu uang usaha sama uang pribadi masih tercampur. Setelah menggunakan Bank Raya, sekarang bisa dipisahkan sehingga lebih mudah mengatur keuangan usaha.”
Bank Raya, bagian dari BRI Group, menghadirkan Saku Bisnis sebagai solusi digital untuk membantu pelaku usaha mengelola keuangan tanpa mencampur dengan rekening pribadi dan mendukung transaksi sehari-hari dalam satu ekosistem digital.
Operasional Lebih Efisien
Digitalisasi turut mempermudah pengelolaan operasional Warung Betawi H. Muhayar yang memiliki sekitar 20 karyawan. Proses pembayaran gaji kini dilakukan melalui aplikasi Bank Raya.
“Kalau dulu harus membagikan uang satu per satu. Sekarang tinggal transfer ke masing-masing karyawan, jadi jauh lebih mudah,” kata Mumun.
Selain itu, transaksi pelanggan kini didominasi pemakaian QRIS Bisnis. Menurut Mumun, hampir semua pelanggan membayar lewat QRIS atau transfer, sehingga warung ikut menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Pemanfaatan QRIS mempercepat proses pembayaran, mengurangi penggunaan uang tunai, dan membantu pencatatan transaksi harian menjadi lebih tertata.
Alasan Memilih Layanan Bank Raya
Mumun memilih Bank Raya pada 2023 karena mencari solusi perbankan digital yang sesuai kebutuhan usaha, terutama layanan yang tidak membebani biaya administrasi besar.
Menurutnya, kemudahan transaksi digital dan struktur pengelolaan keuangan menjadi nilai tambah yang membantu operasional sehari-hari. Melalui Saku Bisnis, berbagai pos keuangan dapat diatur sesuai kebutuhan tanpa berpindah aplikasi, sehingga aktivitas usaha berjalan lebih efisien.
Tahan Banting Dengan Tradisi dan Digitalisasi
Bagi Mumun, keberhasilan Warung Betawi H. Muhayar yang bertahan puluhan tahun tak sekadar soal keuntungan, melainkan kemampuan mempertahankan pelanggan dalam jangka panjang.
Ia mendorong pelaku UMKM lain untuk mulai memanfaatkan layanan digital yang dapat membantu pengelolaan usaha. “Pelaku UMKM sebaiknya mencoba menggunakan Bank Raya karena banyak kemudahan yang diberikan untuk mendukung usaha,” ujarnya.
Pengalaman warung ini memperlihatkan bahwa mempertahankan tradisi tidak berarti menolak inovasi: resep turun-temurun tetap menjadi kekuatan, sementara pemisahan keuangan dan pembayaran digital menjadi fondasi untuk tata kelola usaha yang lebih rapi dan efisien.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
