AchmadNurHidayat.ID — Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang menutup Program Resiliensi untuk Industri Masa Depan (PRIMA) 2026 pada Jumat (3/7/2026) sebagai bagian dari upaya menyiapkan tenaga kerja lokal yang siap memasuki industri modern.
Manajemen mengatakan program itu dirancang untuk memastikan peserta matang secara mental, fisik, dan kompetensi sebelum bekerja di lantai produksi.
Plt Direktur Utama KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, menegaskan bahwa pendidikan kelas saja tidak cukup untuk menghadapi kebutuhan industri modern.
“Membangun kawasan industri adalah sebuah investasi. Namun, membangun manusia yang akan menghidupkan kawasan itulah warisan yang sesungguhnya,” kata Indri. “Melalui program PRIMA ini, kami merumuskan kurikulum berbasis kebutuhan nyata industri, dipadukan dengan praktik kerja lapangan yang menyentuh langsung realita operasional.”
Pelatihan Berbasis Industri dan Kunjungan Produksi
Program PRIMA 2026 berlangsung selama lima hari. Peserta mendapat mentoring dan pembelajaran langsung dari praktisi HR perusahaan yang beroperasi di kawasan, antara lain PT KCC Glass Indonesia, PT Wavin Manufacturing Indonesia, PT Unipack Plasindo, PT Yih Quan Footwear, PT Profinder Solusi Indonesia, dan PT Ace Medical Products.
Selain teori, peserta melakukan kunjungan produksi ke PT Unipack Plasindo, PT Trax Sumbiri, dan PT Wavin Manufacturing untuk melihat standar industri secara langsung.
Dukungan Pemerintah Daerah dan Dunia Pendidikan
Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Batang, Sri Purwaningsih, menyatakan dukungan pemerintah terhadap inisiatif yang dinilai membangun kapasitas sumber daya manusia lokal.
“Pemerintah Kabupaten Batang mendukung penuh program PRIMA ini. KEK Industropolis Batang tidak hanya membangun pabrik dan infrastruktur, tetapi secara nyata ikut membangun manusia,” ujar Sri.
Dia menambahkan bahwa dengan kompetensi dan mentalitas setara pekerja global, warga Batang tidak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan motor penggerak industri.
Kepala Seksi SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah XII Provinsi Jawa Tengah, Agus Nowo Edy, menyebut PRIMA 2026 sebagai lompatan metodologi bagi keterlibatan pendidikan vokasi dalam industri.
“Tahun ini terjadi lompatan besar, di mana 8 SMK dengan 160 peserta terlibat aktif, bahkan guru-guru pun ikut terjun langsung dalam kepanitiaan bersama HR para tenant. Ini adalah integrasi kurikulum vokasi yang sesungguhnya. Kami dari pihak provinsi melihat program ini sebagai standar emas baru nasional,” kata Agus.
Respon Industri dan Penyerapan Tenaga Kerja
PRIMA 2026 melibatkan dukungan Tim Jasa Psikologi Universitas Diponegoro dan pelatih kedisiplinan TNI dari PT Bintara Mitra Andalan. Pendekatan itu, menurut penyelenggara, menghasilkan dampak instan.
Beberapa tenant besar kawasan, termasuk PT Ace Medical Products dan PT Elecmental Longteng, disebut langsung menyerap ratusan lulusan SMK lokal setelah program selesai.
Pihak KEK menilai keberhasilan program memperkuat posisi Industropolis Batang sebagai magnet investasi masa depan Indonesia dengan menawarkan ekosistem investasi yang matang dan berkelanjutan.
Ikuti AchmadNurHidayat.ID
